Rumah Bacaan Masyarakat (RBM) Sinar Kreasi Tembilahan Membangun Literasi Masyarakat yang Inklusif

Hary B Koriun • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 12:42 WIB
Pendiri dan Ketua Rumah Baca Masyarakat (RBM) Sinar Kreasi, Firma Elena Hidayanti (belakang, empat kiri), instrukstur Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Kearifan Lokal, Redovan Jamil (belakang, lima kiri) foto bersama dengan pengurus RBM dan peserta setelah acara lokakarya di Tembilahan, Indragiri Hilir, belum lama ini.
Pendiri dan Ketua Rumah Baca Masyarakat (RBM) Sinar Kreasi, Firma Elena Hidayanti (belakang, empat kiri), instrukstur Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Kearifan Lokal, Redovan Jamil (belakang, lima kiri) foto bersama dengan pengurus RBM dan peserta setelah acara lokakarya di Tembilahan, Indragiri Hilir, belum lama ini.

Baru berumur tiga tahun, RBM Sinar Kreasi sudah memperlihatkan pergerakannya dalam ikut membangun literasi di Tembilahan, Indragiri Hilir. Tidak muluk-muluk, mereka hanya ingin ikut membangun literasi masyarakat yang inklusif di daerah paling selatan Riau ini.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SUASANA hangat dan penuh gairah terlihat di sekretariat Rumah Bacaan Masyarakat (RBM) Sinar Kreasi di Jalan Pekan Arba Lorong Sukaterus, Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), selama dua hari, Sabtu dan Ahad, 22–23 Agustus 2026 lalu. Dalam dua hari itu, RBM Sinar Kreasi menyelenggarakan Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Kearifan Lokal sebagai bagian dari rangkaian semarak agenda Gema Literasi Indragiri (GLI) tahun 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari guru, pelajar, hingga para penggiat literasi lokal. Mereka mendapatkan bimbingan langsung dari sastrawan muda Riau, Redovan Jamil SPd MPd. Redovan tak hanya memberikan teori bagaimana menulis puisi yang baik dengan memanfaatkan budaya dan kearifan lokal, tetapi juga membimbing para peserta untuk bisa menulis puisi secara langsung. Mereka diajak menyelami teknik penulisan, menggali gagasan, dan menganalisis pola-pola puisi yang dianggap bagus sebagai sebuah contoh.

“Menulis puisi itu bukan sekadar merangkai kata-kata indah, melainkan merekam denyut kehidupan dan nyawa dari tanah yang kita pijak. Indragiri ini memiliki kearifan lokal yang sangat kaya, dan itu adalah bahan baku puisi yang luar biasa,” jelas Redovan.

Baca Juga: Pameran Seni Rupa Context-Rasi Rasa Karya Cak Winda Menikmati Karya Abstrak dengan Perasaan

Selain menyampaikan hal-hal dasar dalam penulisan puisi, Redovan juga menjelaskan bahwa puisi selalu berkembang. Meski pada intinya sama, namun perkembangan tersebut perlu diperlajari dan dipahami oleh para penulis puisi pemula. Sebab, paham dan mengerti dasar penulisan puisi tetapi tak mengikuti perkembangan puisi terkini –paling tidak membaca karya-karya yang relatif dianggap berkualitas dari para penulis puisi yang dianggap baik-- juga akan tertinggal.

Penurut magister pendidikan dari FKIP Universitas Riau (Unri) ini, para peserta ditantang untuk menghasilkan karya puisi yang mengangkat tema kearifan lokal Indragiri, terutama Inhil. Nantinya, puisi-puisi terbaik karya peserta akan dihimpun dan diterbitkan dalam buletin khusus sebagai bentuk apresiasi dan dokumentasi karya. 

Baca Juga: Festival Sastra Melayu Riau IV 2026, Sastra Pesisir: Dari Raja Ali Haji hingga Marhalim Zaini (3)

“Para peserta diwajibkan menulis minimal satu karya sebagai bahan evaluasi,” tambah alumni S-1 FKIP STKIP PGRI Sumatra Barat yang sekarang berubah nama menjadi Universitas PGRI tersebut.

Dampak positif dari lokakarya ini dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Candra Ganesha Putra, siswa SMAN 1 Tembilahan Hulu. Dia senang bisa ikut pelatihan atau lokakarya ini karena mendapat pengalaman dan bimbingan langsung dari narasumber yang merupakan pelaku sastra langsung.

