Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diskusi Sastra Komunitas Paragraf Ketika Banyak Penyair Dadakan Muncul, Ada Apa?

Edwar Yaman • Minggu, 1 Februari 2026 | 12:51 WIB
Penyair dan akademisi, Murparsaulian (kanan), didampingi moderator Sy Qanita Humairah, saat diskusi “Mendadak Penyair: Perkembangan Dunia Puisi Riau Terkini” di Kafe Anjungan, Bandar Serai, Pekanbaru,
Penyair dan akademisi, Murparsaulian (kanan), didampingi moderator Sy Qanita Humairah, saat diskusi “Mendadak Penyair: Perkembangan Dunia Puisi Riau Terkini” di Kafe Anjungan, Bandar Serai, Pekanbaru,

Banyak penyair dadakan yang muncul di era digital dan media sosial seperti sekarang. Namun, sebenarnya, fenomena itu sudah ada sebelum era itu muncul.


SEJAK lama, dunia puisi atau dunia syair digandrungi banyak orang. Menjadi penyair --atau pemuisi-- atau menjadi sastrawan, dianggap memiliki kelas tersendiri dalam masyarakat. Seorang sastrawan –termasuk peyair di dalamnya—dianggap orang bijak dan adiluhung. Di zaman dulu para sastrawan disebut pujangga. Orang-orang yang memperlakukan bahasa sebagai kasta tinggi dalam kehidupan. Mereka dipuja sebagaimana karyanya.

Yang terjadi, banyak orang yang ingin menjadi sastrawan, juga penyair. Mereka membuat syair-syair indah penuh metafor. Kadang mudah dipahami, tapi banyak yang dianggap rumit, dan harus mencari maknanya secara mendalam dengan banyak referensi. Bahasa yang dianggap “tinggi” oleh orang kebanyakan, juga keindahannya, masuk ke ruang-ruang jiwa banyak orang. Kadang tak paham, tetapi terasa menyentuh jiwa. Di masa lalu, pujangga atau sastrawan adalah intelektual kelas atas.

Penyair yang juga akademisi Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Murparsaulian, menjelaskan, saat ini banyak orang yang mengaku dirinya penyair, atau sastrawan. Menurutnya, pengakuan seseorang yang menyebut dirinya penyair, tidak bisa langsung dihakimi. Setiap orang berhak menamai dirinya sendiri. Namun, kata dia, persoalan kebudayaan tidak berhenti pada hak personal. Di ruang publik, sebuah sebutan menuntut legitimasi. Kepenyairan tidak cukup ditegakkan oleh pengakuan, melainkan oleh proses kreatif, keberanian estetik, dan karya yang dapat diuji oleh waktu.

Mur –begitu dia dipanggil— menjelaskan itu ketika menjadi pembicara tunggal dalam diskusi bertajuk “Mendadak Penyair: Perkembangan Dunia Puisi Riau Terkini” yang diselenggarakan Yayasan Palagan Pustaka Riau dan Komunitas Paragraf di Kafe Anjungan, Bandar Serai, Pekanbaru, Ahad (25/1/2026). Dipandu oleh Sy Qanita Humairah, diskusi ini dihadiri hampir 30 peserta yang terdiri dari para sastrawan, pegiat literasi, pecinta buku sastra, dan yang lainnya. Mereka antara lain pendiri dan Kepala Suku Seni Riau, Marhalim Zaini; Ketua Rumah Sunting, Kunni Masrohanti; pendiri dan Ketua Escewe dan Berida Tutur, Siti Salmah; Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Indonesia, Sugiarti; dan pengurus FLP Indonesia dan Kepala Sekolah SMA Cendana Rumbai, Bambang Kariyawan YS.

