Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kinerja Balai Bahasa Provinsi Riau 2025, Kerja Maksimal di Tengah Efisiensi Ketat

Hary B Koriun • Minggu, 21 Desember 2025 | 10:34 WIB

BPPR
BPPR

Di tengah efisiensi ketat yang dicanangkan pemerintah pusat, Balai Bahasa Provinsi Riau berhasil menyelesaikan kerja dengan maksimal sepanjang 2025. Semua berhasil dicapai dengan perencanaan yang baik.

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru


EFISIENSI ketat yang dilakukan oleh pemerintah pusat pada 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, berdampak besar bagi proses pembangunan di segala bidang. Daerah-daerah menjerit. Apalagi setelah itu dibuat keputusan pemangkasan transfer ke daerah (TKD) yang semakin membuat proses pembangunan terhenti. Banyak kepala daerah mengeluh karena uang mereka hanya cukup membayar gaji pokok pegawai. Jangankan membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, atau bangunan sekolah yang rusak, membayar tunjangan pegawai saja banyak yang tak mampu.

Kondisi yang sama juga dialami oleh lembaga Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemerintah pusat yang ada di daerah. Mereka dituntut untuk maksimal dalam menjalankan program dengan dana yang dipangkas dengan alasan efisiensi hampir 50 persen dari anggaran sebelumnya. Namun, hal itu mau tak mau harus diterima dan dilaksanakan. Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) sebagai UPT Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Sastra (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) salah satunya. Yang dilakukan adalah berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun program agar tepat sasaran dan memanfaatkan dana yang tersedia dengan maksimal.

Tugas berat memang harus diemban BBPR dan Balai/Kantor Bahasa lain di seluruh Indonesia. Mereka harus menjalankan pembangunan kebahasaan dan kesastraan melalui empat pilar, yaitu peningkatan kecakapan literasi; pemartabatan bahasa dan sastra Indonesia; pelestarian bahasa dan sastra daerah; serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Hal ini ditandai dengan komitmen untuk meningkatkan kinerja dalam membentuk lembaga yang bermartabat dan bermanfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya di Provinsi Riau. Empat hal itu bukan hal mudah untuk diwujudkan. Apalagi dalam kondisi efisensi.

Kepala BBPR, Dr Umi Kulsum, tugas itu mesti dijalankan dengan membuat program yang dirasa mampu dan bisa dimaksimalkan. Misalnya mengurangi volume, yang biasanya empat, bisa menjadi dua atau tiga. Yang biasanya tatap muka langsung, bisa dilakukan lewat daring. Yang penting esensinya tidak hilang. Hal-hal seperti ini harus diambil agar hasil maksimal yang diharapkan dapat terpenuhi. Tidak asal selesai dan jadi. Selain itu, kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak juga harus dilakukan.

“Untuk mewujudkan lembaga yang bermartabat dan bermanfaat, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak serta percepatan kinerja yang berfokus pada penyelenggaraan program prioritas yang memberikan dampak luas bagi masyarakat,” kata perempuan yang lama ditempatkan sebagai staf di Balai Bahasa Jawa Barat (Jabar) itu di Pekanbaru, Jumat (12/12/2025). Dalam menjelaskan pencapaian tersebut, Umi didampingi staf bidang publikasi BBPR, Yeni Maulina dan Adeliani Hafsar, dan lainnya.

Mantan Kepala Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur (Jatim) itu menjelaskan, bentuk kolaborasi nyata yang diselenggarakan BBPR berupa terwujudnya naskah Nota Kesepakatan (NK) antara Badan Bahasa dengan beberapa lembaga pemerinta di Riau. Misalnya dengan Kota Pekanbaru, Kota Dumai, dan Kabupaten Siak dengan ruang lingkup peningkatan kecakapan literasi, kedaulatan bahasa Indonesia, pelindungan bahasa dan sastra daerah, serta penginternasionalan bahasa Indonesia.

Selain itu, BBPR juga telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sembilan universitas di Riau, yakni Universitas Riau (Unri), Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Universitas Islam Riau (UIR), Universitas Pahlawan, Universitas Lancang Kuning (Unilak), Universitas Sains dan Teknologi Indonesia (USTI), Universitas Abdurrab, dan Politeknik Caltex Riau. Pada tataran kerja sama tingkat provinsi, BBPR telah melakukan rencana kerja sama antara BBPR dan beberapa mitra, seperti fakultas, komunitas, sekolah, dan organisasi profesi.

Umi menambahkan, empat pilar utama agenda strategis pembangunan bahasa dan sastra yang diimplementasikan oleh BBPR bertujuan untuk memastikan akses pendidikan bermutu bagi semua kalangan. Keempat program tersebut diampu oleh tujuh kelompok kerja yang ada di lingkungan BBPR. Keempat program prioritas tersebut dilaksanakan dengan nilai dasar pelaksanaan program, yaitu fokus, berkelanjutan, dan kolaborasi berdasarkan Asta Cita dan Visi Presiden 2025—2029 pada poin memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Kemdikdasmen melalui Badan Bahasa, kata perempuan kelahiran Brebes, Jawa Tengah (Jateng) itu, terus berkomitmen untuk tetap menjaga kedaulatan bahasa Indonesia sebagai simbol jati diri bangsa. Upaya ini diperkuat dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia. Melalui moto, bangga, mahir, dan maju dengan bahasa Indonesia menjadi kekuatan menjaga kedaulatan bahasa Indonesia.

