Persoalan sastra pesisir di Riau –termasuk Kepulauan Riau— adalah ketika laut yang menjadi inspirasi malah dipunggungi. Dalam sejarah sastra modern di minda ini, Raja Ali Haji dkk menjadikan daratan dan laut menyatu dalam karya sastra.
SELAIN menampilkan Dr Jarir Amrun sebegai pembicara, seminar “Meneroka Sastra Pesisir” dalam Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) IV 2026 di Bengkalis yang diselenggarakan di Auditiorium IAIN Datuk Laksemana, Bengkalis, pada Sabtu (22/8/2026) juga menampilkan Musa Ismail MPd, sastrawan dan PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis, yang juga dosen luar biasa di IAIN Datuk Laksemana, Bengkalis.
Selain dihadiri peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, dan pegiat sastra dan literasi, seminar ini juga dihadiri Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Hidayat Widiyanto, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum, Wakil Rektor III IAIN Datuk Laksemana Dr Haris Riadi MPd, perwakilan PT Riau Petroleum Nurul Prekarian, Direktur FSMR Marhalim Zaini, dll. Untuk edisi ini, akan didedah ringkasan pikiran Musa dalam melihat kekuatan dan arti penting sastra pesisir di Riau lewat makalahnya berjudul “Meneroka Sastra Modern Riau Pesisir: Tinjauan Ekokritik dan Humaniora Biru”.
Secara teoretis, kata Musa, ekokritik merupakan kajian sastra yang mengeksplorasi hubungan antara teks sastra dan lingkungan fisik, dengan kesadaran bahwa kebudayaan manusia terikat erat dan memengaruhi ekosistem global. Di Riau, ekokritik menemukan urgensinya yang paling mendesak. Kawasan pesisir timur Sumatra dan pulau-pulau di Kepulauan Riau (Kepri) menghadapi tekanan ekologis yang masif: abrasi pantai yang menggerus daratan, konversi hutan mangrove menjadi kawasan tambak atau industri, serta pencemaran limbah korporasi dan tumpahan minyak di Selat Malaka.
Menurutnya, sastra Melayu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pesisir. Sejarah menunjukkan bahwa pusat-pusat pertumbuhan tamadun Melayu berkembang di kawasan pantai, muara sungai, pelabuhan, dan selat yang menjadi jalur perdagangan dunia. Wilayah-wilayah seperti Melaka, Johor, Riau-Lingga --termasuk Siak, Indragiri, Bengkalis, dan Pulau Penyengat-- bukan hanya menjadi pusat ekonomi dan politik, tetapi juga menjadi pusat perkembangan bahasa, sastra, agama, dan intelektual Melayu.
Karakter maritim masyarakat Melayu membentuk cara pandang yang khas terhadap kehidupan. Laut tidak dipandang sebagai batas geografis dan politis, melainkan sebagai jalan penghubung antarmanusia, antarnegeri, dan antarperadaban. Karena itu, pengalaman hidup masyarakat pesisir kemudian diwujudkan dalam bentuk pantun, syair, hikayat, gurindam, cerita rakyat hingga puisi dan novel modern. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa kebudayaan Melayu berkembang melalui proses asimilasi dan interaksi berbagai bangsa yang singgah di kawasan pesisir.
“Dalam hal ini, Melayu bukan hanya identitas etnik, tetapi juga pandangan hidup yang mampu membangun dunia sastra tersohor,” kata Musa.
Dalam konteks tersebut, kata dia, sastra tidak lahir dari dan di ruang kosong. Sastra merupakan hasil dialog antara manusia dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam tempat ia hidup. Bagi masyarakat pesisir, lingkungan alam seperti laut, angin, ombak, pasang surut, dan pelayaran bukan sekadar latar cerita. Lingkungan alam merupakan bagian dari pengalaman eksistensial yang membentuk nilai, bahasa, dan imajinasi.
Secara historis, kawasan pesisir merupakan ruang terbuka. Ruang terbuka ini yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, perdagangan, penyebaran Islam, dan perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Asia Tenggara. Bahasa Melayu berkembang pesat karena digunakan oleh para pedagang, ulama, pelaut, dan penguasa kerajaan maritim sebagai bahasa komunikasi lintas etnis. Keadaan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai medium utama lahirnya karya-karya sastra Melayu klasik maupun modern.
