SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menyiapkan langkah khusus agar Festival Perang Air (Cian Cui) Imlek 2026 tidak berbenturan dengan aktivitas ibadah dan ekonomi Ramadan.
Salah satu keputusan penting yang mengemuka, bazar Ramadan di Jalan Ahmad Yani akan direlokasi ke kawasan Taman Cik Puan, Jalan Merdeka.
Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan fakta bahwa tahun ini perayaan Imlek beririsan dengan awal Ramadan selama hampir sepekan. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak awal agar dua agenda besar masyarakat dapat berjalan tanpa saling mengganggu.
Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, menegaskan bahwa pemerintah daerah memilih tidak membatasi kegiatan keagamaan maupun budaya, tetapi mengatur teknis pelaksanaan agar ruang publik tetap kondusif.
“Imlek dan Ramadan sama-sama kegiatan penting. Yang kita atur bukan ibadahnya, tapi teknis di lapangan supaya semua bisa berjalan aman, tertib, dan saling menghormati,” kata Asmar.
Selain relokasi bazar, pelaksanaan perang air juga akan diatur dari sisi waktu dan rute, agar tidak mengganggu pelaksanaan salat Maghrib dan Tarawih, serta meminimalkan potensi gesekan dengan warga yang tidak ingin terlibat dalam festival.
Sekda Meranti, Sudandri, menyebut kebijakan ini juga mempertimbangkan dampak ekonomi.
Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, Festival Perang Air mampu menarik lebih dari 50 ribu wisatawan, melibatkan sekitar 2.500 pelaku UMKM, ratusan pengemudi becak, dengan tingkat hunian hotel mencapai penuh dan perputaran uang diperkirakan menembus Rp60 miliar.
Di sisi lain, bazar Ramadan juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat dengan peningkatan omzet UMKM yang bisa mencapai 15 persen selama bulan puasa.
“Dua-duanya sama-sama penting bagi ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu solusinya bukan meniadakan, tapi mengatur agar tidak saling terganggu,” ujar Sudandri.
Ketua DPRD Kepulauan Meranti, H. Khalid Ali, menekankan bahwa kunci utama dari irisan dua agenda besar ini adalah sikap saling menghormati antarumat beragama.
“Yang paling utama adalah toleransi. Kalau saling menghargai, semua kegiatan bisa berjalan baik,” ujarnya.
Senada, Kepala Kemenag Meranti, H. Zulman, menyebut indeks kerukunan umat beragama di Meranti tergolong tinggi, sehingga benturan sosial dinilai kecil selama aturan teknis dijalankan secara konsisten.
“Tinggal pengaturan di lapangan saja, terutama soal lokasi bazar dan jam pelaksanaan perang air supaya tidak mengganggu waktu ibadah,” katanya.
Dari sisi tokoh agama, MUI Meranti mengingatkan pentingnya menjaga etika selama festival berlangsung. Peserta Cian Cui diimbau mengenakan pakaian sopan, menghentikan aktivitas saat memasuki waktu Maghrib, serta tidak menyalakan petasan saat salat tarawih.
Sementara itu, Ketua LAMR Meranti Dt. Afrizal Cik menegaskan bahwa hubungan harmonis antara masyarakat Melayu dan Tionghoa yang sudah terjalin lama harus tetap dijaga. Ia meminta pengamanan diperkuat, terutama di jalur perang air dan lokasi baru bazar Ramadan.
“Jangan sampai warga yang tidak ikut perang air ikut kena siram. Itu juga harus jadi perhatian,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga menyatakan pihak kepolisian siap mengawal seluruh rangkaian kegiatan melalui koordinasi lintas sektor.
“Kami siap melakukan pengamanan maksimal agar semua kegiatan berjalan aman dan tertib,” tegasnya.
Perwakilan PSMTI Meranti juga menyampaikan komitmen untuk mengikuti seluruh kesepakatan bersama. Mereka menegaskan bahwa Festival Perang Air yang telah berlangsung sejak 2010 selama ini selalu berjalan kondusif dan menjadi simbol kuatnya toleransi di Meranti. (wir)
Editor : M. Erizal