Globalisme akan menggerus kebudayaan tradisional jika tak ada upaya untuk mempertahankannya. Bimtek kepenulisan yang dilakukan Dispersip Inhil adalah salah satu cara untuk mempertahankan dan mewariskan tradisi lokal tersebut.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - UPAYA untuk menaikkan kemampuan menulis masyarakat terus digalakkan banyak pihak. Di Riau, hal itu tidak hanya dilakukan di kota besar seperti Perkanbaru atau yang lainnya. Di beberapa daerah, kegiatan literasi ini juga terus dilakukan oleh berbagai elemen atau lembaga, baik milik pemerintah maupun swadaya masyarakat pecinta literasi kepenulisan.
Di Tembilahan, Indragiri Hilir (Inhil), baru-baru ini diadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal pada 19 November 2025 lalu. Kegiatan yang diadakan di ruang Layanan Dasar Perpustakaan Daerah Inhil ini diselenggarakan dalam program Pengembangan Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota melalui sumber dana Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik 2025.
Wakil ketua pelaksana kegiatan, Siti Marwah SE MAP, menjelaskan, bimtek ini mendatangkan dua narasumber, yakni Redovan Jamil SPd MPd dan Jumardi SUd, yang diikuti 50 peserta dari berbagai kalangan. Yakni para penulis Inhil, dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) Inhil, komunitas dan pegiat literasi, dan komunitas sastra yang ada di Inhil. Hal yang ingin didapat dari kegiatan ini, kata Siti, adalah memberi pemahaman tentang pentingnya kemampuan menulis dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal; memberikan identitas dan keunikan pada karya; dan meningkatkan kesadaran tentang budaya leluhur.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong para penulis Inhil untuk mengembangkan budaya lokal lewat tulisan. Semua peserta diwajibkan untuk menulis satu karya dan nanti diterbitkan dalam bentuk buku antologi tentang budaya lokal yang ada di Inhil,” ujar Pustakawan Ahli Madya ini saat dihubungi Riau Pos, Jumat (5/12/2025), mewakili Kepala Bidang Penyelenggaraan Perpustakaan Dispersip Inhil, Rina Sri Rahayu SKM yang menjadi ketua panitia penyelenggara kegiatan tersebut.
Dalam bimtek tersebut, dengan materi berjudul “Merangkai Kata, Merawat Budaya”, Redovan Jamil menjelaskan kepada para peserta tentang dasar proses menulis artikel berbasis budaya lokal. Redovan menjelaskan tentang pentingnya memiliki kemampuan menulis dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal dalam menjawab tantangan globalisasi terhadap eksistensi budaya daerah. Menurutnya, hal ini penting dimiliki oleh para penulis artikel, sastrawan, dan generasi muda sebagai pewaris nilai budaya.
Dalam kesempatan itu, lelaki kelahiran Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) tersebut memperkenalkan dasar-dasar dan teknik penulisan kreatif dan ilmiah; memberi pemahaman
tentang konsep budaya dan kearifan lokal; menumbuhkan kesadaran peserta untuk mengangkat budaya daerah dalam karya tulis; dan mendorong peserta menjadi agen pelestarian budaya melalui tulisan.
Redovan mengutip kalimat beberapa filsuf dan pakar, tentang pentingnya menulis bagi kehidupan manusia. Misalnya Imam Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa jika kita orang biasa, bukan anak raja atau ulama besar, maka menulis adalah salah satu cara agar pemikiran kita tetap hidup sepanjang masa dan dikenang orang. Dia juga mengutip cerpenis dan novelis besar Indonesia, Seno Gumira Ajidarma, bahwa belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia. Tokoh lain yang dikutipnya adalah ulama dan sastrawan Islam Buya HAMKA yang mengatakan bahwa hanya dengan sebuah pena kita bisa mendakwahkan Islam hingga sampai puncaknya. Selain mereka, Redovan juga mengutip pernyataan beberapa akademisi seperti M Atar Semi, Djago Tarigan, dan lainnya.