Kehidupan masyarakat pesisir memiliki sejumlah karakter yang kemudian membentuk corak sastranya antara lain, pertama, keterbukaan terhadap perjumpaan budaya; kedua, semangat merantau; ketiga, penghormatan terhadap alam; keempat, solidaritas sosial yang tinggi; kelima, religiusitas yang berpadu dengan adat; dan keenam, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
“Nilai-nilai tersebut terus hidup dalam sastra modern meskipun bentuk penyampaiannya mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman,” ujarnya.
***
ISTILAH sastra modern pesisir, kata Musa, belum menjadi istilah baku yang memiliki definisi tunggal dalam kajian sastra Indonesia. Oleh karena itu, pengertiannya disusun secara konseptual dari tiga unsur: sastra, sastra modern, dan budaya pesisir (maritim). Secara konseptual, sastra modern pesisir adalah karya sastra modern yang mengangkat kehidupan masyarakat pesisir atau maritim sebagai sumber inspirasi, latar, tema, dan cara pandang, dengan memadukan realitas sosial, budaya, dan lingkungan laut dalam bentuk-bentuk sastra modern seperti puisi, cerpen, novel, drama, dan esai.
Sastra modern pesisir tidak sekadar menjadikan alam pesisir sebagai latar cerita, tetapi menempatkan kehidupan masyarakat pesisir sebagai pusat narasi. Di dalamnya tercermin hubungan manusia dengan laut, tradisi pelayaran, kehidupan nelayan, perdagangan, perantauan, adat Melayu, religiusitas, hingga persoalan kontemporer seperti kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan pergeseran identitas budaya.
Musa mengutip kajian Sastra Maritim yang disunting oleh Novi Anoegrajekti, Sudibyo, dan Sudartomo Macaryus (2024) menjelaskan bahwa wilayah pesisir bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang ekspresi budaya, religiusitas, dan kreativitas masyarakat. Laut, pantai, pesisir, dan samudra menjadi sumber inspirasi yang melahirkan berbagai karya sastra. Sementara itu, penelitian Shamsudin Othman, Halis Azhan Mohd. Hanafiah, dan Muhammad Zarif Hassan (2024) tentang manifestasi dunia maritim dalam kesusasteraan Melayu menjelaskan bahwa karya sastra Melayu, baik tradisional maupun modern, memperlihatkan hubungan yang erat antara pengalaman masyarakat maritim dengan perkembangan budaya, bahasa, politik, dan pemikiran Melayu. Unsur laut dalam sastra bukan sekadar latar, melainkan bagian dari pandangan hidup masyarakat Melayu.
“Dengan demikian, sastra modern pesisir dapat dipahami sebagai bentuk perkembangan sastra modern yang berakar pada budaya bahari. Dalam konteks Melayu Riau, kata dia, sastra modern pesisir merupakan kelanjutan dari tradisi pantun, syair, hikayat, dan gurindam yang berkembang ke bentuk puisi, cerpen, novel, drama, dan esai modern. Perkembangan ini tetap berpijak pada nilai-nilai kemelayuan dan budaya bahari.” jelas penulis novel Tangisan Batang Pudu ini.
Hampir sama dengan yang dijelaskan Jarir Amrun, menurut Musa, sastra Melayu pesisir memiliki akar sejarah yang panjang. Secara historis, topik ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan peradaban bahari di kawasan Asia Tenggara. Sejak abad ke-7 hingga abad ke-19, kerajaan-kerajaan Melayu yang tumbuh di wilayah pesisir seperti Sriwijaya, Melaka, Johor-Riau, Siak Sri Indrapura, dan Kesultanan Riau-Lingga, menjadikan laut sebagai jalur perdagangan, penyebaran agama Islam, serta pertukaran budaya. Dalam lingkungan inilah lahir berbagai karya sastra Melayu klasik.
Menurut mantan wartawan Riau Pos (1994-1996) di Bengkalis ini, sastra Melayu klasik berkembang melalui tradisi lisan dan tradisi tulis. Tradisi lisan melahirkan pantun, mantra, cerita rakyat, dan syair yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, tradisi tulis berkembang setelah penggunaan aksara Arab Melayu, yang memungkinkan lahirnya hikayat, gurindam, syair, kitab keagamaan, dan berbagai naskah sejarah. Musa mengutip Vladimir Braginsky bahwa sastra Melayu klasik berkembang sebagai bagian dari kebudayaan istana dan masyarakat Melayu yang berpijak pada nilai-nilai Islam, adat, dan kehidupan maritim. Karya-karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, dakwah, diplomasi, dan pembentukan identitas budaya.
