Kelompok musik etnik Riau Rhythm menggelar pertunjukan di kawasan Candi Muara Takus, Kampar. Sebuah upaya “pulang” ke tanah asal setelah sekian tahun mengembara.
Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru
RIAU Rhythm seperti pulang ke rumah ketika mentas di kawasan Candi Muara Takus, 26 Oktober 2024 lalu. Dalam acara bertajuk Julang Budaya Kampar 2024 yang ditaja oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Dirjen Kebudayaan berkolaborasi dengan beberapa kelompok seni dan budaya, grup musik yang dikomandoi komposer Rino Dezapaty ini tampil di tanah yang penuh inspirasi ini.
Pemilihan Candi Muara Takus sebagai tempat untuk memanggungkan karya-karyanya ini adalah ide dari Riau Rhythm setelah berdiskusi dengan pelaksana acara, Sita Rohana, dari BPK Wilayah IV. Posisi Candi Muara Takus sangat penting dalam perkembangan sejarah Indonesia dan tapak kebudayaan.
“Kita mencoba untuk menggiring negara, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan yang baru dibentuk tahun ini, untuk dapat mengembangkan dan memelihara kawasan candi ini agar bisa lebih banyak dikunjungi masyarakat dan digali lebih dalam sejarah dan situsnya,” kata Rino kepada Riau Pos, pekan lalu.
Rino menjelaskan, pemilihan Candi Muara Takus juga berhubungan dengan karya masterpeace Riau Rhythm, yakni album Sound of Svarnadwipa. Untuk membuat album tersebut, dia dan personil Riau Rhythm melakukan riset selama lima tahun, 2007-2012. Proses penggarapannya juga perlu waktu lumayan lama, yakni dua tahun, 2013-2015.
Rino menyebutnya sebagai awal, di mana sebuah kerajaan tua dan besar hingga menguasai Asia Tenggara, yakni Sriwijaya, yang membangun sebuah peradaban di tanah Kampar, Riau. Candi itu menjadi tempat para pertapa hingga para pencari ajaran cinta kasih belajar agama di perguruan yang berhubungan dengan Nalanda (India) di Candi Muara Takus.
“Dengan sebutan Svarna, Suvarna, Swarna (emas), kemudian Dwipa, Duwipa (pulau) atau Pulau Emas, yang di masa kekuasaan itu sudah mengekspor rempah-rempah ke India, Cina, Rropa hingga Mesir (zaman Fir’aun, red). Di antaranya adalah kapur barus, madu, lada, dan lainnya,” jelas Rino.
Riau Rhythm mulai mencari konsep-konsep yang berkaitan dengan musik dan budaya melalui reka ulang instrumen gambang kayu dan calempong perunggu (gong matahari). Juga mengumpulkan narasumber sastra lisan untuk melakukan perekaman penuturan sejarah melalui syair dalam sastra lisan dan studi literasi buku Sriwijaya karya Prof Slamet Mulyana dan The Indianized States of Southeast Asia karya G Coedès. Juga catatan I-Tsing (I Ching), seorang pendeta yang datang dari Katon, Cina. Kedatangan pendeta itu masuk melalui semenanjung di Palembang, melewati sungai hingga menuju Muara Takus dan bertemu dengan Kwan Im, seorang putri menurut catatan perjalanannya.
Merekonstruksi sejarah melalui bunyi dilakukan Rino untuk mengangkat kembali bebunyian masa lampau yang sangat eksotik dan penuh dengan nilai-nilai budaya dan ketuhanan. Proses ini memakan waktu yang cukup lama karena sejarah tua ini memiliki keaslian yang hampir memudar seiring masuknya beberapa kebudayaan pada masa-masa pembaruan dan akulturasi semakin terasa di saat jalur-jalur perdagangan masuk.
“Menjaga nilai otentik inilah Riau Rhythm berfokus kepada instrumen gambang, calempong, sastra lisan, dan vokal tradisi di Kampar dan beberapa sebaran kekuasaan Muara Takus pada masa itu,” jelas lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.
Dalam helat ini, Riau Rhythm membuat program inkubasi untuk mencari bakat talenta muda dengan platform Generasi Pewaris Tradisi. Yang disasar adalah anak-anak usia 8-15 tahun, berjumlah 20 orang. Mereka bermain musik tradisi Kampar. Juga berkolaborasi dengan pelestari budaya senior Kampar, Salman Azis. Talenta-talenta muda ini, jelas Rino, diajarkan bagaimana musik ibu dan kebudayaan mereka tertanam dalam ruang auditif dan tunjuk ajar dalam nasihat sastra lisan untuk bekal mereka kelak dalam menghadapi globalisme. Program Generasi Pewaris Tradisi ini difasilitasi oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Kemendikbud. Sebanyak 20 orang anak tersebut berkolaborasi bersama Riau Rhythm dan Salman Azis di panggung Julang Budaya Kampar tersebut.
Dengan pertunjukan ini, kata Rino, Riau Rhythm ingin menunjukkan kepada pemerintah, baik Kampar, Riau, maupun Indonesia, bahwa Muara Takus penting dalam ekosistem budaya dan sejarah. Pemerintah mesti melihat Candi Muara Takus sebagai sebuah pusat peradaban tua dan kebudayaan di Indonesia. Dan juga potensi talenta anak-anak yang tergabung dalam Generasi Pewaris Tradisi program Riau Rhythm bisa berjalan mengangkat pewaris tradisi-tradisi masyarakat berikutnya. Mereka juga dibangun pikirannya untuk peduli kepada seni dan budaya bangsa yang sudah mulai tergerus dengan kekuatan industri musik global.
