SELATPANJANG(RIAUPOS.CO) - Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti yang tetap mengizinkan pelaksanaan tradisi Perang Air atau Cian Cui pada perayaan Imlek 2026 mendapat sambutan hangat dari para tukang becak di Kota Selatpanjang. Mereka menilai keputusan tersebut memberi ruang bagi perputaran ekonomi rakyat kecil, meski perayaan Imlek tahun ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan.
Apresiasi itu disampaikan setelah pemerintah daerah memastikan hasil rapat koordinasi lintas instansi terkait pengaturan kegiatan Imlek dan Ramadhan 2026, Jumat (16/1/2026).
Seorang tukang becak di kawasan Sandang Pangan Selatpanjang mengungkapkan, tradisi Perang Air selalu membawa dampak langsung terhadap pendapatan mereka karena meningkatnya mobilitas warga dan wisatawan.
“Kalau ada Perang Air, penumpang jadi ramai. Kami bersyukur pemerintah dan Pak Bupati tetap memberi izin, karena ini sangat membantu penghasilan kami,” katanya.
Ia menyebut tambahan pemasukan di masa tersebut sangat berarti, terlebih bertepatan dengan bulan puasa. “Bisa untuk kebutuhan rumah tangga, bayar zakat, sampai beli baju anak untuk lebaran,” ujarnya.
Hal senada disampaikan tukang becak lainnya yang berharap kebijakan tersebut turut menggerakkan ekonomi daerah. “Kalau pengunjung ramai, kami juga ikut merasakan dampaknya. Mudah-mudahan ekonomi Meranti ikut meningkat,” katanya.
Respons positif juga datang dari warga Tionghoa di Selatpanjang. Mereka menilai keputusan pemerintah daerah sebagai bentuk nyata penghormatan terhadap keberagaman budaya serta semangat toleransi antarumat beragama di Kepulauan Meranti.
“Meskipun bersamaan dengan Ramadhan, tradisi Perang Air yang menjadi ikon daerah tetap bisa digelar. Ini tentu kami hargai sebagai bentuk perhatian terhadap budaya kami,” ujar seorang warga.
Ia menambahkan, Imlek 2026 menandai masuknya Tahun Kuda Api yang dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan semangat, kecerdasan, dan daya juang.
Dari sisi pariwisata, geliat perayaan Imlek juga mulai terasa. Sejumlah hotel dan penginapan di Selatpanjang dilaporkan menerima lonjakan pemesanan, bahkan ada yang menyiapkan paket khusus bagi tamu selama rangkaian perayaan berlangsung.
Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, menegaskan bahwa Ramadhan dan Imlek sama-sama merupakan agenda rutin tahunan yang memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Tradisi Perang Air saat Imlek terbukti mampu menarik wisatawan, yang berdampak pada pergerakan ekonomi. Di sisi lain, Ramadhan adalah momentum ibadah bagi umat Islam yang harus kita jaga kekhusyukannya,” ujar Asmar.
Menurutnya, kedua agenda tersebut perlu dikelola secara bijak agar berjalan selaras. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan pengaturan teknis agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan saling menghormati.
“Keduanya harus kita dukung bersama dengan pengaturan yang baik, supaya suasana tetap kondusif dan Meranti tetap rukun, sejalan dengan visi Meranti yang Unggul, Agamis, dan Sejahtera,” tutupnya.(wir)