Sastra Melayu klasik memperlihatkan perpaduan antara tradisi lokal Melayu dengan pengaruh Islam, Persia, India, dan Arab sehingga melahirkan kekayaan estetika yang khas. Tokoh terpenting dalam perkembangan sastra Melayu klasik adalah Raja Ali Haji (1808–1873). Melalui karya-karya seperti Gurindam Dua Belas, Tuhfat al-Nafis, dan Bustan al-Katibin, Raja Ali Haji tidak hanya mengembangkan sastra, tetapi juga memperkuat bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu, ia sering disebut sebagai pelopor pembinaan bahasa Melayu modern. Tidak salah jika Raja Ali Haji disebut sebagai pelopor Bahasa Indonesia.
“Virginia Matheson juga menyebut karya-karya Raja Ali Haji menjadi jembatan antara tradisi sastra klasik dengan pemikiran modern Melayu karena menggabungkan nilai agama, sejarah, etika, dan pendidikan dalam bentuk sastra yang sistematis,” kata lelaki yang buku kumpulan cerpennya, Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut, mendapatkan hadiah Sagang pada 2010 ini.
***
MEMASUKI awal abad ke-20, perkembangan pendidikan modern, percetakan, surat kabar, dan penerbitan menyebabkan perubahan besar dalam dunia sastra Melayu. Sastra yang sebelumnya didominasi oleh pantun, syair, dan hikayat mulai berkembang ke bentuk-bentuk sastra modern seperti puisi, cerpen, novel, drama, dan esai. Modernisasi juga membawa perubahan dalam cara pengarang memandang masyarakat. Jika sastra klasik lebih banyak berfungsi sebagai media pendidikan moral dan legitimasi kekuasaan, maka sastra modern mulai mengangkat pengalaman individu, persoalan sosial, kritik terhadap ketidakadilan, dan pergulatan identitas budaya.
Di Riau dan Kepulauan Riau, kata lelaki yang juga menulis novel lain seperti Demi Masa, Lauta Rindu, dan Salah Langkah ini, perkembangan sastra modern tetap mempertahankan akar budaya Melayu. Pengarang-pengarang mulai menulis tentang kehidupan masyarakat pesisir dengan pendekatan yang lebih realistis. Tema-tema seperti kehidupan nelayan, kemiskinan, perantauan, perdagangan, kerusakan lingkungan, dan perubahan sosial mulai banyak muncul dalam puisi maupun prosa.
“Keberadaan sastra pesisir Riau awal abad 20 tidak terlepas dari peran sastrawan Soeman Hs. Saya menggunakan karya-karya Soeman sebagai korpus umum, terutama Mencari Pencuri Anak Perawan, Kasih Tak Terlerai, Percobaan Setia, dan Kawan Bergelut. Ensiklopedia Sastra Indonesia mencatat karya-karya tersebut sebagai bagian penting kepengarangan Soeman yang mulai berkembang ketika ia tinggal di Siak Sri Inderapura.
Karya-karya Soeman dapat dibaca bukan hanya sebagai karya sastra modern yang memperkenalkan cerita detektif dan humor, tetapi juga sebagai representasi kehidupan masyarakat Melayu yang berhubungan erat dengan ruang geografis pesisir,” jelas penerima penghargaan Guru Terbaik Bengkalis dan Riau tahun 2006 ini.
Dalam sastra Riau terkini, kata Musa, terjadi pergeseran epistemologis yang sangat penting. Sastra tidak lagi memandang laut sebagai ruang latar belakang yang pasif atau sekadar arena keromantisan nelayan. Sastra pesisir Riau telah menjelma menjadi medium pembacaan kritis terhadap krisis ekologis. Ia berdialog langsung dengan dua pisau analisis kontemporer yang tengah menjadi diskursus global: ekokritik (ecocriticism) dan humaniora biru (blue humanities).