Menurut lelaki yang menyelesaikan S-2 di Pascasarjana Pendidikan FKIP Unri ini, minimal ada lima manfaat penting mengapa kita harus menulis. Yakni meningkatkan berpikir kritis dan logis, bahwa menulis membantu menyusun ide, menganalisis informasi, dan berpikir sistematis. Lalu menjadi sarana ekspresi diri, di mana melalui tulisan dapat menyalurkan emosi dan refleksi diri; meningkatkan kemampuan komunikasi, yakni melatih kemampuan menyampaikan ide secara efektif dan terstruktur; menunjang prestasi akademik dan karier
karena keterampilan menulis sangat dibutuhkan di dunia kerja dan pendidikan tinggi; dan mengembangkan kreativitas, karena tulisan kreatif seperti puisi, cerpen, esai, artikel, laporan perjalanan, dan lainnya dapat menumbuhkan imajinasi dan inovasi.
“Strategi yang bisa dilakukan agar tulisan kita baik adalah menulis karya secara rutin seperti esai, puis, cerpen, jurnal, catatan pribadi, laporan perjalanan, cerpen, puisi, dll. Kemudian membaca karya bermutu dari berbagai genre, mengikuti komunitas atau lomba menulis, meminta umpan balik dari guru, dosen, teman, dan siapa pun, setra memanfaatkan teknologi digital secara positif seperti blog, e-book, atau media sosial literatif,” ujar lelaki yang kini bekerja pada lembaga filantropis Dompet Dhuafa (DD) Riau ini.
Pada bagian lain, Redovan menjelaskan tentang pentingnya kearifan lokal atau local wisdom, yang menjadi tema bimtek tersebut. Dia merujuk pemahaman yang disampaikan Rusilowati dkk, yakni nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat dan diyakini sebagai kebenaran yang dijadikan pedoman dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, mengutip Alfian, kearifan lokal dapat dipahami sebagai pandangan hidup, pengetahuan, serta strategi kehidupan yang diwujudkan dalam aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kesimpulannya, kata dia, kearifan lokal adalah gagasan yang terus berkembang dalam masyarakat, mencakup adat-istiadat, tata aturan, norma, nilai, budaya, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam masyarakat modern sekarang, kata dia, banyak tantangan akibat globalisme terhadap eksistensi budaya daerah. Dia merujuk pada antropolog Koentjaraningrat, yang menekankan bahwa globalisasi membawa arus budaya dunia yang dapat menyebabkan erosi identitas budaya lokal, karena masyarakat cenderung meniru gaya hidup modern yang dianggap lebih prestisius; displacement nilai-nilai tradisional oleh nilai praktis, individualistis, dan materialistis; dan berkurangnya pewarisan budaya, karena generasi muda lebih mengenal budaya global dibanding budaya daerahnya.
“Tantangan utama bagi kita adalah ketidakseimbangan antara penerimaan unsur budaya baru dan pelestarian budaya lama,” kata lelaki yang juga menulis cerpen dan puisi dan dimuat di banyak media ini.
Dalam konteks kebudayaan lokal –baik Melayu Riau maupun lokalitas Inhil— banyak hal yang bisa ditulis. Kata Redovan, Riau sangat multidimesional, baik pada tradisi asli maupun tradisi yang datang dan berbaur dengan masyarakat di Riau. Di Inhil, misalnya, selain ada masyarakat asli Melayu Riau, juga ada tradisi yang datang dari luar yang mengakar seperti Banjar maupun Bugis. Inhil juga punya suku asli spesifik, yakni masyarakat yang tinggal di laut seperti Duanu. Selain mereka, masih banyak lagi tradisi masyarakat yang perlu terus digali dan ditulis.
Paling tidak, jelas Redovan, ada tujuh peran penting bagi penulis sebagai pewaris nilai-nilai budaya lokal tersebut. Yang pertama adalah sebagai pendokumentasi warisan budaya. Dalam hal ini, penulis berperan penting dalam mengabadikan cerita rakyat, tradisi lisan, adat-istiadat, bahasa daerah, dan nilai kearifan lokal ke dalam bentuk tulisan. Dokumentasi ini membuat budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya meski zaman berubah. Kedua, sebagai penjaga identitas kolektif. Pada peran ini, melalui tulisan, penulis membantu masyarakat mengenali jati dirinya. Tulisan-tulisan yang berakar pada budaya lokal meneguhkan identitas dan membangun kebanggaan terhadap asal-usul.
