Dengan pengetatan anggaran yang terus terjadi dari pemerintah pusat, Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) berusaha tetap maksimal dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan. Sebuah komitmen untuk membantu meningkatkan SDM kebudayaan di Riau.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - PADA pekan kedua April 2026, Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) menyelenggarakan dua kegiatan penguatan sumber daya manusia (SDM) di dua tempat berbeda, dalam waktu hampir bersamaan. Yang pertama, Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Kampar, yang berlangsung di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kampar, Bangkinang, Senin-Kamis, 13-16 April 2026. Yang kedua, Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2026 yang diselenggarakan di Pekanbaru, Selasa-Rabu, 14-15 April 2026.
Dua kegiatan ini merupakan rangkaian dari puluhan kegiatan yang diselenggarakan oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai program tahunan untuk membantu peningkatan kualitas tenaga-tenaga tertentu yang berhubungan dengan bahasa, sastra, dan kebudayaan secara luas. Dalam program-program yang dibuat, BBPR menyasar para guru dan siswa-siswi di berbagai jenjang pendidikan, pegiat literasi, pegiat sastra dan sastrawan, ASN, dan banyak lagi.
Dalam perbincangan dengan Riau Pos dalam beberapa kesempatan, Kepala BBPR, Dr Umi Kulsum, menjelaskan, pada beberapa tahun terakhir, pemerintah melakukan pengetatan anggaran –dan tahun 2026 ini jumlahnya menurun sangat drastis-- yang berimbas pada pengurangan item kegiatan yang diselenggarakan. Beberapa item yang sebelumnya bisa diselenggarakan 5-6 kali di berbagai kabupaten/kota di Riau, akhirnya dikurangi hanya 2-4 kali. Yang terjadi, satu kegiatan yang biasanya dalam dua tahun bisa diselenggarakan secara menyeluruh ke kabupaten/kota, ada kemungkinan akan memakan waktu 3-4 tahun baru semua daerah mendapatkan program tersebut.
Baca Juga: Ribuan Pengunjung Meriahkan Festival Budaya Bukit Batu
Namun, kata perempuan yang pernah menjadi Kepala Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, meski serbaterbatas, namun secara kualitas dia ingin tetap dipertahankan seperti biasanya. Dia berharap, tim-tim kerja internal BBPR yang menangani masing-masing kegiatan, tetap semangat dalam menjalankan tugasnya. Begitu juga dengan para peserta di berbagai daerah yang ikut, agar memanfaatkan kesempatan pelatihan atau kegiatan lainnya yang diselenggarakan oleh lembaga yang dipimpinnya.
“Kami tetap berusaha semaksimal mungkin menyelenggarakan semua kegiatan meski jumlahnya dikurangi. Kami tak bisa menghindari hal itu karena memang pengetatan anggaran dari pemerintah pusat yang terjadi di setiap tahunnya,” ujar perempuan kelahiran Brebes, Jawa Tengah, ini.
Di Kampar, Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olaharaga Kabupaten Kampar, Zulkifli Yunus, membuka kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Kampar, yang berlangsung di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kampar, Bangkinang, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Workshop Teater dan Pementasan Monolog, Upaya Melahirkan Aktor-Aktor Baru Teater Riau
Saat membuka kegiatan, Zulkifli Yunus menjelaskan, bahasa komunikasi pendidikan harus diiringi oleh “kesejahteraan” psikologi agar penerima pesan atau komunikan dapat menerima pesan dengan bahagia, tanpa merasa terintimidasi. Hal ini penting dan harus dipahami oleh para pendidik yang bersinggungan langsung dengan murid, terlebih yang masih berusia dini. Intinya, pendidikan harus dilakukan dengan penuh kesenangan dan keceriaan agar peserta didik tidak merasa dalam tekanan.
“Intinya, pendidikan harus diselenggarakan dalam suasana yang ceria dan bahagia. Dengan begitu peserta didik akan bisa menerima dengan baik apa yang diberikan guru-guru pendidiknya karena mereka mengikuti pendidikan dengan penuh kesenangan,” ujarnya.