“Melalui enam program prioritas Kemdikdasmen tepatnya pada poin enam, yaitu pembangunan bahasa dan sastra, BBPR turut menyukseskan program tersebut yang terdiri atas pemartabatan bahasa negara, peningkatan literasi, pelindungan bahasa dan sastra daerah, serta penginternasionalan bahasa Indonesia,” kata Umi.

***

PADA 2025 ini, kata Umi Kulsum, Tim Kerja Pembinaan dan Bahasa Hukum, menyelenggarakan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) bagi aparatur pemerintahan, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan dengan format hibrida, yakni tatap muda dan daring. PKBI secara tatap muka dilaksanakan di Indragiri Hulu (Inhu) dengan 59 peserta dan Indragiri Hilir (Inhil) dengan 65 peserta. Sementara itu, PKBI yang dilaksanakan secara daring terbagi menjadi dua kegiatan. Pertama, diberi nama Kelas Daring untuk Guru (Kadaru) yang menjadi ruang baru bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia (BI) untuk menambah pengetahuan kebahasaan dan kompetensi berbahasa Indonesia. Kadaru diikuti oleh 111 guru BI.


Sedang kelas daring diperuntukkan bagi mahasiswa jurusan non-Bahasa Indonesia yang diikuti sejumlah 62 mahasiswa. Tim Pembinaan dan Bahasa Hukum juga melaksanakan Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik dan Dokumen Lembaga dengan jumlah lembaga binaan (lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swasta berbadan hukum) sebanyak 50 lembaga dengan 64% terjadi peningkatan dari target 59,93%.

BBPR juga menerima sejumlah permintaan layanan kebahasaaan dan kesastraan dari berbagai instansi, lembaga, kampus, sekolah, dan komunitas. Permintaan layanan dan produk kebahasaan ini berupa narasumber, juri, penyunting, penerjemah, instruktur literasi, penyuluh, dan ahli bahasa. Layanan ahli bahasa dalam tindak pidana menjadi yang paling banyak diminta dengan jumlah 21 permintaan. Layanan lain seperti penyunting/instruktur/narasumber kebahasaan memperoleh 5 permintaan, sementara penyuluh/instruktur/narasumber kesastraan menerima 1 permintaan. Jenis kasus yang ditangani paling banyak ialah penghinaan atau pencemaran nama baik sejumlah 17 kasus, disusul pengancaman sejumlah 3 kasus. Selain itu, terdapat 1 kasus yang termasuk dalam kategori kasus lain.

Sementara itu, Tim Kerja Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) telah melayani 6.281dari target 5.242 orang peserta uji dari Januari—12 Desember 2025 dan tercapainya 46% jumlah peuji yang meraih predikat sesuai dengan standar kemahiran berbahasa Indonesia berdasarkan Permendikbud Nomor 70 Tahun 2016. Tim Kerja UKBI juga menginisiasi penghargaan “Aksi Cinta UKBI 2025” yang diberikan kepada para peraih terbaik dari berbagai kategori. Penghargaan ini bertujuan memberikan apresiasi kepada dinas, sekolah, dan siswa SMP/SMA/sederajat yang berpartisipasi dalam pemanfaatan UKBI Adaptif.

Hal lain yang dilakukan oleh tim UKBI dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dengan mengadakan pengenalan uji coba UKBI Disabilitas Rungu ke SLBN Pembina Pekanbaru. Tujuan kegiatan ini, mengupayakan peningkatan berbahasa Indonesia yang disesuaikan dengan sistem dan fungsi anak-anak disabilitas rungu. Selain itu, tim kerja UKBI mengantar SMPN Binaan Khusus Kota Dumai dan SMAS Cendana Pekanbaru meraih Apresiasi Giat UKBI Adaptif Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen.

Pada bagian lain, BBPR melalui Tim Kerja Literasi telah mengupayakan Pembinaan Literasi Generasi Muda bersama Duta Bahasa di 3 kabupaten, yaitu Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu. Total peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 660 orang. Dalam pelaksanaannya, Tim Literasi membagi pembinaan ini berdasarkan jenjang SD, SMP, dan SMA. Untuk SD, kegiatan dilaksanakan di Kampar dan dikuti oleh 200 siswa dan 20 guru. Jenjang SMP dilaksanakan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dikuti oleh 200 siswa dan 20 guru, serta jenjang SMA dilaksanakan di Rokan Hulu (Rohul) dan diikuti 200 siswa dan 20 guru.