Ketiga, sebagai penafsir dan pengembang nilai budaya. Dalam peran ini, kata lelaki yang juga Bendahara Komunitas Paragraf ini, penulis tidak hanya mencatat, tetapi juga menafsir ulang nilai budaya agar relevan bagi pembaca modern. Dengan cara ini, nilai-nilai budaya tidak statis, tetapi berkembang dan adaptif terhadap perubahan sosial. Kemudian keempat, sebagai pengkritik sosial berbasis budaya. Dalam hal ini, penulis sering menjadi suara moral masyarakat. Melalui esai, opini, atau karya kreatif, penulis mengkritik penyimpangan budaya, komersialisasi tradisi, atau hilangnya nilai-nilai luhur akibat modernisasi.
Kemudian yang kelima peran sebagai penghubung antargenerasi. Menurut alumni Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Sumbar yang kini berubah menjadi Universitas PGRI Sumbar itu, tulisan memungkinkan budaya melewati batas usia, ruang, dan waktu. Penulis menjembatani generasi tua yang menyimpan tradisi dengan generasi muda yang perlu memahami akar budaya. Lalu yang keenam, sebagai penyeba dan promotor kebudayaan. Dalam peran ini, tulisan dapat menjangkau khalayak luas—baik nasional maupun internasional. Penulis menjadi duta budaya yang memperkenalkan tradisi lokal ke panggung global melalui buku, artikel, blog, atau karya literer.
“Yang terakhir adalah sebagai pelestari bahasa. Dalam hal ini, dengan menggunakan bahasa daerah, ragam tutur, atau istilah budaya dalam tulisannya, penulis melestarikan kosakata dan ekspresi khas yang mungkin hilang dalam kehidupan sehari-hari,” jelas lelaki yang pernah menjadi pegiat literasi di Inhil dan Kepulauan Meranti ini.
Dalam penjelasan selanjutnya, Redovan secara teknis juga memberi contoh banyak budaya lokal di Riau maupun lokalitas Indragiri yang masih bisa digali oleh para penulis untuk disampaikan kepada khalayak. Misalnya tentang adat-istiadat kehamilan, kelahiran, perkawinan, dll yang antara satu subkultur dengan yang lain bisa memiliki perbedaan, baik dalam pendekatan budaya asli maupun yang sudah bercampur dengan agama (Islam) di Riau.
Redovan juga menyampaikan teknik menggali ide dalam pelatihan tersebut, terutama dalam menggali pengalaman masyarakat tradisional soal apa yang mereka yakini. Di dalamnya bisa meliputi observasi langsung, mendengar langsung dari sesepuh adat, membaca karya sastra dan catatan-catatan yang masih ada, membaca lanskap alam, atau menangkap fenomena sosial kontenporer yang terjadi dalam masyarakat lokal tersebut.
Teknik dalam menyusun tulisan dari pembukaan hingga penutup, juga diajarkan oleh Redovan. Harapan dia, ketika bimtek tersebut berakhir, para penulis bisa langsung menghasilkan karya yang nantinya (rencananya) akan dibukukan. “Saya juga mendampingi mereka, bertukar pikiran, dan berdiskusi langsung tentang apa-apa yang tidak mereka pahami,” jelas sastrawan muda yang banyak memenangkan lomba cerpen maupun puisi ini.
Pada bagian lain, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Inhil, Jumardi, juga menjelaskan secara teknis, hampir sama yang disampaikan oleh Redovan Jamil. Materi yang disampaikan oleh kedua intrusktur ini diharapkan bisa membuka ruang dan proses berpikir pada peserta yang mengikuti bimtek tersebut.
Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Kadispersip Inhil, Marta Haryadi SH MH, saat membuka bimtek tersebut. Kepada para peserta, Marta berharap dengan adanya bimtek ini bisa mendorong para penulis Inhil mengembangkan postensi dan kapasitas dalam menulis yang dapat melestarikan koleksi literasi berbasis kearifan lokal.
“Saya yakin dengan potensi para penulis di Inhil. Daerah kita punya keberagaman budaya lokal yang bisa diangkat ke permukaan agar bisa diketahui oleh masyarakat secara luas,” ujar Kadispersip.***
Editor : Bayu Saputra