Dengan berazam memunculkan kekhasan seni rupa Riau, kartunis Furqon LW menyelenggarakan pelatihan teknik dasar kaligrafi. Pelatihan ini mengajarkan para peserta dalam menciptakan khat khat Melayu Riau.
RUANGAN serbaguna LPTQ Riau yang berada di Gedung Maqari Jalan Sudirman, Pekanbaru, mendadak ramai. Lima belas peserta pelatihan Khat Melayu 2026 tampak serius menggoreskan handam/resam --alat tulis dari bambu yang diruncingkan-- setelah dicelup tinta pada sebidang kertas A3, sambil mendengarkan arahan dari pemateri. Mereka sedang berlatih teknik dasar kaligrafi.
Pelatihan selama dua hari, 30-31 Mei 2026 tersebut ditaja oleh Furqon LW, selaku penerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau (Kepri). Fasilitasi ini diperuntukkan kepada pelaku budaya, baik perorangan atau kelompok, dengan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan budaya. Terutama budaya lokal Melayu.
Menurut Furqon, ide pelatihan ini dilatarbelakangi oleh azam memunculkan kekhasan seni rupa Riau. Dijelaskannya, harus diakui, seni rupa Riau memang tidak dominan dalam peta seni rupa nasional, apalagi regional, dan internasional. Padahal, kata dia, Riau memiliki potensi itu. Khat Melayu sendiri pertama kali dianjungkan oleh Galeri Hang Nadim (GHN) pada pameran Khat Melayu Gurindam Duabelas Raja Ali Haji, Februari tahun 2025lalu.
Nama “Khat Melayu” sendiri muncul dari diskusi rutin tiap pekan di GHN. Ada keresahan tiap kali muncul pertanyaan, apa itu seni rupa Riau? Menurut Kepala GHN ini, dalam diskusi-diskusi itu, mereka melihat ada potensi kekhasan pada menulis indah (kaligrafi) aksara Arab Melayu/Jawi yang pernah menjadi bahasa lingua franca. Masyarakat umum sudah kenal kaligrafi Arab dengan beberapa gaya penulisan seperti khat naskhi, kuffi, sulus, diwani jali dan lainnya. Dengan objek yang sama (huruf Arab Melayu), katanya, gaya penulisan itu bisa diciptakan dengan kekayaan lokalitas kita sebagai inspirasi estetiknya.
Baca Juga: Diskusi Perempuan, Seni, dan Ruang Bertumbuh; Berkarya di Tengah Tekanan dan Peran Ganda
“Jadi khat Melayu itu secara sederhana bermakna menulis indah (kaligrafi) huruf Arab Melayu dengan menjadikan khasanah Melayu baik sosial, ekonomi, budaya tradisi maupun kekinian, flora, fauna dan alamnya, sebagai sumber inspirasi estetik penciptaan khat baru, “ terang Furqon kepada Riau Pos di Pekanbaru, Rabu (10/6/2026).
Furqon menambahkan, pelatihan Khat Melayu ini menjadi penting diadakan karena pada pameran pertama tersebut, tidak tercapai apa yang menjadi target GHN.
“Karya-karya yang dipamerkan lebih banyak kaligrafi kontemporer, bukan penciptaan gaya kaligrafi baru. Makanya saya sangat bersyukur pelatihan ini lolos seleksi untuk mendapat FPK. Terus terang GHN belum mampu mendanai sendiri pelatihan yang diadakan,” kata kartunis senior Riau ini.
