Selama empat hari Artis Art Fair Pekanbaru 2026 digelar di Pekanbaru. Pameran seni rupa ini diharapkan bisa membantu terbangunnya ekosistem seni rupa Riau agar bisa bersaing secara global.
DI dalam Ruang Pameran Khusus Museum Sang Nila Utama Riau, Senin (29/6/2026) lalu, di salah satu booth-nya, terjadi obrolan yang menarik dan lucu antara perupa cilik, Yuki Callista Patricia, dengan Direktur Art Jakarta, Tom Tandio. Obrolan itu berakhir dengan tawaran Yuki agar Tom membeli lukisan-lukisannya untuk dibawa ke Jakarta sebagai oleh-oleh saat berkunjung ke Riau.
“Kalau Om membeli lukisan-lukisan saya, itu sebuah apresiasi besar bagi saya. Kan bisa jadi oleh-oleh dari Riau,” kata Yuki polos sambil tersenyum.
Tom yang mendengarkan itu tersenyum sambil mengatakan sangat mengapresiasi lukisan Yuki, dan berharap Yuki sukses sebagai pelukis di masa depan. Keduanya pun akhirnya bersalaman dan foto bersama sebelum Tom berkeliling melihat booth-booth pameran yang lain di ruang pameran itu.
Itu adalah hari ketiga Artis Art Fair Pekanbaru 2026 yang digagas oleh kurator dan pengamat seni rupa Riau, Fachrozi Amri. Pameran itu dibuka pada Sabtu (27/6) oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Riau, Aryadi. Hadir dalam acara pembukaan itu Sekretaris Disbud Riau Anton Widiyanto Putra, Sekretaris LAM Riau Alang Rizal, perwakilan Bank Riau Riau Kepri, perwakilan dari Rumah Sakit Daerah RSUD Arifin Achmad, beberapa undangan, dan para perupa yang ikut pameran.
Aryadi memberi apresiasi tinggi atas terselenggaranya pameran seni rupa tersebut. Dia menjelaskan, Disbud Riau sangat mendukung kegiatan-kegian budaya yang digerakkan oleh para seniman Riau. Dia senang jika para seniman bisa memanfaatkan ruang-ruang kebudayaan yang ada di Taman Budaya Riau maupun Museum Sang Nila Utama untuk kegiatan berkesenian dan kebudayaan secara positif.
Baca Juga: Sanggar Keletah Budak Suguhkan Operet Anak "Dedap Durhaka"
“Saya berharap dunia seni dan budaya kita terus maju, para seniman dan budayawan terus menghasilkan karya-karya kratifnya. Kami mendukungnya dengan memberi ruang untuk hal itu,” ujar Aryadi.
Direktur Artis Art Fair Pekanbaru 2026, Fachrozi Amri, menjelaskan, pameran ini diselenggarakan atas dukungan Dana Hibah Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana (sekarang Dana Indonesiaraya) dan LPDP pada Program Pendayagunaan Ruang Publik Kategori Perorangan atas nama dirinya. Penerimaan program ini diputuskan pada 2025 dan kegiatannya diselenggarakan pada 2026 ini. Kegiatan ini juga didukung oleh Disbud Riau yang menyediakan Ruang Pameran Khusus Museum Sang Nila Utama sebagai tempat pameran.
Baca Juga: Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Riau 2026, Ajang Regenerasi Dunia Seni Riau
Para perupa yang ikut dalam kegiatan ini adalah hasil penjaringan terbuka (open submission) dalam dua tahap, yakni pada November 2025-Februari 2026 dan Februari-April 2026. Para seniman melakukan submit usulan dan pihaknya memilih karya yang masuk. Setelah itu terjaring 24 seniman, baik kelompok maupun individual, yang berada di 11 booth. Empat booth grup individual yang akhirnya ikut adalah grup Kongkow (Habibu Rahman dkk, 7 seniman), Rads dkk (4 seniman), Suriaty dkk (5 seniman), dan Andi Youwend dkk (2 seniman).
Sementara ada 7 seniman solo yang lolos adalah Hayyus Septyanti, Muhammad Raditya Perdana, Niken Patitis, Yuki Callista Patricia, Aini Nurul Amri, Yosi Dwiharini, dan
Melisa Nofem. Keseluruhan ada 109 karya masuk dan dipajang di booth mereka masing-masing. Para peserta yang lolos dalam penjaringan ini kemudian diberi kebebasan untuk memerkan karyanya secara kelompok maupun perorangan. Dengan sistem penjaringan tersebut, pihaknya tidak melakukan kurasi atau membuat catatan kuratorial karena para peserta sudah dianggap layak ikut pameran. Secara artistik karya mereka sudah dinilai oleh artistic director saat penjaringan.
