Meski sempat ditunda, Riau Mangrove Arts & Cultural Festival (Rimacfest) 2025 akhirnya digelar. Sebuah festival yang memadukan seni-budaya dengan isu lingkungan, yakni mangrove.
Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru
BERAWAL dari pemikiran adanya sebuah festival tahunan yang diselenggarakan Suku Seni Riau di luar Festival Sastra Melayu Riau yang sudah memasuki tahun ketiga –juga dengan jenis festival yang berbeda— Riau Mangrove Arts & Cultural Festival (Rimacfest) 2025 akhirnya terlaksana pada 23-25 Desember 2025 lalu.
Isu lingkungan mengemuka dan menjadi sebuah pilihan karena Suku Seni selama ini telah banyak membuat karya berbasis isu itu. Kepala Suku Seni Riau yang juga Direktur Rimacfest 2025, Marhalim Zaini, menjelaskan, persoalan lingkungan pesisir pulau dengan mangrove sebagai isu utama di Bengkalis dan daerah pesisir lainnya, kemudian dipilih. Saat pulang kampung ke Bengkalis, yakni di Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, dia bertemu dengan beberapa pihak pegiat mangrove, baik dari desa maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sana. Setelah itu dikonsep dan disertakan dalam proposal tahun kedua Dukungan Institusional dari Dana Indonesiana sebagai program publik dan kolaborasi.
Dijelaskannya, isu lingkungan dan seni-budaya bukan isu baru. Banyak orang melakukannya. Khusus Rimacfest, tujuannya adalah edukasi dan kampanye tentang mangrove melalui seni budaya. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan selama ini oleh pegiat mangrove di Pambang, antara lain oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) khususnya dalam upaya konservasi mangrove. Mereka fokus melakukan konservasi, Suku Seni fokus edukasinya. Jadi sinergis dan saling mengisi.
“Saat berdiskusi lebih intens dengan banyak pihak, cakupan festival makin luas, yang awalnya bernama Rimaf: Riau Mangrove Art Festival, lalu jadi Rimacfest (ditambah unsur budayanya, red),” kata Marhalim kepada Riau Pos, belum lama ini.
Marhalim dan tim Suku Seni Riau lega dengan terselenggaranya festival ini. Sebab sempat pesimis festival ini bisa terlaksana. Ini sebetulnya program yang masuk dalam tahun kedua untuk termin kedua dalam program yang didanai Indonesiana tersebut dan semestinya dilaksanakan tahun 2024 akhir. Tapi karena masa transisi pemerintahan, Dana Indonesiana terjeda, karena pengelola berubah. Padahal pada 2024 itu beberapa persiapan sudah dilakukan, sempat berada dalam ketidakjelasan dan akhirnya dipending.
Kegiatan ini masuk dalam program publik dan kolaborasi, kata penulis novel Getah Bunga Rimba ini, maka melibatkan lebih banyak di lokasi acara. Dipilih Pambang, Bengkalis, karena relevansi isu tersebut, juga soal bagaimana membuat kegiatan seni budaya di kampung yang jauh, yang jarang tersentuh oleh iven-iven seperti ini. Maka, katanya, masyarakat Desa Teluk Pambang dan desa lainnya di Kecamatan Bantan, berperan menjadi pelaku utama. Mulai dari narasumber dan juri kegiatan hampir semua dari Bengkalis. Peserta festival juga diutamakan dari sana dan beberapa dari Pekanbaru.
Beberapa narasumber yang terlibat antara lain akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim Dr M Badri. Kemudian ada Musrial Mustafa, Joni Hendri, Sobirin Zaini, Amir, Dewi Melinda, Laposa Mirdja, dll. Tidak semua dari seniman, disesuaikan dengan kegiatan dan lomba. Ada pelatihan kopi mangrove, pelatihan pantun lingkungan, pelatihan menulis lingkungan, lomba baca puisi lingkungkan, lomba menggambar dan mewarnai biota, dll. Melibatkan siswa sekolah dan masyarakat umum.
Selain tujuan yang sudah dijelaskan di atas, kata sutradara dan penulis naskah drama Panggil Aku Sakai yang dipentaskan di Jakarta akhir tahun 2025 lalu itu, festival ini juga diharapkan menjadi ruang budaya yang inklusif karena pelibatan dan pemberdayaan masyarakat secara luas. Sehingga akan diupayakan menjadi festival lingkungan tahunan. Tentu diharapkan berdampak pada bangkitnya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap hutan mangrove.
“Kami yakin melalui seni budaya, hal itu cukup efektif, apalagi sasaran utamanya kepada generasi muda, mulai dari anak-anak sampai remaja,” ujar alumni FIB Universitas Gadjah Mada ini.
Untuk pendanaan, karena mepetnya waktu persiapan pelaksanaan, pihaknya tidak sempat mencari pendanaan yang lain, selain Dana Indonesiana. Namun dukungan masyarakat dan berbagai pihak membantu dalam hal-hal teknis, tenaga, tempat, dan kegiatan. Tahun ini 2026 ini pihaknya akan mempersiapkan jauh-jauh hari agar lebih leluasa mencari pendanaan, karena juga tahun ini belum tahu apakah masih bisa didanai oleh Dana Indonesiana lagi atau tidak.
