SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Masa status siaga hidrometeorologi yang ditetapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti hingga pertengahan Januari 2026 kini telah berakhir. Meski demikian, BPBD memastikan pemantauan kondisi cuaca dan potensi bencana tetap dilakukan secara rutin di seluruh wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kepulauan Meranti, Khardafi, menyampaikan bahwa hingga berakhirnya masa siaga pada 15 Januari lalu, tidak terdapat kejadian bencana besar yang berdampak signifikan terhadap masyarakat.
"Selama masa siaga berlangsung, kondisi wilayah relatif aman dan tidak ada laporan kejadian besar yang menimbulkan kerusakan atau korban," ujar Khardafi, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, tren cuaca di Kepulauan Meranti dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan perbaikan. Intensitas hujan menurun dan kondisi laut lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya, sehingga risiko bencana hidrometeorologi dinilai semakin kecil.
Namun demikian, BPBD tidak menghentikan langkah antisipasi sepenuhnya. Pemantauan lapangan tetap dilakukan melalui jaringan relawan, aparat desa, dan kecamatan, terutama di wilayah pesisir serta daerah yang berpotensi terdampak pasang laut dan genangan.
Posko siaga yang sebelumnya diaktifkan kini dialihkan fungsinya menjadi pusat koordinasi pemantauan, guna memastikan laporan dari masyarakat dapat segera ditindaklanjuti jika terjadi perubahan cuaca ekstrem. "Kami tetap siaga secara operasional. Kalau ada laporan dari masyarakat, tim tetap siap bergerak cepat," jelasnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak mengabaikan potensi cuaca ekstrem yang bisa muncul sewaktu-waktu, mengingat kondisi iklim yang masih fluktuatif pada awal tahun.
Masyarakat diminta segera melaporkan kepada aparat setempat atau BPBD jika menemukan potensi bencana seperti banjir, abrasi, atau pohon tumbang, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dampak dapat diminimalkan.
Dengan berakhirnya status siaga, BPBD berharap aktivitas masyarakat dapat berjalan lebih normal, namun kewaspadaan tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika cuaca di wilayah kepulauan.
Editor : Rinaldi