Dalam pada itu, Tim Kerja Perkamusan dan Peristilahan telah menghimpun dan melebih target data pengayaan kosakata sejumlah 627 kosakata. Dari jumlah data tersebut, sebanyak 480 kosakata sudah lolos Sidang Komisi Bahasa Daerah (SKBD) dan dapat diusulkan ke dalam KBBI. Capaian lain yang dilaksanakan tim kerja ini adalah penyusunan buku dengan judul Senarai Kosakata Bahasa Melayu Riau dalam format cetak dan digital. Selain itu, produk pengembangan yang dilakukan oleh tim ini ialah penyusunan draf cetak Kamus Dwibahasa Indonesia-Melayu Pelalawan.

“Kami juga membuka diri jika ada usulan kosakata dari masyarakat untuk memperkaya lema KBBI. Tentunya disaring dulu dan dinilai oleh tim di pusat,” jelas perempuan yang menyelesaikan doktoralnya di Universitas Padjajaran (Unpad) ini.

***

KERJA keras juga dilakukan Tim Kerja Pemodernan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra (Molin Bastra) yang telah melatih 234 guru utama dalam kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) Melayu Riau di empat kabupaten, yaitu Bengkalis (diikuti 60 orang), Siak (60 orang), Rohil (56 orang), dan Rohul (58 orang). Sebanyak 234 guru utama yang telah dilatih selanjutnya melakukan pengimbasan penggunaan bahasa daerah melalui kegiatan bersastra di sekolah masing-masing. Pengimbasan dilakukan kepada siswa dan rekan sejawat, baik di dalam kelas, secara berkelompok, maupun melalui pemodelan, dengan menggunakan modul bahan ajar yang telah disiapkan sesuai jenjang pendidikan SD/SMP atau sederajat. Tim juga melaksanakan upaya untuk memajukan dan melestarikan bahasa daerah kepada generasi muda melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang diikuti 112 siswa SD/SMP/sederajat dan 8 guru pendamping dari Siak, Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Bengkalis. FTBI Riau tahun ini diisi dengan 7 mata lomba, seperti komedi tunggal, menulis aksara Arab-Melayu, membaca dan menulis puisi, berpidato, mendongeng, tembang tradisi, dan menulis cerita pendek menggunakan bahasa daerah.

Selain itu, melalui Tim Kerja Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), juga diselenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Bahan Ajar BIPA Berbasis Budaya Melayu Riau secara daring yang diikuti oleh para pengajar BIPA di Riau. Tim BIPA juga Bimtek Peningkatan Kompetensi Pengajar berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), yang diikuti oleh 35 peserta dari berbagai institusi, seperti perguruan tinggi, komunitas, dan sekolah. Selain itu, dilaksanakan pula Kumpul Komunitas BIPA yang diikuti oleh pemelajar BIPA dari berbagai negara, seperti Jerman, India, Brazil, Afrika Selatan, Nigeria, Yaman, Malaysia, Thailand, dan Timor Leste, yang sedang belajar di beberapa kampus dan sekolah di Pekanbaru. Kegiatan Kumpul BIPA yang diinisiasi oleh Tim BIPA BBPR ini bertujuan menyediakan wahana unjuk kemahiran dan kreativitas warga negara asing dalam bertutur dan menulis kreatif menggunakan bahasa Indonesia serta memahami peradaban, masyarakat, dan kebudayaan Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan melalui berbagai lomba berbahasa Indonesia.

Melalui Tim Kerja Penerjemahan, juga telah melaksanakan penerjemahan buku cerita anak dwibahasa yang bermutu dan menarik. Dari target awal sebanyak 40 produk, Tim Kerja Penerjemahan berhasil melampaui target dengan capaian 120%, yaitu sebanyak 48 produk penerjemahan yang terdiri atas 16 buku cerita anak dwibahasa jenjang BI dari Pekanbaru, 16 buku cerita anak dwibahasa jenjang C dari Pelalawan, dan 16 buku cerita anak dwibahasa jenjang C dari Dumai.

Yang terakhir, BBPR memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang telah berjasa dan tunak melestarikan bahasa dan sastra di Provinsi Riau. Penghargaan ini diberi nama Anugerah Mahkota Kalam Melayu Riau 2025. Anugerah ini terdiri atas penghargaan Tokoh Sastra Lisan Riau Terpilih kepada Taslim bin Faham (Rohul), penghargaan Komunitas Sastra Riau Terpilih kepada Forum Lingkar Pena Wilayah Riau, dan penghargaan Komunitas Literasi Riau Terpilih kepada TBM Rumah Pustaka Bintang (Dumai).

“Kinerja dan pencapaian yang kami lakukan ini adalah kerja keras bahwa dengan anggaran yang minimal kami harus tetap kerja maksimal. Mungkin di luar kerja kami ini tidak terlihat, tetapi kami terus bekerja untuk membantu masyarakat dalam membangun kebahasaan dan kesastraan yang memang menjadi tugas kami,” kata Umi lagi.***

Editor : Bayu Saputra
#ranggi #balai bahasa #balai bahasa riau