Sastrawan muda Riau, Joni Hendri, menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya. Oleh para pembahas dalam diskusi, dengan bukunya itu, Joni dianggap sedang mencari sebuah cara bagaimana memaknai sejarah (Melayu) Riau.
Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru
SEBAGAI orang yang lahir di perbatasan wilayah administrasi –dulu wilayah ini berada satu wilayah administrasi— Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), yakni di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, Joni Hendri mengaku wajib membaca dan mengetahui sejarah, agar tahu peradaban dirinya sendiri. Menurutnya, sejarah adalah masa lalu yang tak bisa dipisahkan dalam perjalanan panjang kehidupannya.
Dia merasa, sejarah itulah yang menjadi asupanya untuk menyair, sebagai bahan yang harus dia olah menjadi sebuah ingatan, yang harus dia pancangkan kembali pada sebagian puisi. Di posisi ini, dia berusaha untuk tidak membuat alasan, bermodus, atau melakukan kritikkan terhadap sejarah itu sendiri. Baik itu tokoh-tokoh, peristiwa, tempat sejarah atau masa lalu. Dia tidak sedang mengajak bertelagah terhadap semua itu. Akan tetapi hanya sebagai pancang ingatannya agar dia membaca sejarah dan tahu asal-usul masa lalu. Baik itu sejarah Riau, Kepri, dan Indonesia pada umumnya.
Ini sekilas pengakuannya dalam proses melahirkan buku kumpulan puisi pertamanya, Pancang-Pancang Ingatan (Hyang Pustaka, 2026). “Sembilan tahun saya menulis puisi, membuat saya sampai pada satu kesimpulan: menulis puisi bukan hanya sekadar mencari keindahan kata-kata atau menulis luka batin pada diri, pandangan, serta perasaan yang kusut. Melainkan mencoba untuk membuat pancang-pancang baru pada dunia sastra hari ini. Sebagai tanda kerasnya kehidupan saya, sesuai dengan pengalaman hidup yang mandiri,” ujar Joni kepada Riau Pos, Jumat (26/6) lalu.
Menurut Joni, buku tersebut merupakan proses panjang dirinya berkarya pada periode 2017-2025. Dijelaskannya, sejatinya sembilan tahun perjalanan, dia mencoba melakukan pencarian bentuk, hingga menimbulkan kegelisahan: tentang apa sebenarnya puisi tersebut. Dia juga menjelaskan, dengan beberapa pertimbangan, tidak mencantumkan beberapa karya yang lahir tahun 2019-2021 ke dalam antologi tunggal ini. Selama ini, karya-karya tersebut terserak di beberapa media, cetak maupun daring. Seperti Jawa Pos, Riau pos, majalah Karas (Balai Bahasa Jawa Tengah), basabasi.co, kompas.id, republika.co.id, mmediaindonesia.com, dan beberapa buku antologi puisi.
Pada Sabtu (13/6/2026) malam, Joni “merayakan” kelahiran buku puisi pertamanya itu dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Rumah Kreatif Suku Seni Riau dan Relawan Literasi Masyarakat Kampar 2026, Marhalim Zaini, di Studio Suku Seni Riau. Dua pembahas dalam diskusi itu adalah akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau, Dr M Badri, dan pegiat literasi yang bekerja di Dompet Dhuafa Riau, Redovan Jamil MPd.
Diskusi ini dihadiri Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Anton Widiyanto Putra, serta anak-anak muda pecinta puisi, seperti Muhammad Hafiz, Ilham Ramadhan, Vici Fathir, Khadafi, Silvia, anggota PX Mall, Yuliandra, Alif, Nadia, Andi, Khayla, Selviani dan anggota Suku Seni Riau, dan peserta lainnya. Sebelum diskusi dimulai, tim Teater Suku Seni yang beranggotakan Afifah, Angga, Ayna, Shintia, Sultan, Syifa dan Vina menampilkan teater puisi yang diangkat dari puisi berjudul “Senapan”, salah satu puisi yang terhimpun dalam Pancang-Pancang Ingatan.
Relawan Literasi Masyarakat Kampar 2026 yang juga Kepala Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, dalam pengantar diskusi, menjelaskan, buku Joni ini adalah bukti dari kerja keras seorang yang belajar menulis puisi dari bawah hingga karyanya bisa menembus media massa dan diakui khalayak. Puisi-puisi Joni, tambah dia, layak diapresiasi sebagai sebuah karya dari hasil pencarian panjang sang penyair.