Marhalim dan Suku Seni bersyukur dengan respon masyarakat yang sangat antusias. Itu bisa dilihat dari keterlibatan mereka sejak persiapan hingga saat kegiatan. Bagi mereka ini tentu hal baru dan memberikan sajian kegiatan yang baru pula. Sementara sebetulnya berbagai item kegiatan seni budaya itu masih mereka kuasai dengan baik. Beberapa ditampilkan dalam pnggung seni selama tiga malam berturut-turut di Rumah Suku Seni dan Balai Desa Teluk Pambang.
Festival ini memang sengaja fokus melibatkan masyarakat dan pemerintah desa untuk tahun ini. Ini karena persiapan yang cukup pendek, liburan akhir Desember, Nataru. Jadi Pemda belum terlibat dalam festival tahun ini. Marhalim menganggap tahun pertama ini menjadi pemantik dan pendorong untuk pelaksanaa tahun berikutnya yang tentu berharap respon baik dari pemerintah setempat, yakni Bengkalis.
Dia juga bersyukur, secara umum masalah besar tidak ada, karena telah dikerjakan secara gotong-royong dan didukung masyarakat setempat. Hanya mungkin, katanya, kerjanya yang harus lebih ekstra karena waktu persiapan yang mepet. Sebab proses administrasi pembiayaan berlangsung cukup lama dan agak mepet, kegiatan harus terlaksana di Desember 2025.
Secara umum, katanya, apa yang diinginkan dalam festival ini sampai. Hal kecil yang menjadi contoh, misalnya para peserta, baik lomba maupun pelatihan yang terdorong untuk mencari referensi tentang mangrove, baik bertanya langsung dengan orang tua mereka, maupun mencari di internet, sebagai bahan mereka. Ibu-ibu yang ikut festival juga terdorong mencipta menu-menu baru untuk mengelola biota mangrove menjadi masakan yang tidak biasa, juga terdorong untuk memproduksi kopi mangrove. Artinya aspek edukasi dan promosinya tercapai. Selain tentu membangkitkan potensi seni budaya pesisir yang selama ini tenggelam.
Marhalim berharap festival ini terus terselenggarakan dan berkembang. Meski gambaran pembiayaan belum ada, tapi Suku Seni bertekad akan mengupayakannya bersama-sama dengan pihak di Teluk Pambang, serta pihak lain. Di Teluk Pambang, sudah didirikan Balai Suku Seni, sebuah bangunan yang merupakan lokasi yang berdiri setahun lalu ketika ada kegiatan di sana yang menjadi bagian dari organisasi Suku Seni. Bangunan tersebut memang diniatkan sebagai ruang budaya yang terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas seni budaya dan kemasyarakatan, yang selama setahun ini telah digunakan dan dirasakan kebermanfaatannya.
Salah satu pemateri dalam festival ini, Dr M Badri, menjelaskan, Rimacfest adalah salah satu festival yang berbeda dan menarik. Alasannya, kata dia, pertama, festival ini diselenggarakan di salah satu ujung pulau terluar yang mungkin jauh dari hiruk-pikuk kegiatan festival sastra dan seni yang selama ini sering dihelat di perkotaan. Kedua, festival ini mengangkat isu ekologi yang lekat dengan kondisi lingkungan dan sosial Teluk Pambang, yaitu masalah mangrove. Ketiga, festival ini punya visi besar yaitu bagaimana seni dan budaya bisa menjadi medium untuk pelestarian lingkungan, khususnya konservasi mangrove.
“Pilihan kata ‘mangrove’ menjadi distingsi tersendiri, di mana simbol alam dipilih untuk branding, bukan kebanyakan festival memilih nama bangunan, daerah, atau kota,” ujar alumni doktoral Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Dalam festival ini, lelaki kelahiran Blitar (Jawa Timur) yang besar di Kuantan Singingi ini terlibat menjadi narasumber pelatihan menulis cerita tentang mangrove. Selain itu, dia mengaku juga melakukan riset tentang konservasi mangrove. Jelasnya, seni dan budaya sebenarnya merupakan salah satu pendekatan dalam aktivitas ekologi termasuk konservasi.
Alasan lain tentang menarik dan uniknya festival ini adalah tidak hanya tentang seni dan budaya sebagai pertunjukan, tapi juga ada sisi pemberdayaan berbasis lokalitas. Misalnya ada pelatihan kuliner biota mangrove, pelatihan kopi mangrove, dan lain-lain. Selain itu pelatihan dan perlombaan bertema mangrove yang diikuti anak-anak muda, termasuk Gen Alpha, merupakan upaya membangun kesadaran kolektif bahwa konservasi mangrove itu penting utk keberlanjutan.
“Pilihan simbol-simbol ekologi sebagai branding festival sepertinya merupakan suatu kebaruan,” tambahnya.
Badri berharap, festival ini menjadi agenda tahunan, karena branding-nya unik. Juga semakin banyak pihak yang terlibat, kemasannya dikembangkan, dan jangkauannya diperluas. Misalnya ada residensi penulis dari berbagai daerah atau negara untuk mengangkat isu ekologi dan sosial budaya daerah itu. Dia yakin, jika itu dilakukan, festival ini akan lebih menarik lagi.***
Editor : Arif Oktafian