Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Teroka Arsip Seni Riau 2025 Menjadikan Arsip sebagai Bahan Penciptaan Seni

Hary B Koriun • Minggu, 23 Maret 2025 | 15:15 WIB

Ketua Suku Seni Marhalim Zaini (paling kiri) bersama timnya saat melakukan penelusuran arsip di Sanggar Sendayung, Kampar, belum lama ini.
Ketua Suku Seni Marhalim Zaini (paling kiri) bersama timnya saat melakukan penelusuran arsip di Sanggar Sendayung, Kampar, belum lama ini.

Selama ini arsip dianggap sebagai barang mati yang tak bisa “dihidupkan” kembali. Salah satu cara menghidupkannya, selain melestarikannya, adalah menjadikannya sebagai bahan dalam menciptakan karya seni baru.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - TAHUN 2025 ini, Suku Seni Riau membuat program unggulan terkait pengarsipan seni, yakni Teroka Arsip Seni Riau dengan nama Teroka Arsip Seni, Cipta Seni Arsip. Muara yang diharapkan dari program ini adalah terbentuknya “Ruang Arsip Seni Riau”. Ini adalah kerja panjang, dan teroka ini merupakan kegiatan awal untuk menghimpun data arsip seni dari lima daerah, dengan beberapa program turunan lain. Untuk tahun ini, lima daerah itu adalah Kampar, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu.

Kegiatan itu kemudian diikuti dengan kegiatan Telusur Arsip Seni Kota, yang lebih fokus pada penghimpunan arsip seni di Kota Pekanbaru. Progam ini sebenarnya adalah satu kesatuan. Yang dimulai dengan Teroka Arsip Seni Riau 5 Lokus, Telusur Arsip Seni Kota, Pameran Arsip Seni Riau, dan Art Lab Cipta Seni Arsip. Kelima kegiatan itu bisa disebut saling kait-kelindan, saling melengkapi, atau turunan.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, menjelaskan, program yang dia inisiasi ini awalnya mengutamakan dan fokus pada arsip-arsip yang masih banyak berserak. Jadi bukan arsip yang sudah diselamatkan dengan baik. Dia dan tim menelusuri ke seniman-seniman, lembaga, komunitas, dan berbagai tempat yang memungkinkan ditemukannya arsip-arsip seni tersebut. Baik itu berup foto, video, rupa, poster, katalog, buku majalah, kliping koran, dan lain-lain.

“Program ini muncul lebih pada kerisauan minimnya ruang arsip khusus seni budaya di Riau sehingga kita susah untuk menemukan dan membaca peta perkembangan seni Riau,” kata Marhalim kepada Riau Pos di Pekanbaru, Jumat (21/3/2025).
Baca Juga: Pastikan Anda Konsumsi Kelapa Muda yang Punya Banyak Khasiat, Salah Satunya Ampuh Menurunkan Berat Badan

Jauh sebelum ini, banyak muncul berita perburuan arsip dan naskah lama Melayu oleh banyak peneliti yang didanai Pemerintah Malaysia. Mereka datang langsung ke ceruk-ceruk wilayah Riau dan beberapa provinsi di pesisir timur Sumatra, menemui masyarakat langsung, dan membeli naskah-naskah tersebut dengan harga yang menggiurkan. Itu dilakukan Pemerintah Malaysia yang berambisi untuk menjadi Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, bahkan dunia. Namun, kata Marhalim, apa yang dilakukan Suku Seni ini, bukan sebuah kounter atau bersaing karena hal itu, meski sebenarnya apa yang dilakukan para peneliti Malaysia itu juga menjadi sumber kerisauan bersama selama ini.