Lalu ada mantan Ketua Jaringan Teater Riau, Rian Kurniawan Harahap; Ketua Yayasan Begawai, Beni Riaw; penggerak komunitas buku Rangurai, Muhammad Hafiz dan Febry F Purba; Azhar Gultom (Riau Sastra), Rio Rozalmi, Hening Wicara, dan Nurhikmah (FLP) Joni Hendri dan Dion R Pra (Suku Seni), Mulyati Umar (TB Mentari Sago), dan peserta lain yang mewakili komunitas atau pribadi. Dari tuan rumah, Komunitas Paragraf, ada Anton WP, Redovan Jamil, Melisa Nofem, Dini Afrianti, Iola Salsabila, dan Salma RD.

Ketua Yayasan Palagan Pustaka Riau dan Komunitas Paragraf, Hary B Koriun, saat membuka acara menjelaskan tentang perjalanan panjang Komunitas Paragraf yang didirikannya bersama Marhalim, Olyrinson, dan Budy Utamy pada 2007. Dalam usia yang menginjak 19 tahun, kata dia, Paragraf adalah rumah bagi para sastrawan muda yang bertumbuh dan belajar bersama. Pelan-pelan, satu demi satu mereka berkembang dan karya-karyanya mulai diperhitungkan di blantika sastra Riau maupun Indonesia. Mereka, sekadar menyebut nama, misalnya Boy Riza Utama, Cikie Wahab, Cahaya Buah Hati, Jenni Fitriasa, May Moon Nasution, Alpha Hambally, Nurdiansyah, Recky Arfal, Anju Zasdar, Zurnila, dan masih banyak lagi.

Di masanya, dan hingga sekarang, kata Hary, karya mereka mampu menembus media arus utama seperti Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Koran Tempo, dan yang lainnya. Mereka juga sudah banyak yang menerbitkan buku tunggal maupun antalogi bersama, dan diperhitungkan secara nasional. Sebagai sebuah komunitas sastra, terjadi pasang dan surut, juga mengalami kevakuman yang lumayan panjang karena kesibukan para pendiri maupun para anggotanya.

“Saya berharap Komunitas Paragraf kembali eksis seperti dulu. Hampir tiga tahun ini kami mencoba membangunnya kembali. Salah satunya lewat diskusi-diskusi seperti ini, sambil membantu teman-teman yang muda belajar menghasilkan karya yang baik,” kata lelaki yang baru saja menerbitkan buku jurnalistik berjudul Jurnalisme Budaya: Mereka yang Terus Menyalakan Api Kebudayaan tersebut.

***

DALAM diskusi tersebut, Mur menjelaskan, saat ini banyak prilaku yang “tidak elok” ketika ada seseorang yang mengaku penyair, tetapi tidak memiliki puisi. Ke mana-mana membaca puisi, namun yang dibaca adalah karya orang lain, bukan karya sendiri. Ia piawai di panggung, lantang dalam deklamasi, namun nihil proses kreatif. Dalam konteks ini, kata Mur, orang tersebut lebih tepat disebut deklamator atau pembaca puisi, bukan penyair. Sebab penyair lahir dari kerja sunyi: menulis, menggali, dan mengolah bahasa menjadi pengalaman batin yang otentik.

Karya sastra, termasuk puisi, kata perempuan yang pernah menetap di Belanda, Belgia, dan Australia ini, tidak berhenti pada keindahan kata. Ia mesti memberi pencerahan, menghaluskan akal budi, dan dalam skala yang lebih luas, menjadi penanda peradaban serta identitas sebuah bangsa. Dia mencontohkan bagaimana Rabindranath Tagore memberi warna pada kesusastraan India. Peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1913 itu tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menanamkan nilai spiritual, kemanusiaan, dan kebangsaan yang hidup lintas zaman. Contoh lainnya, Pablo Neruda –penyair dan mantan senator Cili-- dengan puisi-puisi yang politis dan membumi; TS Eliot –sastrawan Amerika Serikat-- dengan modernisme yang reflektif; atau Federico García Lorca (sastrawan Spanyol) dengan lirisme yang berakar pada tradisi Andalusia.

