RIAUPOS.CO - PEREMPUAN setengah baya itu memperbaiki letak selendang yang menutup kepala lalu duduk bersila. Ia menatap papan nisan berdiri tegak di atas tanah merah. Papan nisan terbuat dari kayu itu baru seminggu tertancap. Diusapnya papan nisan itu perlahan. Kerinduan yang sangat mendalam bergemuruh di dadanya. “Ngapo dek copek bonou kau pai, Nak.” bisiknya lirih. Air matanya menggenang.
Sesaat kemudian ia menadahkan kedua tangan ke langit. Mulutnya nampak bergetar memohon doa pengampunan untuk sang penghuni kubur. Buliran-buliran air mata semakin deras menyeruak. Isak senggugukan terdengar lirih.
“Ayi la kolam. Mo la pulang, Mak. Lah duo jam awak di siko.” Kata Ociok Warni mengusap lembut bahu Amak. Ociok Warni merupakan anak kedua Amak.
Perempuan yang dipanggil Amak itu mengganguk pelan. Diusapnya kedua matanya yang basah dengan ujung selendang.
“Iyo mak, takuik beko amak talambek pai sumbayang ka Masjid Jami’. Mo la pulang4.” kata Ocu Madan, anak ketiga amak. Berkali-kali ia melirik jam tangan.
Pelan-pelan Ociok Warni merangkul pundak Amak. Perempuan berusia 58 tahun itu berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Seluruh tulangnya terasa nyeri.
Amak merapikan selendang penutup kepala dan kain sarung yang melekat di pinggang lalu menyiram air mawar di atas kuburan. Kembali untaian doa mengalir dari mulutnya yang kelu. Berkali-kali ia menyeka air mata yang menggenang di sudut mata. Ini adalah hari ketujuh kepergian Nora, anak sulung Amak. Nora menghembuskan napas terakhir setelah berjuang sekuat tenaga melahirkan Nasywa, cucu pertama Amak.
***
“Oi, cucu niniok. Copeklah godang” seru Amak sambil mengayun-ayun tubuh Nasywa di kedua tangannya. Mata jernih mungil itu mirip sekali dengan mata Nora. Mata yang memancarkan kelembutan dan penuh kasih.
“Mandi... mandi pagi, Nasywa.” Amak mendekatkan wajahnya ke wajah Nasywa, lalu tersenyum lebar.
“Cilu... ba...” Amak menutup mata sebentar lalu membukanya lagi. Amak terkekeh-kekeh. Ia meletakkan bayi itu di atas kasur dengan lembut. Kemudian membuka kain bedong yang menutupi tubuh Nasywa. Alangkah terkejutnya amak ketika melihat sebuah jepitan tali pusar meluncur.
“Alhamdulillah,”seru amak spontan. ‘Warni, kemarilah. Lihat ini,” teriak Amak.
“Ada apa, Mak??” Ociok Warni datang tergopoh-gopoh dari dapur. Ia baru saja selesai memasak balado ikan toman. Hasil tangkapan Ocu Madan di Sungai Kampar kemarin sore.
“Kita buat upacara turun mandi dan naik ayunan.”
“Iya, Nasywa. e..e.. dah besar ponakan Ociok.” Ociok Warni tersenyum lebar sambil menjail ujung hidung Nasya.
“Ondeh, Nasywa-lah godang... Atuk Onga sudah tidak sabar mau mendongeng,” kata Ocu Madan terkekeh-kekeh. Rambutnya yang keriting menyembul dari balik pintu. Amak dan Ociok Warni ikut tertawa.
***
Keesokan pagi, Amak sudah berdiri tegak di pintu beranda rumah. Selendang penutup kepala dan kain sarung penutup pinggang sudah melekat rapi di tubuhnya. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah parang besi. Kedua mata tertutup rapat dan mulutnya komat-kamit membaca doa dan mantra meminta perlindungan kepada pemilik semesta alam agar bayi ini nantinya dilindungi dari segala macam kejahatan. Kemudian parang besi itu diangkat tinggi. Beberapa saat kemudian Amak membuka mata lalu menurunkan tangannya lalu berjalan perlahan ke halaman rumah, sekitar empat langkah.