“Bayangan saya, ke depan ada satu ruang yang khusus mengoleksi berbagai arsip seni di Riau yang tidak semata untuk dilihat atau dipamerkan, tapi juga menjadi sumber penciptaan baru bagi seniman,” ujar lelaki yang juga penulis naskah dan sutradara teater ini.
Baca Juga: PWI Dumai-IKWI Buka Bersama, Wujud Kebersamaan dan Mempererat Silaturahmi

Wadah yang akan menampung hal itu, kata dia, adalah Art Lab. Di sini, seniman bisa menggali berbagai kemungkinan estetika dari arsip seni. Selain untuk menghasilkan karya yang inovatif, juga untuk mengembangkan arsip seni itu sendiri. Menurutnya, dengan begitu, arsip seni tersebut tidak menjadi barang atau benda mati, tetapi tetap hidup, karena memberi insparasi untuk menciptakan karya lainnya. Dengan mengembangkan arsip tersebut, karya-karya baru diharapkan lahir dengan berbagai genre. Misalnya, bisa jadi dari arsip video yang ada akan menghasilkan film dokomenter tentang objek yang ada. Atau, dari karya rupa seperti patung dan yang lainnya, bisa menghasilkan karya cerpen, puisi, novel, naskah drama, dan lainnya, hasil dari telaah yang dilakukan.
Program perburuan arsip seni ini menurut Marhalim sangat penting. Selain sebagai rasa kepedulian terhadap karya yang sudah dihasilkan oleh para seniman terdahulu yang berserak di mana-mana, juga sebagai bahan bagi seniman terkini untuk belajar pada apa yang sudah dihasilkan tersebut. Sayangnya, kata dia, hal seperti itu selama ini diabaikan. Padahal pemerintah, baik pusat maupun daerah, punya badan atau lembaga yang dikhususkan untuk mengurusi masalah itu. Ada Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Museum Nasional, dan lainnya di tingkat pusat. Di daerah juga ada Dinas Perpustakaan dan Arsip, museum, dan lain sebagainya.

“Bagaimana kita tahu tentang peta perkembangan seni di Riau, tanpa arsip dan data? Bagaimana pemerintah mengambil kebijakan terkait seni kalau mereka tidak mengetahui dinamika seni yang dapat dibaca dari arsip?” katanya.

Arsip, sebagaimana juga museum, kata pemenang lomba menulis novel Riau --Ganti Award-- beberapa kali ini, menjadi ruang apresiasi yang penting bagi peningkatan edukasi publik terhadap seni. Selama ini mungkin Dispersip Riau dan kabupaten/kota sudah melakukan apa yang sekarang dilakukan Suku Seni, tapi tidak spesifik pada karya seni saja. Semua naskah dan arsip. Apa yang dilakukannya juga tidak ingin menjadi pesaing bagi dinas atau lembaga mana pun yang melakukan hal serupa. Tapi, katanya, lebih banyak lembaga yang melakukannya, akan semakin baik. Ini akan memberikan banyak pilihan bagi orang yang ingin memanfaatkan arsip tersebut. Terutama arsip seni.

Untuk program ini, Marhalim bersama timnya sudah masuk dari kampung ke kampung, juga ke banyak lembaga yang dianggap memiliki arsip seni tetapi belum diberdayakan dengan baik. Dia blusukan ke ceruk-ceruk Kampar, Pelalawan, Bengkalis, Siak, dan Indragiri Hulu. Juga di Pekanbaru. Mereka kadang berada di lapangan selama berhari-hari dan tidak kembali ke Pekanbaru dengan cepat. Arsip-arsip yang didapatkan kemudian dihimpun, dikurasi, dirawat, dan disimpan dalam berbagai cara, termasuk proses digitalisasi.

Kata Marhalim, menghimpun arsip ini memang tidak mudah, karena selama ini kita memang abai terhadap pentingnya menyimpan arsip. Di lapangan justru lebih banyak ditemukan di rumah-rumah seniman tua, juga sanggar seni. Dia dan timnya tidak terlalu berharap menemukan naskah lama, karena tentu harus dengan upaya yang lebih lama.

Para pemilik arsip tersebut ada perorangan, komunitas, lemabaga, ternasuk dinas-dinas seperti pustaka dan arsip, dinas kebudayaan, dst. Arsip-arsip tersebut dikumpulkan dengan berbagai cara, termasuk merepro, difoto, divideo, dan sebagainya.