“Para penyair ini tidak sekadar dikenang karena kata-kata indah, melainkan karena kebermanfaatan estetik dan kultural yang mereka wariskan dari zaman ke zaman,” kata perempuan yang juga seorang presenter ini.

Berdasarkan pengalaman dirinya tinggal di Eropa, memperkuat keyakinan itu. Mur bercerita, suatu ketika di Pulau Sisilia, dalam sebuah kegiatan kebudayaan, dia duduk berbincang di bawah pohon rindang dengan seorang penggembala domba. Ia bukan akademisi, bukan pula sastrawan. Namun dengan penuh semangat, ia menyebut nama Luigi Pirandello, peraih Nobel Sastra Italia, beserta karya terkenalnya Six Characters in Search of an Author (Enam Tokoh Mencari Pengarang). Mur dan lelaki itu berdiskusi hangat tentang gagasan identitas dan absurditas hidup. Mur kaget. Lelaki itu kenal dengan baik Pirandillo beserta karyanya. Hal yang menurutnya jarang terjadi di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dan Riau hari ini? Harus diakui, sastra kita—terutama di daerah— belum sepenuhnya membumi. Nama-nama sastrawan kerap hanya beredar di ruang-ruang terbatas: kampus, komunitas, atau forum sastra. Belum menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat luas. Minimnya ruang baca, rendahnya minat literasi, serta kurangnya integrasi sastra dalam pendidikan dan media arus utama menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.

“Masuklah ke sekolah-sekolah. Lalu sebut nama beberapa penyair Riau, jangankan murid, guru saja banyak yang tidak tahu,” kata penulis buku kumpulan puisi Pulang ini.

Bahkan, kata dia, untuk sekelas Sutardji Calzoum Bachri saja masih banyak kalangan intelektual yang tidak mengenal, apalagi seorang petani atau peternak yang tinggal di pedesaan. Ini baru soal mengenal nama, belum apakah dia membaca karyanya atau tidak.

Pada titik itu, Mur sadar: di Eropa dan negara maju lainnya, sastra telah membumi, hidup dalam kesadaran masyarakat paling sederhana sekalipun. Menurutnya, pemerintah (Indonesia) punya pekerjaan rumah (PR) besar tentang ini. Bagaimana sastra di tanah air bisa hadir di semua lini, tidak hanya di kalangan sastrawan itu sendiri dan segelintir kelompok atau kalangan di luarnya.

***

Lalu, di Riau bagaimana? Dunia perpuisian Riau punya sejarah panjang. Riau punya Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Edi Ruslan Pe Amanriza, Idrus Tintin, Rida K Liamsi, dan lain-lain. Setelah itu hadir Fakhrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Aris Abeba, TM Sum, Herman Rante, dan seterusnya. Disusul generasi Syaukani Al-Karim, Marhalim Zaini, Budy Utami, Kunni Masrohanti, Hang Kafrawi, Ramon Damora, Jefri Al Malay, hingga generasi Alvi Puspita Boy Riza, May Moon Nasution, dan generasi yang lebih dekat dengan hari ini seperti Pusvi Devi, Redovan Jamil, Muhammad Asqalani, dan seterusnya.

Menariknya, kata perempuan yang pernah bekerja sebagai wartawan di Riau Pos dan Rtv ini, para penyair terdahulu menempuh proses pengkaryaan yang panjang dan ketat. Karya mereka melewati kurasi media nasional, diuji oleh redaktur dan kritik, serta dibukukan melalui seleksi yang serius.

“Hari ini, lanskap itu berubah drastis. Dengan kemudahan teknologi, siapa pun dapat menerbitkan buku puisi secara mandiri, mempublikasikan karya di media sosial, dan menyebut dirinya penyair—tanpa kurasi, tanpa dialog kritis,” jelas perempuan yang pernah diundang untuk membacakan puisinya di berbagai panggung kesenian dan kebudayaan seperti Taman Ismail Marzuki (Jakarta), Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM Kuala Lumpur), Singapura, dan lainnya ini.