“Saya belajar banyak hal baru, terutama bagaimana menyajikan cerita budaya di sekitar kita menjadi bait puisi yang menyentuh. Pengalamannya sangat berkesan, ditambah lagi karya kami nantinya akan dimuat di buletin. Ini bikin saya makin semangat menulis,” ungkap Candra.

***

KETUA dan pendiri RBM Sinar Kreasi, Firma Elena Hidayanti, yang bekerja keras agar kegiatan itu terlaksana,  menjelaskan, kegiatan ini dihadirkan sebagai upaya pembudayaan literasi baca tulis di tengah masyarakat. Menurutnya, keinginan RBM Sinar Kreasi ini tidak sekadar menjadi tempat untuk membaca, tetapi juga menjadi wadah produktif yang melahirkan karya. Melalui lokakarya yang merupakan rangkaian agenda GLI ini, mereka merangkul keberagaman latar belakang peserta agar ruang kreatif kepenulisan di Tembilahan dan Inhil secara luas, semakin hidup dan inklusif.

“Kami menggagas ruang-ruang seperti ini agar potensi adik-adik kita terlihat dan mendapatkan tempat. Mereka adalah masa depan dunia literasi di Inhil, dan mungkin juga Riau,” kata Firma saat dihubungi Riau Pos, Jumat (25/9/2026).

Lebih jauh Firma menjelaskan, kegiatan ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Bantuan Pemerintah Bidang Literasi Tahun 2026 lewat Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa). Dia mengaku senang lembaganya bisa mendapatkan bantuan tersebut karena bisa membantu melaksanakan sebagian dari program yang sudah dibuat oleg RBM Sinar Kreasi.

Untuk lokakarya ini, kata dia, peserta dari berbagai pihak, yakni masyarakat umum. Siapa saja bisa mengikutinya. Mereka direkrut melalui pendaftaran terbuka dengan menunjukkan karya awal mereka. Dari karya itu dinilai karena targetnya memang benar-benar penulis. Karena ini temanya berat, mengenai lokalitas, jadi kalau sebelumnya belum pernah menulis puisi dan baru mengenal puisi, kata Firma, akan kewalahan pesertanya. Setelah mengikuti lokakarta, peserta harus menulis puisi bertema lokalitas Inhil. Puisi-puisi tersebut lalu dipamerkan pada acara puncak GLI. Selanjutnya, hasil dari GLI, untuk produk, ada buletin sederhana. 

“Dari sisi kompetensi, adalah terciptanya ekosistem literasi berkelanjutan dengan mendorong terwujudnya masyarakat yang berpengetahuan, terampil, mandiri, dan berdaya. Itu yang kami harapkan. Mudah-mudahan mereka ke depan bisa menjadi seperti itu,” ujar salah satu peserta Kelas Menulis Novel di Sekolah Budaya Suku Seni Riau tahun 2024 ini.

Dijelaskannya, lokakarya ini merupakan rangkaian dari GLI yang dimulai 22 Agustus dan berakhir (puncaknya) pada 13 September. Mereka yang terlibat dalam GLI ini adalah pelajar, mahasiswa, komunitas, dan pegiat literasi. Selain Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Kearifan Lokal, kegiatan lain dari GLI ini adalah WorkshopTeknik Olah Kata dan Tata Bahasa Jurnalis Muda yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia di masyarakat, dan Kenduri Literasi yang ditujukan untuk peningkatan kapasitas penggerak literasi di Inhil.

“Alhamdulillah, semua kegiatan tersebut berjalan lancar dan mendapat sambutan hangat dari pegiat literasi maupun masyarakat umum di Tembilahan,” ujar Firma.

***

RBM Sinar Kreasi berdiri tahun 2023. Hingga 2026 ini, sudah tiga tahun kehadirannya memberi dampak baik di Tembilahan dan Inhil. Firma yang mendirikan rumah literasi ini. Kemudian dia melibatkan empat relawan/tim. Di awal-awal berdirinya, dia memang hanya memanfaatkan buku-buku yang ada sebagai rumah baca dan kegiatan-kegiatan lainnya. Salah satu program awal ketika itu adalah Edu-Corner, yakni Kelas Bahasa Inggris, yang kemudian berkembang lagi ditambah dengan keterampilan praktis bagi anak anak, seperti membuat gelang, gantungan kunci, dll. 