Kata dia, respon mereka mereka beragam ketika didatangi. Sebagian senang karena didatangi dan mengarsipkan data mereka, meskipun di sisi lain juga bingung dengan kerja yang tidak biasa ini. Namun pada intinya banyak yang memberi respon positif karena tidak semua orang punya keahlian dalam merawat arsip. Juga banyak yang takut arsip mereka rusak oleh waktu.

“Jadi kegiatan ini semacam pembuka jalan utk kerja berikutnya,” kata penulis kumpulan puisi Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu ini.

Arsip-arsip tersebut telah dipamerkan pada 15 Februari sampai 15 Maret 2025 lalu di Suku Seni. Lalu arsip tersebut dibahas dalam lokakarya dalam konteks penciptaan seni arsip, menghadirkan Ketua Dewan Kesenian Jakarta yang juga Direktur Artistik Lab Teater Ciputat, Bambang Prihadi. Menurut Marhalim, Bambang sangat memberi apresiasi pada kerja budaya ini dan memberikan banyak masukan pada kegiatan ini. Kegiatan ini diselenggarakan pada 15 Februari.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan juga dilakukan. Misalnya membuat kegiatan Cipta Seni Arsip dalam Art Lab, yakni sebuah metode kerja penciptaan seni yang oleh para kreator atau seniman jemputan, yang berbasis pada praktik eksperimen, percobaan-percobaan, untuk menghasilkan temuan-temuan artistik dari sebuah objek, yang disebut “arsip seni”, yang tersedia dalam Pameran Arsip Seni di Studio Suku Seni. Ini adalah salah satu cara atau ikhtiar pengembangan arsip seni menjadi seni arsip. Kegiatan ini diselenggarakan pada 15-22 Februari 2025. Para seniman yang dilibatkan dalam program ini antara lain Joni Hendri, Leman Leq, Ibnul Mubarak, Haryando, Aditya Haryadi, dan Muhammad Abdurasyid.

Sebelum itu, pada Januari 2025, juga diadakan forum group discussion (FGD/diskusi terpumpun), khusus tentang Telusur Arsip Seni Kota (Pekanbaru) yang menghadirkan beberapa seniman lintas seni. Mereka adalah Syahyarwan Zam, Fachrozi Amri, Dea Gita, Irfan, Fedli Aziz, Parlindungan Ravelino, Weldi Syahputra, Cakwinda, dan Raj’ Dwi Santoso. Kegiatan ini adalah langkah awal dalam proses penelusuran arsip di Kota Pekanbaru. Diskusi ini mencari dan menghimpun pandangan dari para narasumber untuk pemetaan awal penelusuran arsip di Pekanbaru.

Kata Marhalim, khusus Kota Pekanbaru, dianggap memiliki kekayaan arsip khas urban, yang memiliki karakteristik struktur sosial dan kultur, yang selama ini jarang disentuh. Berbeda dengan seni tradisi yang lebih homogen di kampung-kampung, seni kota sangat heterogen, yang merespon persoalan perkotaan yang lebih problematikanya lebih kompleks. Itu makanya, Telusur Arsip Seni Kota (Pekanbaru) ini dibuat sebagai sub sendiri dari tema besar program ini.

Keseluruhan program ini, kata lelaki kelahiran Bengkalis ini, menjadi bagian dari program yang didukung Dana Indonesaiana. Ini program lanjutan dari tahun sebelumnya dan akan dilanjutkan untuk tahun-tahun mendatang, dengan pengembangan program. Dana Indonesaiana untuk institusi memang diminta untuk membuat program jangka panjang. Marhalim berharap apa yang dilakukannya bersama Suku Seni ini memberi sumbangsih pada dinamika kebudayaan di Riau, terutama pada seni arsip yang memang jarang disentuh banyak seniman.

“Upaya seperti ini menurut saya penting sebagai kerja budaya yang harus terus dilakukan,” kata lulusan S-2 FIB Universitas Gadjah Mada ini.***

Editor : Bayu Saputra
#kebudayaan #budaya #arsip seni