“Saya mengatakan ini bukan karena Joni adalah anggota Suku Seni Riau, tetapi karena kerja keras dan kesungguhannya dalam belajar dan terus berproses. Kepenyairan bukan datang secara tiba-tiba, instan. Tetapi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, terus-menerus, dan tak kenal menyerah. Saya tahu, Joni melakukan semua itu, hingga lahir buku puisi pertamanya ini,” ujar Marhalim.
***
Dalam pengantarnya untuk buku Joni yang juga menjadi bahan dalam diskusi berjudul “Memori sebagai Arsitektur Estetis: Menanam Tiang Kesadaran dalam Pancang-Pancang Ingatan”, Dr M Badri menjelaskan, buku ini bukan sekadar bukti kegigihan Joni sebagai sastrawan muda, tapi juga menawarkan renungan yang membuat dia merasa bahwa mengapresiasi karya ini menjadi sebuah keharusan personal.
“Joni mengajak kita masuk ke ruang dialektika yang riuh —sebuah persilangan antara imajinasi dan realitas empiris di sekitar kita. Ia seolah ingin menegaskan bahwa puisi hari ini bukan lagi sekadar ‘puisi kamar’ yang cengeng, solipsistik, atau hanya sibuk dengan urusan patah hati sendiri. Sebaliknya, Joni menggunakan diksi sebagai instrumen untuk menggenggam kenyataan, meraba luka sejarah, dan membedah fenomena sosial masa lalu yang kerap tercecer dari catatan besar sejarah kita,” ujar doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini.
Menurutnya, puisi-puisi di sini berdiri tegak sebagai “pancang” atau tiang penyangga memori. Di era media sosial yang serba cepat dan gampang menghapus jejak, Joni, menurut Badri, justru memilih jalan sunyi: memetakan ulang lanskap sejarah yang berakar pada tanah Melayu. Lewat diksi yang lugas namun tetap terjaga simbolismenya, ia membangun wadah bagi ingatan kolektif kita agar tidak hanyut digulung zaman.
Penulis buku kumpulan puisi Grafiti Bukit Puisi (buku sastra penerima Anugerah Sagang 2012) ini menjelaskan, kekuatan Joni ada pada kemampuannya melakukan “arkeologi puitis”. Dia mencontohkan pada puisi “1928-1978 aku masih menunggumu”. Di sana, pembaca tidak hanya disuguhi angka teknis pembangunan energi di Kamojang. Di tangan Joni, angka 250 kW berubah menjadi simbol penantian yang panjang dan terlihat dalam diksi getaran kabel-kabel yang menjalar di punggung bumi. Ini adalah narasi tentang transisi dari gelap menuju cahaya yang dirasakan secara emosional, bukan sekadar statistik listrik. Hal serupa dia rasakan pada puisi “kereta api yang mati”. Di sana, kata Badri, Joni menghidupkan kembali trauma kolektif romusha di Pekanbaru (1942-1945). Sejarah bukan lagi hafalan tahun di buku teks, melainkan “jalur suram” yang dipancang di atas keringat dan tulang manusia. Ia menyuarakan kembali jeritan yang selama ini membisu di bawah narasi besar sejarah nasional.
Ruang-ruang geografis seperti Selat Melaka, Sungai Jantan, hingga Bukit Singgolom, dalam buku ini, menurut Badri, bukanlah sekadar tempelan latar. Tempat-tempat ini adalah subjek yang punya nyawa, bahkan punya luka. Pada puisi “menunggang roro di selat melaka, dan antrean yang terkutuk”, Selat Melaka digambarkan mewarisi “karat dan air mata”. Ia menjadi jembatan waktu yang menghubungkan migrasi purba berbagai bangsa dengan penderitaan penumpang hari ini yang terjebak dalam antrean membosankan.
Lebih lanjut, lelaki kelahiran Blitar, Jawa Timur (Jatim) ini mengungkapkan, lokalitas bagi Joni adalah identitas yang terus diuji. Meski sangat intim dengan topografi Riau dan Sumatra, ia tidak terjebak dalam romantisme yang naif. Kesadaran ekologisnya cukup tajam. Dalam puisi “hikayat rotan”, misalnya, rotan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan “jimat” penjaga perbatasan sekaligus saksi bisu atas kota yang kebanjiran akibat kerakusan manusia.
Di balik riuhnya narasi sosial, kata Badri, Joni tetap menyisakan ruang bagi perenungan transendental. Puisi “tasbih” menjadi jangkar spiritual buku ini. Metafora butiran tasbih yang terus berputar mencerminkan pencarian cahaya di tengah hiruk-pikuk duniawi —sebuah pengakuan tulus betapa kecilnya kita di hadapan Yang Maha Abadi.