“Perlu waktu 10 tahun untuk bisa mementaskan hasil karya yang selesai digarap pada tahun 2014 tersebut. Dan tahun ini 2024 alhamdulillah bisa dipentaskan, di mana karya Sound of Suvarnadvipa kembali ke rumah besarnya,” jelasnya lagi.
Rino mengaku senang karena pertunjukan itu didukung oleh BPK Wilayah IV Dirjen Kebudayaan dan Direktorat PTLK memfasilitasi workshop Generasi Pewaris Tradisi talenta anak anak dan remaja. Pemkab Kampar sendiri membantu fasilitas yang dibutuhkan di lapangan dan itu hanya berurusan langsung dengan BPK Wilayah IV saja.
***
PERJALANAN Riau Rhythm dalam blantika musik yang membawa nyawa tradisi Melayu, sudah dikenal hingga mancanegara. Belakangan, selama dua tahun berturut-turut kelompok musik etnik ini melakukan tour di Amerika Serikat (AS). Pada Desember 2023, mereka melakukan tour dari Chicago di Old Town School, di New York pada Indonesian Street Fest dan di New Jersey dalam Global Music Series di Jersey City Theater Center (JCTC). Mereka memperkenalkan bagian lain dari Indonesia, yakni budaya Melayu Riau di Pulau Sumatra. Dalam tour tersebut Riau Rhythem membawa album ke-7, Sound of Suvarnadvipa.
Lalu, pada Juni 2024, mereka kembali lagi ke New Jersey di JCTC mempresentasikan album ke-8, Awang Menunggang Gelombang yang dirilis tahun 2020 dan sekaligus launching album ke-9 tahun 2024, Sound of Spice Routes Jalur Rempah. Kata Rino, AS merupakan pusat musik dunia. Dia dan seluruh personel sudah menanti 20 tahun untuk bisa manggung di negeri Paman Sam itu. Bukan hal yang mudah untuk sampai sejauh itu. Diawali mengirim dokumen karya pada tahun 2003. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya pentas dokumen dan contoh karya diterima yang membuat Riau Rhythm untuk pertama kali bisa mementaskan karya musik Melayu di AS.
Jelas Rino, capaian yang didapat Riau Rhythm lebih ke arah pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Sebagai komposer, dia tidak serta-merta mengangkat musik tradisi itu kedalam karya Riau Rhythm. Lebih tepatnya re-creating –melakukan kreasi ulang-- musik yang bersumber dari musik tradisi, ornamentasi, sastra lisan, dan pola-pola permainan instrumen musik tradisi. Mereka sudah mementaskan karya-karya dengan membawa nama Riau dan Indonesia ke beberapa negara. Selain di AS, sebelumnya mereka juga sudah mentas Australia, Spanyol, Portugal, India, Turki, Prancis, Singapura, Malaysia, Italia, Swiss dan tour Indonesia timur, Jawa dan dan beberapa provinsi di Sumatra.
“Semoga tahun depan rancangan tour Kalimantan bisa terlaksana,” ujarnya lagi.
Riau Rhythm sendiri berdiri pada tahun 2001 dan sudah tiga gelombang pergantian personel. Grup musik yang didirikan Rino Dezapaty ini sudah memiliki 9 album, salah satunya adalah Satelite of Zapin yang di anggap masterpiece karya Riau Rhythm. Kelompok mandiri yang manajerial diurus oleh kelompok ini sendiri, selalu merancang program-program sendiri dan berjejaring kepada siapa saja untuk memperkuat networking dalam pertunjukan dan promosi karya karya terbarunya.
Mereka yang hingga kini masih tunak di Riau Rhythm –setelah terjadi beberapa pergantian personel— adalah Rino Dezapaty (director composer), Violano Rupiyanto (program manager), Giring Fitrah (musisi), Viogy Rupiyanto (musisi), Refi Lesta Hakim (musisi), Hendri Faizal (musisi), dan Hafis Tysan (musisi).
Rino merasa senang dan berbangga karena grup musik yang didirikan dan dibesarkannya selama 23 tahun ini tunak membawa karya-karya bersumber budaya Melayu dan Indonesia ke dalam panggung-panggung pertunjukan, dan sudah 10 tahun belakangan masuk ke wilayah industri hilir, di mana digital platform menjadi ujung tombak publikasi ke seluruh negara. Dalam tontonan pertunjukannya, menurut lelaki berdarah Kampar ini, ada tuntunan tentang kebudayaan dan filosofi, nasihat dan tata cara kehidupan bersumber dari tradisi lisan yang ditampilkan melalui karya.
“Keinginan kami sangat kuat untuk membawa kebudayaan Melayu Riau ini ke seluruh panggung dunia. Namun karena kami masih menempuh jalan sunyi yang jauh dari hingar-bingar industri populer, terkadang mesti mencari pembiayaan sendiri untuk memenuhi permintaan pementasan dan workshop musik Melayu yang kami adakan,” ungkap Rino.
Dia berharap dukungan pemerintah daerah, dalam hal ini Pemprov Riau, karena pemerintah daerah diwajibkan mendukung kreativitas dalam upaya pemajuan kebudayaan, sebagaimana yang termaktub dalam UU Pemajuan Kebudayaan yang sudah disahkan oleh negara. Menurutnya, sudah saatnya kebudayaan dan kesenian menjadi salah satu pilar pembangunan daerah dan negara.
“Perhatian serius pemerintah sangat dibutuhkan membutuhkan semua seniman yang tentu punya keinginan membangun seni dan kebudayaan di daerah ini,” jelasnya lagi.***
Editor : RP Arif Oktafian