Ociok Warni sudah menyiapkan bak mandi bayi, sabun, dan handuk yang ia letakkan di atas tanah halaman rumah. Posisinya berhadapan dengan pintu masuk. Amak meletakkan parang besi itu di bawah bak mandi bayi.
Amak kembali masuk ke rumah lalu menuju kamar. Ociok Warni yang dari tadi menggendong Nasywa, menyerahkan tubuh mungil itu ke tangan Amak. Dengan cekatan Amak membuka bedong lalu menggendong bayi perempuan itu ke arah pintu utama. Ketika berdiri di pintu utama, Amak menunduk memandang wajah Nasywa lalu menutup kedua mata. Mulutnya komat-kamit membaca doa dan mantra memohon keselamatan pada Sang Penguasa Semesta Alam untuk si bayi. Tak lama kemudian ia membuka matanya lagi lalu memberi salam.
“Assalamualaikum,” seru Amak lantang.
“Waalaikum salam,” jawab Ociok Warni, Ocu Madan serta para tetangga yang merupakan sanak Amak yang bersuku Mandailiang menyambut kedatangan si bayi di halaman dengan suka cita.
Perlahan Amak berjalan melewati pintu. Nasywa, si bayi mungil itu digendong amak ke arah bak mandi. Sebelum air menyentuh tubuh Nasywa, amak membaca doa dan mantra. Mulutnya komat-kamit lagi. Tangannya diarahkan ke depan bak mandi bayi, amak mengambil air dengan sebelah tangannya lalu membuangnya sedikit lalu berkomat-kamit membaca doa dan mantra. Begitu pula dari arah samping kanan, kiri dan arah belakang. Amak menyiramkan sedikit air ke kepala Nasywa, kemudian ke arah wajah, kaki dan semua tubuhnya. Amak tersenyum memandang mata Nasywa dan mencolek jail kecil pipinya. Naswa ikut tersenyum melebarkan mulutnya yang mungil.
“Ancak cucu noniok ko, mudah-mudahan ancak juo puangainyo,” Ociok Warni menyerahkan sabun mandi cair ke tangan amak.
“Mudah-mudahan puangainyo seharum sabun iko juo,” kata amak sambil menggosok badan Nasywa dengan sabun. Ociok Warni ikut menyiramkan air sedikit-sedikit ke tubuh Nasywa. Sanak saudara juga ikut mengelilingi Nasywa dan ikut berdoa keselamatan untuk Nasywa.
Amak membalutkan handuk ke tubuh Nasywa. Ia memeluk dan menggendong tubuh mungil itu. Sanak saudara bersorak ramai menyambut kedatangan Nasywa di pintu utama. Amak berjalan perlahan sambil menggendong Nasywa. Ketika mendekati pintu, amak berhenti lalu menutup rapat kedua matanya lagi dan mulutnya komat-kamit membaca doa dan mantra. Beberapa saat kemudian ia mengucapkan salam.
“Assalamualaikum,” seru Amak lantang.
“Waalaikum salam,” jawab semua yang hadir serentak. Amak melewati pintu dan memasuki rumah. Ociok Warni menyambut Amak dan Nasywa, memeluk dan menggendong bayi mungil itu lalu berjalan ke kamar.
“Pakai baju kita lagi ya Nak sayang. Habis itu kita minum susu...” kata Ociok Warni tersenyum menggoda Nasywa.
“Madan, ambil dupa dan kemenyan...” perintah Amak.
“Iyo, Mak,” sahut Ocu Madan yang duduk bersila dikelilingi para ponakan di sudut teras rumah.
“Nanti kita sambung lagi kisah si lancang ya, makin seru ini ceritanya,” kata Ocu Madan tertawa, menampakkan deretan gigi-giginya yang tersusun rapi.
