SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Puluhan pengusaha sagu di Kepulauan Meranti abaikan lingkungan hidup. Pasalnya hingga saat ini, hanya beberapa kilang saja yang rutin menyampaikan DPPLH atau dokumen pengelolaan lingkungan.
Situasi ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkingan Hidup Kepulauan Meranti Syaiful Bakhri kepada Riaupos.co, Kamis (16/5/2024) siang. Karena dari 95 kilang yang terdata oleh mereka hanya sebagian kecil yang memiliki instalasi pengelohan air limbah.
"Hanya beberapa saja yang rutin menyerahkan DPPLH. Karena memang mereka belum mampu menyediakan atau mengolah limbah dari rutinitas produksi," ungkapnya.
Walaupun demikian, DLH Kepulauan Meranti belum bisa berbuat banyak. Karena dalam melakukan pengawasan mereka belum diperkuat dengan sumber daya.
Ia menggambarkan, saat ini terdapat 95 kilang tersebar di Kepulauan Meranti dengan hasil produksi tidak kurang dari 570 ton perhari. Sementara rata rata hasil produksi pertahun hampir 205.200 ton.
Sementara dari bahan baku pohon rumbia yang diolah menimbulkan tiga kategori jenis limbah. Mulai dari limbah padat seperti ampas, kulit, hingga limbah cair.
Dari keterangan yang mereka himpun di lapangan, setiap kilang mampu memasok 300 tual potongan pohon rumbia perhari, dengan asumsi setiap tual memiliki 4 sampai 6 potong kulit yang akhirnya disebut limbah padat atau uyung.
"Sebelum diparut isi pohonnya, setiap tual pohon rumbia itu dikupas kulitnya minimal menjadi 4 sampai 5 potong. Berat setiap kulit itu rata-rata 4,8 kg. Tinggal kalikan saja berapa potong kulit yang berpotensi jadi limbah padatnya. Dari eksimasi saya hampir 1.200 keping atau setara 5.7 ton
Sehingga dari 95 kilang itu dalam sehari dapat menghasilkan 16.246 ton potongan uyung. Kalau setahun bisa mencapai 5.848.200 ton. Dan itu hanya 20 persen saja dimanfaatkan kembali. Sisanya dibuang," ujarnya.
Selain itu terdapat juga repu atau ampas dari hasil parutan usai pemerasan pati, turut menghasilkan 1 banding 3, di mana untuk 1 kg sagu akan menghasilkan 3 kg ampas.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian mengenai sagu yang menunjukkan bahwa dari hasil pengolahan sagu, maka terdapat 75-83 persen merupakan ampas sagu yang dihasilkan (Mc Clatchey et al 2006 dalam Anuar et al 2017)
"Artinya, dengan jumlah produksi sagu yang tercatat sebesar 205.200 ton, maka paling tidak ampas sagu yang dihasilkan sebanyak 796.800 ton," bebernya.
Editor : RP Rinaldi