PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Komunitas sastra diyakini menjadi salah satu penggerak ekosistem dunia sastra di Indonesia selama ini. Ekosistem ini banyak melahirkan karya dari para sastrawan yang terlibat di dalamnya.
Ragam bentuk dan jenis kegiatan yang diproduksi oleh komunitas sastra memberi dampak pada berbagai upaya penguatan daya baca dan apresiasi masyarakat terhadap sastra, perluasan distribusi karya, lahirnya para penulis baru, berkembangnya wacana kesusastraan Indonesia.
Komunitas sastra, diakui atau tidak, telah memainkan perannya sebagai katalisator untuk mempercepat dan mendorong gerakan-gerakan sastra yang inklusif dan inovatif.
Rumah Kreatif Suku Seni Riau, yang merupakan salah satu kolektif yang bergerak di bidang kesusastraan serta lintas bidang seni, sejak berdiri di tahun 2017, telah turut ambil bagian menggerakkan ekosistem kesusastraan di Riau, khususnya di kota Pekanbaru.
Kegiatan rutin berupa diskusi sastra dalam berbagai formatnya, telah mampu membuka ruang-ruang pembacaan produktif dan kritis baik dalam dunia kekaryaan maupun dinamika pergerakan sastra di Riau.
Selain diskusi, Suku Seni juga kerap menyelenggarakan bentuk-bentuk pengembangan sastra yang lain, semisal pertunjukan alih wahana lintas bidang seni, penerbitan buku-buku lokal, pelatihan menulis, dan sebagainya.
"Sejak tahun 2023 hingga 2025 ini, Suku Seni juga aktif menyelenggarakan helat sastra tahunan bertajuk Festival Sastra Melayu Riau," kata Kepala Rumah Kreatif Suku Seni Riau, Senin (1/9/2025).
Menurut dia, Konsistensi Suku Seni dalam turut menggerakkan iklim sastra di Riau selama ini patut terus didukung dan diperkuat agar dapat terus berkelanjutan dan memberi dampak yang lebih luas lagi.
Tahun 2025 ini, katanya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Penguatan Komunitas Sastra, memberikan dukungan kepada Suku Seni untuk menggelar sejumlah kegiatan yang akan dilaksanakan mulai akhir Agustus hingga Oktober. Kegiatan tersebut antara lain bincang 5 buku sastra, pelatihan alih wahana sastra ke media digital, dan pertunjukan alih wahana sastra ke teater.
"Suku Seni merupakan salah satu komunitas sastra yang terpilih bersama puluhan komunitas sastra yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menerima dukungan dari Kementerian Kebudayaan tersebut," tambahnya.
Dijelaskannya, kegiatan bincang buku sastra akan membahas 5 buku terpilih, baik dari penulis Riau maupun penulis luar Riau. Sebagai bentuk apresiasi dan stimulasi bagi penulis dan penerbitnya, penyelenggara akan membeli buku-buku tersebut dalam jumlah tertentu untuk dibagikan kepada peserta diskusi terpilih. Hal ini juga akan mendorong agar kegiatan bincang sastra dapat lebih terarah serta memperluas keterbacaan buku sastra Indonesia.
Sedangkan kegiatan pelatihan alih wahana sastra ke media digital dan pertunjukan alih wahana ke seni teater, jelasnya, merupakan upaya pengembangan kreativitas lintas bidang seni yang berbasis karya sastra. Kegiatan ini diharapkan membuka ruang-ruang tafsir baru karya sastra serta menjadi salah satu upaya pengembangan budaya digital bagi generasi mutakhir.
Kata lelaki yang juga Ketua Asosiasi Seniman Riau (Aseri) ini, kerja-kerja alih wahana sastra, utamanya ke media digital, akan membuka kemungkinan baru bagi keterbacaan karya sastra yang labih luas serta mendekatkannya dengan tuntutan perkembangan dunia hari ini.
"Sebagai sebuah komunitas lintas bidang seni, melalui program penguatan ini Suku Seni merasa kembali diberi ruang untuk melanjutkan model kerja laboratorium seni yang selama ini telah dijalankan," ujarnya mengakhiri.(hbk)
Editor : Edwar Yaman