Baca Juga: Melihat Ekosistem Seni Riau Bekerja Menghormati Akar Tradisi, Merangkul Teknologi dan Modernitas
Pelatihan Khat Melayu diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari kaligrafer, desainer grafis, dan perupa Riau. Mereka berasal dari beberapa daerah di Riau, tapi lebih banyak dari Pekanbaru. Satu dari Siak, satu dari Pelalawan dan selebihnya peserta asal Pekanbaru. Mereka adalah: Saridan, Rofi Adi Syabanto, Dewi Purwanti, Fitri Nuriza, Abdullah Primadona, Nelvawita, T Eko Putra, Nuria Hafazhah, Ahmad Haidir, Dian Saipul Rohman, Melly Amelia Putri, Zulkhairi, Puji Lestari (Pekanbaru), Herman Pelani (Siak), dan Zaky Dhaifullah Hafidz (Pelalawan). Mereka mendapat bimbingan khusus dari dua pemateri, yakni seniman-budayawan Junaidi Syam SSn MA dan kaligrafer M Rafles SAg MH yang merupakan ketua Perkumpulan Kaligrafer dan Zukhrufa Riau (Perkazi).
Furqon menambahkan, hasil dari pelatihan ini adalah terciptanya beberapa desain khat baru. “Awalnya saya dan pemateri berharap akan muncul paling tidak tiga khat baru cukuplah. Mengingat merancang huruf (font) latin saja perlu keterampilan khusus dan prosesnya lumayan panjang. Ini huruf Arab Melayu pula. Ternyata di luar dugaan hampir semua peserta antusias menciptakan khat rekaan sendiri. Dalam proses produksi pada pelatihan, ternyata sudah 7 khat baru tercipta. Khat-khat baru ini akan kita pamerkan di GHN sebagai diseminasi dari program pelatihan,” lanjut Furqon.
Furqon berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan dan dipamerkan saja. Tapi berlanjut dengan berbagai pengembangan dan diaplikasikannya khat Melayu oleh para desainer/khattat, maupun peminat kaligrafi dan rancangannya bisa dinikmati orang banyak.
“Misalnya pada beberapa titik di Kota Pekanbaru ada landmark dengan bentuk tulisan Arab Melayu. Lalu orang bertanya, apa gaya tulisan itu? Oh, itu khat Kampari. Ada tulisan nama jalan dengan gaya khat Naskhi Riau. Ada tulisan di kaos dengan gaya khat Al Pekani. Dan seterusnya,” jelas Furqon.
Salah seorang peserta, Zulkhairi, mengaku merasa sangat beruntung bisa ikut pelatihan ini. Dia merasa apa yang ditargetkan dari pelatihan ini sangat menantang, yaitu penciptaan khat baru.
“Saya biasa merancang desain grafis, termasuk lettering. Tapi merancang gaya penulisan huruf Arab Melayu, apalagi konsepnya lokalitas Melayu Riau, ya baru pertama ini. Pematerinya pun bagus, mampu membuka wawasan saya terhadap khasanah Melayu ini. Saya juga dapat ilmu baru tentang kaidah dasar teknik kaligrafi dan penulisan huruf hijaiyah,” kata seniman kriya ini.
Sementara itu dua pemateri pelatihan juga memberikan respon yang mirip terhadap antusiasme peserta. Menurut Junaidi, menciptakan khat Melayu adalah kerja-kerja desain.
“Mendesain karya seni terapan itu beda dengan penciptaan karya fine art. Desain tujuan akhirnya memenuhi permintaan konsumen, fine art kepuasan senimannya. Penciptaan Khat Melayu itu mendesain, ada tahapan-tahapan kerja yang mesti dijalani. Awalnya peserta kita bagi tiga kelompok kerja untuk memudahkan penciptaan tiga khat baru. Rupanya hampir semua peserta antusias membuat rancangan sendiri. Ya baguslah,” kata lulusan Diskomvis ISI Yogyakarta yang biasa dipanggil Jon Kobet ini.
Sedangkan M Rafles lebih fokus pada materi pengenalan menulis kaligrafi secara manual menggunakan handam, tinta, dan kertas. “Selain aspek keindahan yang diciptakan dari keterampilan menulis, aspek fungsional dari huruf, yaitu keterbacaan, juga mesti diperhatikan. Seperti khat naskhi yang biasa dipakai untuk menulis Al-Qur’an atau naskah panjang seperti surat, hingga nama jalan. Khat naskhi ini cocok dikembangkan dengan sentuhan lokal kita,” kata Ketua Perkazi Riau ini.***
Editor : Bayu Saputra