Saat ini sudah terbentuk kepengurusan RBM Sinar Kreasi. Selain itu, juga ada 17 relawan yang aktif, berasal dari berbagai kalangan, seperti pelajar SMP atau SMA, mahasiswa, juga guru. Selain itu, juga ada sekitar 20-an anak-anak yang secara rutin memanfaatkan RBM ini, terutama mereka yang tinggal di sekitar lingkungan di mana RBM ini berada. Selain membaca di tempat, banyak dari mereka --10 lebih anak dan orang tua-- yang meminjam buku untuk dibawa pulang. Secara kebermanfaatan, setidaknya ada 50 lebih pemanfaat tetap di sana.

Selain menjadi tempat bacaan bagi masyarakat kampung sekitar, Firma dan para pengurus lainnya juga mengembangkan program lain yang menyasar langsung masyarakat. Selain Edu-Corner, program lain yang dikembangkan antara lain Baca Bersama (Basama) dengan beberapa klub buku di Tembilahan. Kegiatan tentatif ini banyak mendapat dukungan dari pegiat literasi di Tembilahan dan Inhil. Anak-anak muda, kata Firma, banyak bergabung dalam kegiatan ini. Kemudian ada Kelas Menulis Kreatif untuk anak SMP/SMA, yakni memberikan dasar-dasar menulis kepada mereka. Juga ada program Read Aloud/Baca Nyaring untuk anak-anak dan remaja. Mereka juga turun ke sekolah-sekolah dalam program SinKres Goes to School. 

“Kami juga punya program menyusur masyarakat tepian, namanya Nyobar SinKres. Di sini kami fun literacy activies bersama anak-anak dan masyarakat juga bagi-bagi buku. Di sini kami mendatangi dan mendampingi anak-anak beserta orang tua mereka untuk bermain, membaca, dan diskusi. Karena mereka banyak yang anak-anak, kami melakukannya sambil bermain,” jelas guru honorer di SMP Negeri 1 Tembilahan ini.

Selama ini, kata Firma, dukungan langsung dari Pemkab Inhil untuk RBM nyaris tak ada. Namun dalam beberapa kegiatan, dia dilibatkan. Misalnya, KKN Tematik Literasi 2025 dipusatkan di RBM Sinar Kreasi. Lalu, untuk beberapa kegiatan literasi kabupaten, RBM dia dilibatkan. Juga dijadikan rekomendasi untuk beberapa program literasi di Inhil. Pada tahun 2024, RBM Sinar Kreasi mendapat bantuan 1000 buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

“Yang dukungan materi langsung dari Pemkab Inhil tak ada. Kalau dilibatkan dalam beberapa kegiatan ada,” jelas dia lagi.

Ke depan, Firma berharap, RBM yang dia bangun ini panjang umur, baik dalam gerakan, mampu bertahan, dan terus beradaya. Dia ingin RBM ini dapat terus inklusif, tepat sasaran, dan bukan sekadar gerakan suka-suka, tapi memang terukur dan nampak pemberian solusinya kepada masyarakat dalam ikut membangun melek literasi masyarakat di Inhil. Dia berharap akan muncul anak-anak yang gemar membaca, kritis, dan santun. Selain itu, mengusung “Pengetahuan Pilar Pemberdayaan”, dia ingin pemanfaat yang terlibat dalam kegiatan kegiatan literasi di Inhil, masing-masing punya mindset bahwa untuk bisa dan berkembang, perlu tahu dulu, bukan suka-suka saja.

“Kalau harapan untuk literasi Inhil, saya berharap dapat berkembang dan bergerak lebih baik lagi. Kerja sama antara masyarakat dan pemerintah harus bertolak dari akar permasalahan serta tujuan yang sama. Menurut saya, pergerakan literasi di kabupaten  ini harus memiliki satu visi besar yang dapat dikerjakan bersama-sama, agar kemajuannya dapat terukur dan solusi yang dihadirkan itu memang benar-benar tepat sasaran di akar masalahnya,” ujar Firma meng­akhiri.***

Editor : Bayu Saputra
ranggi riau pos rbm Rumah Bacaan Masyarakat Sinar Kreasi Rumah Bacaan Masyarakat