***
LEBIH lanjut, Fachrozi menjelaskan, Artis Art Fair Pekanbaru 2026 adalah pameran seni rupa yang menjadi ruang interaksi langsung antara seniman dan publik dalam suasana yang lebih dinamis, inklusif, dan berorientasi pada transaksi seni. Acara ini untuk pertama kalinya di Sumatra dan memberikan kesempatan bagi seniman dari seluruh Indonesia dan Sumatra khususnya, untuk memamerkan dan menjual karya mereka secara langsung kepada kolektor, pencinta seni, serta masyarakat luas tanpa melalui perantara.
“Artists Art Fair Pekanbaru hadir, yang pertama, sebagai wadah bagi seniman untuk memasarkan karya mereka lebih luas, sekaligus memberikan alternatif bagi kolektor, pecinta seni, dan masyarakat umum untuk memperoleh karya secara langsung dari perupa tanpa melalui perantara. Dengan skema transaksi langsung ini, seniman mendapatkan nilai ekonomi yang lebih adil, sementara pembeli bisa menikmati karya dengan harga yang lebih transparan. Diharapkan, acara ini dapat menjadi stimulus bagi perkembangan pasar seni yang lebih aktif, berkelanjutan, dan kompetitif di Riau dan Sumatra,” ujar Fachrozi kepada Riau Pos yang menghubunginya dalam beberapa kesempatan.
Yang kedua, katanya, adalah meningkat apresiasi masyarakat terharap karya seni rupa. Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam dunia seni rupa adalah rendahnya pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap nilai estetika dan proses kreatif di balik sebuah karya seni. Melalui pameran, diskusi interaktif, workshop seni, dan artist talk, Artists Art Fair Pekanbaru berupaya membuka wawasan publik tentang pentingnya seni dalam kehidupan, serta memperkenalkan beragam teknik, medium, dan aliran seni yang mungkin belum banyak dikenal. Dengan pendekatan ini, diharapkan seni rupa dapat lebih diterima, diapresiasi, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dan yang ketiga adalah menjalin interaksi dan kolaborasi antarseniman dalam menemukan dan mengeksekusi ide-ide lewat diskusi. Dalam ekosistem seni yang dinamis, kata Ozi, interaksi antarperupa dapat melahirkan inspirasi baru, eksplorasi teknik yang lebih luas, serta kemungkinan kolaborasi lintas disiplin. Melalui acara ini, diharapkan dapat terbentuk jaringan seni yang lebih erat, yang dapat mendukung perkembangan komunitas seni di Riau dan Sumatra, serta mendorong terjalinnya kerja sama antara seniman lokal dengan seniman dari daerah lain.
“Khusus kegiatan ini, art fair ini berformat artist based mengharuskan yang ikut adalah individual seniman. Dalam format artists based, tidak diperkenankan komunitas atau galeri, dan lembaga untuk mengikutinya. Memang ada booth kelompok, tetapi mereka bukan datang dari satu komunitas, sebuah galeri, atau lembaga seni. Mereka adalah individual yang disatukan dalam pameran ini,” ujarnya menjelaskan konsep teknis pameran ini.
Untuk mempersiapkan pameran ini, Fachrozi dan timnya melakukan persiapan cukup lama, yakni 10 bulan, sejak diumumkan dirinya sebagai penerima dana hibah Indonesiana pada Agustus 2025. Untuk membantu kegiatan ini, Fachrozi menunjuk beberapa event director. Mereka adalah Artistic Director Adhari Donora, Production Director Syamyatmoko dan Robi Mairizon, Promotin Director Dedy Sutistna dan Eko Handykon, dan Art Handling Aamesa Aryana. Selama 10 bulan mereka mengerjakan dan mempersiapkan semua yang diperlukan dalam proses dari awal hingga pelaksanaan pameran.
Dijelaskan oleh Fachrozi, selama 4 hari berlangsungnya kegiatan, total jumlah pengunjung sekitar 549 orang. 290 pengunjung berbayar Rp40 per sesi, ada 6 sesi, dan 259 pengunjung masuk mengunakan VIP card. “Kami menganggap, ini pencapaian yang luar biasa, apalagi hanya dalam kurun waktu 4 hari kegiatan,” jelasnya.
Melihat antusias yang baik dalam kegiatan ini, kata Fachrozi, harapannya ekosistem dan pasar seni mulai terbentuk dengan baik. Dalam pameran ini, ada sekitar 20 karya seni berbagai mediaum, aliran, dan gaya, terjual saat kegiatan berlangsung. Pada masa penjualan Pre-Sale Artwork yang berlangsung 17-25 Juni, terjual 2 karya. Lalu padasaat berlangsungnya pameran terjual 18 karya. Yang menarik, ada tiga kolektor dari luar negeri, yakni Prancis, Serbia, dan Jerman yang membeli karya para perupa selain 16 kolektor asal Indonesia.