Para ponakan yang masih anak-anak itu kelihatan kecewa. Dengan wajah memelas mereka memegang tangan Ocu Madan dengan kuat, agar cerita si lancang dilanjutkan. Ocu Madan terkekeh-kekeh. Ia memberi isyarat dengan tangan dan wajahnya kalau ia pergi hanya sebentar. Segera ia beringsut keluar dari kerumunan.Ocu Madan meletakkan dupa berisi tumpukan bara kayu di bawah ayunan.
“Sudah, Mak.”
Amak yang dari tadi berdiri di belakang Ocu Madan mengangguk. Kemudian Amak menutup kedua matanya lalu mulutnya kembali komat-kamit membaca doa dan mantra. Sesaat kemudian, amak membuka mata. Mulutnya masih komat-kamit lalu meletakkan sedikit kemenyan di atas bara api. Aroma menyengat menguar ke semua arah.
“Warni, letakkan Nasywa ke buayan,”perintah Amak. Ociok Warni menggangguk.
“Sudah mandi... sudah minum susu... bobok lagi ya, Nak” kata Ociok Warni lembut menatap mata Nasywa.
Ociok Warni meletakkan Nasywa dengan hati-hati ke dalam buayan berbentuk segi empat yang terbuat dari rotan. Buayan rotan itu diikat oleh dua buah tali panjang lalu diikatkan lagi pada tiang kayu rumah. Ociok warni mengayun pelan buayan itu ke depan dan ke belakang.
“Sanak semuanya, alhamdulillah upacara turun mandi dan naik ayunan sudah selesai. Sekarang, kita nikmati hidangan yang sudah disediakan,” seru amak pada semua sanak saudara yang dari tadi menyaksikan.
Ociok Warni dengan cepat memindahkan beberapa piring berisi lauk di atas tikar. Ocu Madan mengangkat piring dan termos nasi. Ada ikan tapah balado, ikan patin gulai jengkol, asam pedas ikan baung, dan pucuk ubi rebus. Tersedia juga sajian kue-kue khas Air Tiris Kampar, ada lopek bugi dan ketan sarikaya. Amak, Ociok Warni dan Ocu Madan beserta sanak saudara duduk bersila melingkar mengitari hidangan. Ponakan-ponakan berebutan duduk di sebelah Ocu Madan.
“Lanjutkan cerita Si Lancang, atuk Onga,” rengek salah seorang ponakan.
“Di sini tidak ada Si Lancang,” jawab Ocu Madan menatap ponakannya yang polos itu sambil tertawa. Sontak sanak saudara dan ponakan lain tertawa.
***
Azan Subuh berkumandang, Amak melangkahkan kaki perlahan menaiki tangga kayu pintu Masjid Jami’. Masjid tertua di Riau yang terletak di Pasar Usang, Air Tiris, itu, sangat terawat. Amak berjalan ke dalam, bunyi derik kayu tanpa paku itu terdengar. Ukiran-ukiran khas Melayu yang memiliki sarat makna menghiasi dinding-dinding dalam masjid. Imam masjid sudah berdiri di shaf paling depan, mengajak makmum untuk solat subuh berjamaah. Amak mengambil shaf paling belakang.
Bayang-bayang wajah Nora dan Nasywa masih berkelebat di setiap rukuk dan sujud. Air mata mengalir membasahi sajadah. Rangkaian doa mengalir deras dari bibir perempuan setengah baya itu. Memohon keselamatan dunia akhirat pada Sang Penguasa Semesta Alam. Takdir kehidupan memang tidak bisa dicerna akal manusia. Nora telah memilih Nasywa sebagai pengganti.***
Tina Harianti lahir di Padangsidempuan, 30 Agustus 1981. Setelah menamatkan pendidikannya di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unri. Ia mengabdi sebagai guru di MAN 2 Kota Pekanbaru hingga sekarang.
Editor : Rindra Yasin