Ibrahim, Hajar, dan Ismail: Pelajaran Human-Centered Governance dari Sebuah Keluarga

Iduladha selalu datang bersama gema takbir, aroma masakan daging kurban, dan keramaian masyarakat yang saling berbagi. Namun, di balik seluruh suasana itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: Iduladha sesungguhnya bukan hanya tentang penyembelihan hewan, melainkan tentang bagaimana manusia belajar mengelola dirinya, keluarganya, dan kehidupan sosialnya dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah dunia modern yang semakin bising oleh perebutan kuasa, pencitraan, individualisme, dan kompetisi tanpa henti, kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS justru menghadirkan pelajaran yang terasa sangat relevan. Kisah itu bukan sekadar narasi spiritual yang dibacakan setiap menjelang Idul Adha, melainkan potret tentang keluarga yang mampu membangun ketahanan moral, relasi yang adil, pola pengasuhan yang sehat, dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Dalam bahasa administrasi publik kontemporer, pelajaran-pelajaran dari kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail dapat dibaca sebagai fondasi human-centered governance, yakni tata kelola kehidupan yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai, bukan sekadar objek pengaturan.
Gagasan ini berkembang dari kritik terhadap model pembangunan yang terlalu teknokratis dan birokratis, yang sering kali mengukur keberhasilan hanya melalui pertumbuhan ekonomi, efisiensi administratif, atau capaian statistik semata. Dalam berbagai diskursus pembangunan global, pendekatan human-centered mulai menguat sejak munculnya paradigma human development yang dipopulerkan Mahbub ul Haq sejak dekade 1990-an dan diperkuat oleh Amartya Sen melalui pendekatan capability approach dalam karya monumentalnya Development as Freedom (1999), yang menegaskan bahwa pembangunan seharusnya dipahami sebagai proses perluasan kebebasan, martabat, dan kemampuan manusia, bukan semata pertumbuhan material.
Dalam konteks tata kelola dan administrasi publik, orientasi yang menempatkan manusia sebagai inti kebijakan juga berkembang melalui paradigma New Public Service yang dikemukakan Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt dalam karya The New Public Service: Serving, Not Steering (2003).
Mereka menegaskan bahwa administrasi publik tidak seharusnya semata-mata berfokus pada pengendalian masyarakat melalui logika birokrasi, tetapi harus menempatkan warga sebagai manusia yang memiliki martabat, aspirasi, dan hak untuk dilayani secara bermakna. Pendekatan inilah yang kemudian memengaruhi berkembangnya diskursus human-centered governance dalam berbagai lembaga internasional seperti UNDP dan OECD yang menekankan pentingnya empati sosial, partisipasi warga, inklusi, dan keberpihakan terhadap kualitas hidup manusia dalam tata kelola publik.
Di titik inilah kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail menjadi sangat relevan untuk dibaca kembali. Keluarga ini memperlihatkan bahwa tata kelola kehidupan yang manusiawi tidak lahir dari dominasi dan kontrol semata, melainkan dari dialog, kepercayaan, pengorbanan, empati, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu dalam keluarga. Dalam dunia modern yang semakin cepat, kompetitif, dan sering kehilangan ruang refleksi, kisah keluarga Ibrahim menghadirkan pelajaran penting bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi angka, objek kebijakan, atau instrumen kekuasaan belaka.
Kita hidup pada masa ketika banyak orang berhasil secara material, tetapi rapuh secara emosional. Banyak keluarga tampak harmonis di media sosial, tetapi sesungguhnya kehilangan komunikasi. Banyak institusi berbicara pelayanan publik, tetapi masyarakat kecil tetap sulit memperoleh rasa aman dan keadilan. Bahkan tidak sedikit manusia yang tampak religius secara simbolik, tetapi gagal menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal inti ajaran kurban sesungguhnya bukan pada darah dan daging hewan yang disembelih. Al-Qur’an dengan sangat tegas menyatakan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37).
Ayat ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Allah tidak membutuhkan simbol fisik manusia. Yang diuji adalah kualitas moral, keikhlasan, dan orientasi kemanusiaannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