Namun, spiritualitas Joni adalah jenis yang membumi. Ia berani menatap luka kemanusiaan secara langsung. Dalam puisi “ayat jadi mayat”, ia melontarkan kritik pedas tentang bagaimana teks suci sering kali dipelintir untuk melegitimasi kekuasaan atau peperangan. Di sini, penyair mengambil peran sebagai hati nurani yang mengingatkan bahwa tanpa kemanusiaan, kata-kata yang paling suci sekalipun akan kehilangan ruhnya.
Kata Badri, dilihat dari kacamatanya sebagai akademisi komunikasi, Pancang-Pancang Ingatan adalah medium komunikasi simbolik yang sangat efektif. Joni sebenarnya sedang melakukan proses encoding (pengodean) atas realitas sosial dan sejarah ke dalam bahasa puitis untuk meminimalisir distorsi informasi yang sering terjadi pada narasi arus utama.
Puisi di sini berfungsi sebagai channel (saluran) alternatif yang menghubungkan garis waktu, memastikan pesan kemanusiaan tidak terputus. Sebagai bentuk komunikasi massa yang estetis, jelas Badri, antologi ini berhasil menciptakan ruang “pemaknaan bersama” antara penyair dan pembaca. Setiap baitnya adalah stimulan yang memicu umpan balik berupa kesadaran kritis dan empati sosial yang mendalam.
“Secara keseluruhan, saya melihat Pancang-Pancang Ingatan sebagai sebuah pencapaian literasi yang sangat matang. Jam terbang Joni Hendri dalam dunia sastra Indonesia terasa kuat dalam kemampuannya menarik tema-tema besar menjadi sesuatu yang sangat personal dan menyentuh,” jelasnya.
***
Lewat tulisan berjudul “Pancang-Pancang Ingatan dan Politik Memori Pascakolonial: Membaca Puisi- Puisi Joni Hendri sebagai Narasi Perlawanan dan Rekonstruksi Sejarah”, Redovan Jamil menjelaskan, sastra Melayu-Riau kontemporer yang ditulis oleh penulis asal Riau 18 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan kuat untuk membongkar memori sejarah yang terpinggirkan. Joni kata Redovan, berupaya memindahkan sejarah ke dalam tubuh puisinya seperti apa yang dilakukan oleh Taufik Ikram Jamil dalam buku tersebab daku melayu, Marhalim Zaini pada bukunya Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu, Boy Riza Utama dalam Hindia Belanda, Sebentang Peta Kumal, dan penyair Riau lainnya.
Apakah Joni berhasil melakukan itu? “Saya rasa cukup berhasil. Bagaimana ia seolah-olah berperan sebagai catatan sejarah yang berjalan. Ia menangkap lanskap dan potret sejarah Riau, bahkan Indonesia, dalam kaca mata masa lalu dan masa kini. Yang barangkali dulu dan sekarang masih sama, masyarakat kecil selalu saja sebagai objek yang tertindas, jauh dari keadilan, kemiskinan yang tak berujung, dan pendidikan yang tidak pernah merata. Tapi orang kecil tersebut terus dituntut untuk mandiri, bercocok tanam agar tidak kelaparan saat harga barang melonjak naik, bahkan dilarang sering keluar negeri dan tidak perlu menggunakan uang selain rupiah yang terus melemah ini. Kegelisahan itu terus dipupuk oleh Joni. Suara-suara perlawanan terus ia suarakan, meski hanya dalam bentuk puisi,” ujar Redovan.
Dalam banyak puisinya, kata Redovan, Joni menolak anggapan sejarah sebagai fakta objektif. Kata dia, Joni tetaplah Joni. Dengan gaya ucapnya sendiri, permainan maknanya sendiri, yang berbeda dari para penyair Riau lainnya, terutama dalam gaya dan daya ucap. Kata Redovan, kita patut bersyukur dan mengapresiasi bahwa Joni telah mewakili penyair muda Riau di media-media nasional. Ini poin penting yang sesungguhnya. Dia berharap terus muncul dan tumbuh penyair-penyair dan penulis muda Riau yang karyanya diperhitungkan di Indonesia, bahkan dunia.
“Saya yakin, pelan-pelan akan terwujud jika ekosistem sastra di Riau terus dipupuk dan disiram dengan diskusi-diskusi dan proses berkarya didukung dari semua pihak,” kata lulusan Program Pascasarjana FKIP Universitas Riau (Unri) ini.***
Editor : Arif Oktafian