Dunia digital, katanya, telah membuka ruang demokratisasi sastra, memberi peluang bagi suara-suara yang dulu terpinggirkan. Namun di sisi lain, ia juga melahirkan ilusi: bahwa viral adalah kualitas, bahwa popularitas adalah legitimasi. Padahal karya yang viral belum tentu menetap di ingatan. Ia sering kali hanya singgah, lalu lenyap, lepas luncas terbawa angin. Hari ini, banyak yang malah terkenal karena berhasil mem-branding dirinya di dunia digital sebagai penyair, walaupun publik sastra bertanya: apa karyanya? Sejak kapan ia jadi penyair? Bahkan ada yang rela mengeluarkan sejumlah uang untuk mem-branding dirinya sebagai penyair. Dia berhasil membangun ‘’citra’’, namun belum tentu mendapat tempat di hati pembaca. Media sosial memungkinkan hal itu terjadi: puisi yang dibuat secara mendalam dengan kurasi ketat tapi tak dibaca banyak orang, sedangkan yang dibuat orang yang kompetensinya di bidang puisi rendah namun viral di media sosial dianggap bagus dan berkualitas.

Dia membandingkan, penyair-penyair kelas dunia tidak berniat untuk viral. Mereka berkarya di ruang sunyi. Namun puisi-puisi mereka lekat di relung hati banyak orang, terpatri jadi karya abadi, jadi panutan dan dihargai. Karya masterpiece lahir dari kesungguhan, bertahan melampaui zaman, dan terus dibicarakan karena kedalaman makna serta kejujuran estetiknya. Itulah sertifikasi sahih mereka. Sementara penyair “dadakan” mungkin cepat dikenal, namun cepat pula dilupakan, sebab misinya bukan berkarya, melainkan sekadar terlihat, bahkan hanya sekadar mencari panggung. Juga mencari cuan.

“Pada akhirnya, menjadi penyair bukan soal pengakuan, tetapi soal tanggung jawab. Tanggung jawab pada kata, pada makna, dan waktu. Sebab puisi sejati tidak lahir untuk hari ini saja. Ia ditulis untuk diuji oleh zaman, dan hanya yang sungguh-sungguhlah yang akan tetap hidup di sana,” kata perempuan yang karya puisi atau cerpennya pernah dimuat di berbagai media, seperti Horison, majalah Dewan Bahasa (Malaysia), majalah Sagang, Riau Pos, majalah Menyimak, dll.

Dalam sesi diskusi yang dibuka dalam tiga bagian itu, ada lebih dari 10 penanggap. Marhalim Zaini sepakat dengan Mur bahwa dunia perpusian memang berubah. Sutardji bisa dengan yakin disebut penyair, karena pengalamannya dan waktu yang mengujinya: ketunakan. Bahkan saat sakit saat ini, dia tetap berpuisi. “Penyair adalah seniman. Seniman adalah laku. Selama dia menjalani dunia kepenyairan itu sepanjang hidupnya maka dia aadalah penyair. Dia terus menulis dan menggali nilai-nilai dalam dirinya sepanjang hidupnya,” kata Marhalim.

Penanggap lainnya seperti Kunni Masrohanti, Sugiarti, Siti Salmah, Bambang Karyawan, Febry Purba, Joni Hendri, Anton WP, Redovan Jamil, dan lainnya, menanggapi dengan memberikan wacana tentang banyaknya persoalan dalam dunia perpusian kita. Tapi secara ringkas Murparsaulian menanggapinya bahwa jika ingin tunak menjadi penyair, harus terus berkarya dan tentukan tujuan berkarya. Terus setia pada dunia puisi di tengah apa yang terjadi, dari fakta dunia digital ataupun yang lain. Dia setuju dengan pendapat Marhalim: ketunakan.***

Editor : Bayu Saputra
#penyair #sastra #kebudayaan #penyair riau