Di sela acara pameran, pihaknya juga mengundang Direktur Art Jakarta, Tom Tandio, untuk menjadi pembicara dalam diskusi pada 29 Juni. Kepada Riau Pos yang menemuinya sebelum diskusi, Tom menjelaskan, untuk pameran seni rupa di luar Jawa dan Bali, Artis Art Fair Pekanbaru 2026 dianggapnya lumayan berhasil dalam penyelenggaraan dan melahirkan karya yang relatif layak untuk dipamerkan. Apalagi mereka yang ikut pameran tersebut adalah anak-anak muda, gen Z, bahkan ada yang masih belia seperti Yuki Callista Patricia.
“Dengan anak-anak muda, gen Z, bahkan anak-anak yang sudah terlibat dalam pameran seperti ini, saya optimis dengan masa depan seni rupa Indonesia. Jika ini terus diselenggarakan dan ditingkatkan kualitasnya, akan lahir banyak perupa Riau yang bisa bersaing secara global,” ujar Tom.
Tom mengaku, untuk luar Jawa dan Bali, beberapa daerah yang seni rupanya mendapat ruang untuk bereksplorasi adalah Pekanbaru dan Padang. Dia tak menemukan di kota lain di Sumatra atau pulau lain yang memiliki ruang-ruang berkarya seperti itu. Hingga kini, Art Jakarta belum mengajak para perupa atau komunitas rupa di Riau masuk dalam lingkaran Art Jakarta. Namun dia yakin, jika kegiatan-kegiatan seperti Artis Art Fair Pekanbaru dan lainnya terus eksis, bukan tidak mungkin akan berkembang bagus di masa depan dan dia bisa merangkulnya.
***
SALAH seorang perupa yang ikut pameran, Melisa Nofem, mengaku senang bisa ikut pameran ini. Dalam pameran ini, dia memamerkan 5 lukisannya dalam seri berjudul Origin Within: Ritme Rahim Riang. Dijelaskannya, konsep seri Origin Within: Ritme Rahim Riang berangkat dari tubuh perempuan sebagai ruang yang hidup, menyimpan ritme, ingatan, dan pengalaman. Dia ingin mengajak orang melihat tubuh sebagai bagian dari kehidupan yang layak dipahami dan dirayakan.
“Lewat karya ini, saya ingin membuka ruang percakapan tentang kesehatan reproduksi, menstruasi, dan pengalaman menjadi perempuan dengan ‘gembira’. Saya berharap setiap manusia bersedia lebih memahami diri sendiri, berempati pada pengalaman orang lain, dan melihat bahwa hal-hal yang sering dianggap tabu sebenarnya adalah bagian alami dari hidup,” kata garis kelahiran Indragiri Hulu (Inhu) ini.
Melisa menjelaskan bahwa dia suka melukis sejak kecil. Awalnya hanya sebagai media bermain yang menyenangkan. Ini adalah lukisan dan pameran pertamanya karena sebelumnya dia memosisikan melukis sebagai art therapy saja. Dia mengaku, melukis sudah memberi kepuasan dari prosesnya. Kalau kemudian ada yang menyukai, tersentuh, punya tafsir yang berbeda, atau bahkan tidak merasa terhubung dengan karyanya, dia menerima semuanya dengan terbuka.
Untuk ikut pameran ini, dia melalui proses open call. Dia mendaftar dengan mengirimkan proposal karya dan melalui proses diskusi bersama tim sebelum akhirnya menjadi salah satu peserta pameran. Saat pameran, ada beberapa kolektor yang ingin membeli karyanya. Namun, kata alumni Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, untuk saat ini dia memilih menyimpannya terlebih dahulu karena masih memiliki nilai personal. Di samping itu, karena lima lukisan itu merupakan sebuah seri yang masing-masingnya saling terhubung, kemungkinan kolektor yang ingin memiliki harus membeli kelimanya.
“Saya ingin Ritme Rahim Riang membersamai saya dulu untuk beberapa waktu dan membersamai saya dalam pameran-pameran selanjutnya,” jelasnya lagi.
Ke depan, Melisa mengaku ingin terus berkesenian, beriring nafas dengan karya-karyanya. Dia berharap nanti bisa mengikuti pameran dengan proses dan manajemen yang lebih baik sehingga bisa menikmati berkarya tanpa terlalu terkuras secara emosional seperti sebelumnya. Dia juga mengaku, selama masih punya sesuatu untuk diceritakan, dia akan terus berkarya dengan jujur menggunakan media apa saja.
“Namun, saya masih merasa terlalu jauh jika disebut pelukis atau seniman. Saya lebih nyaman menyebut diri sebagai visual storyteller. Saya ingin terus bercerita melalui media apa saja. Selamanya,” kata gadis yang juga menekuni dunia penulisan cerpen dan karya sastra lainnya ini.***
Editor : Bayu Saputra