Zulkifli juga sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh BBPR tersebut karena memilih guru-guru dan tenaga pendidikan SD di Kampar sebagai peserta pelatihan. Dia mengucapkan terima kasih kepada BBPR atas hal itu, yakni dalam ikut membantu menambah dan menaikkan pola pikir dan pengetahuan kepada mereka.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Tim Pembinaan dan Bahasa Hukum BBPR ini, juga dihadiri Plt Kasubbag Umum Disupusip Kampar Ratnawati, dan sekitar 50 peserta yang perupakan pendidik dan tenaga kependidikan dari sekolah dasar yang tersebar di Kabupaten Kampar.
Saat pembukaan kegiatan di Kota Bangkinang ini, Umi Kulsum juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu kelancaran kegiatan tersebut. “Saya sadar, dengan segala keterbatasan ini, semuanya harus tetap dijalankan semaksimal mungkin. Terima kasih kepada semua pihak yang membantu kesuksesan acara ini di Kampar, terutama Pemkab Kampar melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olaharaga Kabupaten Kampar, dan Dinas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kampar,” ujar mantan Kepala Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Balai Bahasa Jawa Timur tersebut.
Koordinator kegiatan PKBI di Kampar, Riyan Nofardo Putra, menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia bagi peserta. Pendidik dan tenaga kependidikan yang dalam pelaksanaan tugasnya memanfaatkan bahasa Indonesia secara lisan dan tulis dalam pembelajaran, administrasi, dan interaksi di lingkungan satuan pendidikan tentu perlu memperkuat penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Selain itu, peserta juga diharapkan mampu menghasilkan karya tulis berupa artikel sederhana. Keberhasilan giat ini dilihat melalui persentase peningkatan kualitas berbahasa setelah pelaksanaan kegiatan peningkatan kemahiran berbahasa yang diukur melalui perngerjaan tes awal dan tes akhir,” ujar Riyan.
Dalam kegiatan ini, beberapa narasumber yang memberikan materi adalah Adeliany Azfar yang menyampaikan materi Ejaan di hari pertama. Pada hari kedua, materi Bentuk dan Pilihan Kata disampaikan oleh Riyan Nofardo Putra, serta Ahmad Nawari menyampaikan materi Kalimat dan Paragraf. Pada hari ketiga, Rabu (15/4) peserta mendapatkan bimbingan langsung dari Redaktur Pelaksana Riau Pos, Hary B Koriun, mengenai Teknik dan Dasar Penulisan Artikel Populer.
Di akhir kegiatan, para peserta melakukan berpraktik menulis artikel yang dipandu langsung oleh Hary B Koriun, hingga mampu membuat tulisan yang runtut dan menerapkan kaidah kebahasaan. Meski hasilnya merupakan tulisan sederhana, Hary mengapresiasi keinginan para peserta yang antusias untuk belajar. Padahal mereka mengaku baru pertama kali ini –selain saat kuliah menulis tugas per mata kuliah dan tugas akhir— belajar dan praktik membuat karya tulis berupa esai atau opini.
Revitalisasi Bahasa Daerah
Pada bagian lain, Pemerintah Kota Pekanbaru memiliki komitmen yang kuat dalam pelestarian bahasa daerah, khususnya Bahasa Melayu, sebagai bahasa ibu masyarakat kita. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan serta satuan pendidikan, dengan melibatkan sekolah sebagai garda terdepan dalam pewarisan bahasa dan budaya kepada generasi muda.
Pemerintah Kota Pekanbaru menyadari bahwa bahasa Melayu Riau harus tetap dilestarikan karena beberapa alasan penting, yakni sebagai identitas dan jati diri daerah; sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi; pondasi pembentukan karakter generasi muda; pencegahan kepunahan bahasa daerah; dukungan pendidikan berbasis kearifan lokal; dan sebagai penguat kebanggaan daerah.
Hal itu dikatakan Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangungan Setda Pekanbaru, H Abdul Jamal, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2026 yang dilaksanakan di Pekanbaru pada Selasa hingga Rau, 14–15 April 2026 oleh Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR).
“Saya berharap melalui kegiatan bimbingan teknis ini, para peserta dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengajarkan bahasa Melayu secara menarik, inovatif, dan kontekstual kepada peserta didik. Dengan demikian, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan bahasa daerah di Kota Pekanbaru,” ujar Agung yang disampaikan Jamal.