Secara teoretis, ekokritik dan humaniora biru selaras, merupakan kajian sastra yang mengeksplorasi hubungan antara teks sastra dan lingkungan fisik, dengan kesadaran bahwa kebudayaan manusia terikat erat dan memengaruhi ekosistem global. Di Riau, ekokritik menemukan urgensinya yang paling mendesak. Kawasan pesisir timur Sumatra dan pulau-pulau di Kepulauan Riau menghadapi tekanan ekologis yang masif: abrasi pantai yang menggerus daratan, konversi hutan mangrove menjadi kawasan tambak atau industri, serta pencemaran limbah korporasi dan tumpahan minyak di Selat Malaka. Fenomena ini menjadi keresahan dahsyat dalam sastra modern Riau Pesisir. Sastrawan Taufik Ikram Jamil, kata dia, misalnya, melalui berbagai karyanya kerap menyoroti bagaimana eksploitasi ruang secara ugal-ugalan telah merusak tatanan ekologis tempat masyarakat lokal menggantungkan hidup.
***
PESISIR Riau, jelas Musa, tidak lagi mewariskan kelimpahan hasil laut, melainkan mewariskan kerentanan (vulnerability). Melalui lensa ekokritik, teks-teks sastra ini berfungsi sebagai kontra-narasi (counter-narrative) terhadap narasi pembangunan ekonomi yang kerap mengabaikan daya dukung lingkungan. Sastra mencatat apa yang coba disembunyikan oleh laporan-laporan korporasi: bahwa kerusakan ekologi di pesisir Riau adalah bentuk kekerasan struktural terhadap alam dan manusia sekaligus.
Salah satu sastrawan terkini yang dianggapnya peduli dengan persoalan sastra Riau pesisir –baik dalam karya maupun kegiatan, seperti FSMR—adalah Marhalim Zaini. Menurutnya, sastrawan asal Teluk Pambang, Bengkalis, ini karya-karyanya —baik puisi, cerpen, novel, drama, maupun esai— sarat dengan kesadaran ruang (spatial awareness). Dalam karya-karya Marhalim, pesisir dan alam Riau sering kali dihadirkan bukan sebagai pemandangan indah yang meninabobokan, melainkan sebagai ruang yang mengalami alienasi akibat deru modernisasi dan eksploitasi kapitalistik. Meskipun Marhalim banyak menulis tentang kebudayaan Melayu, puisi-puisinya kerap memuat elemen ekologis yang kuat. Kerusakan alam dipandang sejajar dengan runtuhnya martabat kemanusiaan. Dalam perspektif ekokritik, Marhalim memperlihatkan bagaimana ruang hidup (lifespace) masyarakat pesisir dirampas oleh modernitas yang serakah.
Karya Marhalim sering kali merekam ironi wilayah Riau yang kaya raya di atas kertas, tetapi pesisirnya rapuh secara ekologis. Ketika hutan-hutan mangrove dibabat dan muara-muara sungai dicemari oleh limbah industri atau aktivitas ekstraktif, yang tersisa bagi nelayan tradisional adalah air yang keruh dan daratan yang terkikis abrasi. Alam dalam puisi Marhalim memanggil kembali memori kolektif masyarakat tentang laut yang bersih, sekaligus melayangkan gugatan keras terhadap perubahan iklim lokal yang diabaikan oleh pembuat kebijakan.
Pada bagian lain, Musa menjelaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki posisi strategis sebagai peneroka sastra modern pesisir Riau, bukan hanya sebagai tempat mengajarkan karya sastra, tetapi sebagai ruang untuk menemukan, mengembangkan, mendokumentasikan, dan menciptakan sastra yang lahir dari pengalaman masyarakat pesisir. Dalam konteks Riau, terutama Bengkalis, Dumai, Siak, Meranti, Pelalawan, Indragiri, dan kawasan pesisir lainnya, sekolah dan perguruan tinggi berada di tengah masyarakat yang memiliki kekayaan cerita, tradisi lisan, pantun, syair, hikayat, bahasa lokal, pengalaman maritim, serta persoalan ekologis. Dengan lembaga pendidikan yang peduli terhadap persoalan ini, Musa berharap akan lahir generasi sastra yang lebih muda yang paham dan peduli dengan persoalan sastra pesisir di Riau ini.***
Editor : Bayu Saputra