Ada 60 guru SD dan SMP mengikuti kegiatan tersebut. Mereka yang ikut adalah para kepala sekolah SD dan SMP, serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Budaya Melayu Riau se-Kota Pekanbaru.
Saat acara bimtek di Pekanbaru ini, Umi Kulsum mengatakan, bimtek ini merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa dan sastra daerah yang tengah digencarkan pihaknya. Seperti yang disampaikan Wali Kota Pekanbaru, kata Umi, bahasa Melayu Riau yang merupakan dasar dari bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa persatuan, harus terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Umi juga berharap, kegiatan ini akanmenumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu, khususnya Bahasa Melayu Riau.
“Bimtek ini merupakan tahapan ketiga setelah penyusunan modul dan rapat koordinasi dengan para pemangku kepentingan. Para peserta nantinya wajib mengimbaskan ilmu yang diperoleh kepada guru lain di sekolahnya, hingga akhirnya sampai kepada siswa,” ujar Umi.
Dalam kegiatan ini, BBPR menghadirkan tujuh narasumber berkompeten di bidang masing-masing, yakni Hasnah Hafizah, Hary B Koriun, Siska Armiza, Kunni Masrohanti, Aina Maslekha, Amran Syarifudin, dan Gegana Agung Putra. Beragam materi diberikan kepada peserta, mulai dari menulis dan membaca huruf Arab Melayu, penulisan cerpen berbahasa Melayu, hingga pelatihan mendongeng, berpidato, serta mencipta puisi, dan tembang tradisi. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan pendekatan kekinian dalam pengajaran bahasa daerah.
Koordinator kegiatan ini, Irwanto SPd, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung bimtek ini. Termasuk para peserta, narasumber, dan para peserta yang penuh semangat dan aktif mengikuti kegiatan. “Semoga ilmu yang diberikan oleh para narasumber bisa diserap oleh semua peserta dan bisa ditularkan kepada guru lain dan siswa di sekolah masing-masing,” kata Irwanto.
Irwanto menjelaskan, Bimtek RBD tahun ini dilakukan di 4 kabupaten dan kota di Riau. Kegiatan ini bermuara pada kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat provinsi bulan November 2026 di Pekanbaru. Kegiatan RBD tahun ini memasuki tahun ketiga. Sehingga, Bimtek RBD sudah dilakukan di semua kabupaten dan kota di Riau.
Pada tahun pertama, 2024, hanya 4 daerah yang menjadi daerah sasaran, yakni Indragiri Hulu, Kampar, Dumai, dan Meranti. Jadi, yang ikut FTBI ketika itu hanya empat daerah tersebut. Tahun 2025, Bimtek RBD dilaksanakan di 4 kabupaten, yaitu Rokan Hulu, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Siak. Dengan demikian, FTBI tingkat provinsi pada tahun itu melibatkan delapan daerah yang sudah mendapat kegiatan RBD karena sekolah sudah melakukan pengimbasan. Sedangkan tahun 2026, daerah sasaran RBD adalah Pekanbaru, Pelalawan, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir.
“Pada tahun 2026 ini, FTBI akan diikuti oleh seluruh kabupaten/kota di Riau,” ujar Irwanto.
Dijelaskannya lagi, Bimtek RBD dan pengimbasan menjadi tolok ukur dari sebuah keberhasilan dari program pelestarian bahasa daerah, yaitu bahasa Melayu Riau. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah setiap tahun memberikan apresiasi terhadap daerah yang dinilai baik dalam melaksanakan kegiatan pelestarian bahasa daerah. Tahun 2025, Kota Dumai di Riau menjadi satu-satunya daerah yang menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai daerah yang dinilai berprestasi dalam upaya pelestarian bahasa daerah di Riau. Dumai juga menjadi daerah terbanyak dalam meraih juara dalam FTBI tingkat Provinsi Riau tahun 2024. Tahun 2026, Rokan Hulu menjadi perwakilan dari Riau yang akan menerima penghargaan serupa dari kementerian.***
Editor : Bayu Saputra