Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Lahir Spontanitas, Festival Perang Air Jadi Identitas, Usai Masuk KEN, Perayaan Kembali Digelar

Wira Saputra • Minggu, 15 Februari 2026 | 12:56 WIB

MENIKMATI FESTIVAL: Para peserta menikmati Festival Perang Air di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, yang berlangsung pada tahun lalu.
MENIKMATI FESTIVAL: Para peserta menikmati Festival Perang Air di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, yang berlangsung pada tahun lalu.

Selatpanjang kembali bersiap menyambut ribuan pengunjung dalam Festival Perang Air 2026. Ini tradisi khas Imlek yang telah menjelma menjadi magnet wisata dan masuk dalam kalender nasional Karisma Event Nusantara (KEN).

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - RIUH tawa pecah di sepanjang jalan pusat Kota Selatpanjang. Air memancar dari pistol plastik, ember, gayung, hingga berbagai wadah lain yang menghadirkan canda dan kebahagaian. Becak motor melintas perlahan, membawa keluarga yang tak segan saling membalas siraman selama beberapa hari, hingga ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti itu berubah menjadi lautan manusia.

Begitulah gambaran singkat dari suasana rutin ketika pemerintah resmi menggelar satu festival yang berlangsung berturut-turut sehari pasca-Imlek. Warga menyebutnya sederhana: Festival Perang Air, yang rencananya kembali akan diadakan pada 17-22 Februari 2026 mendatang.

Di balik semaraknya festival tersebut tersimpan kisah yang tak banyak diketahui. Tradisi ini lahir bukan dari panggung resmi, melainkan dari kenangan masa kecil serta kebiasaan spontan anak-anak kampung. Tak ada satu pun tokoh yang bisa disebut sebagai pencetus pertama. Justru di situlah letak keunikan sejarahnya. Seperti diceritakan Ationg, warga keturunan Tionghoa asal Meranti yang kini berdomisili di Pekanbaru, kepada Riau Pos, Kamis (12/2/2026).

Mengenang masa kecilnya pada era 1980-an, Ationg menuturkan, saat itu perayaan Imlek di Selatpanjang belum semeriah sekarang. Anak-anak berkeliling bersilaturahmi menggunakan becak kayuh roda tiga. Dalam satu becak bisa diisi dua hingga tiga anak. “Kalau berpapasan dengan becak lain, kami saling tembak pakai pistol air. Itu spontan saja, tidak ada yang menyuruh,” kenangnya.

Permainan itu muncul secara musiman, biasanya setelah Imlek, kadang juga selepas Idul Fitri. Namun lama-kelamaan, perang air lebih identik dengan suasana Imlek. Sempat pula tren bergeser ke permainan tembak peluru plastik berwarna, tetapi kemudian dilarang karena dinilai membahayakan. “Air lebih aman. Jadi anak-anak kembali ke pistol air. Tidak ada yang merencanakan jadi festival. Itu tumbuh begitu saja,” ujar Ationg.

Cerita serupa disampaikan Bunadi alias Ahken. Ia menyebut permainan tersebut awalnya sekadar hiburan pasca-perayaan, tanpa pelopor dan tanpa panitia. “Dulu sempat pakai semprot salju. Tapi mahal dan susah didapat. Akhirnya kembali ke air. Lama-lama jadi kebiasaan yang ditunggu-tunggu,” katanya.

Tradisi itu tumbuh secara organik, dari lingkungan ke lingkungan, dari satu gene­rasi ke generasi berikutnya. Seiring waktu, kebiasaan tersebut tak lagi hanya milik anak-anak. Remaja hingga orang tua ikut terlibat. Jalanan yang dulu sempit dan semrawut kini diatur dengan sistem satu arah guna menjaga ketertiban. Aparat keamanan turun tangan mengawal rute, sementara pemerintah daerah mulai melihat potensi yang lebih besar.

Nama “Perang Air” pun sempat dikukuhkan secara resmi menjadi Cian Cui dalam sebuah seremoni pada 2013 silam. Namun esensinya tetap sama: kegembiraan kolektif masyarakat. Hal itu turut diakui Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kepulauan Meranti, Syaiful Bahri. Ia menjelaskan, tradisi ini masih terus berbenah. Ia menyoroti perlunya aturan yang jelas, mulai dari batas waktu pelaksanaan, jenis air yang digunakan, hingga perlindungan bagi anak-anak dan lansia.

“Tradisi ini harus tetap aman dan nyaman. Kalau dikelola dengan baik, dampaknya besar bagi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia bahkan mendorong agar Festival Perang Air keberlanjutannya tetap terjamin serta memberi kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah dan ekonomi masyarakat. Tidak hanya warga Tionghoa, melainkan etnis lain juga turut terlibat. “Tak ada catatan sejarah tertulis tentang siapa yang pertama menyiramkan air di jalan Selatpanjang. Namun justru karena lahir dari spontanitas itulah tradisi ini terasa hidup,” terangnya.

 

Perang Air bukan sekadar festival. Ia adalah ingatan kolektif tentang masa kecil di atas becak kayuh, tentang tawa yang pecah di antara siraman air, serta tentang sebuah kota kecil yang menemukan identitasnya dari permainan sederhana.

 

Kini, warga tak lagi sekadar merayakan tahun baru. Mereka menanti momentum yang sama: saat Selatpanjang kembali basah oleh air, dan sejarah yang dulu tak disengaja itu terus mengalir dari generasi ke generasi. Untuk itu, Pemkab Kepulauan Meranti kembali menggelar Festival Perang Air sebagai agenda budaya dan pariwisata unggulan yang akan dipusatkan di Selatpanjang.

Berdasarkan ketentuan panitia, rute pelaksanaan Festival Perang Air meliputi Jalan Ahmad Yani-Jalan Diponegoro-Jalan Kartini-Jalan Imam Bonjol dan kembali ke Jalan Ahmad Yani. Sementara itu, bazar kuliner dan local trade akan dipusatkan di area sekitar RTH Taman Cik Puan. Untuk mendukung kelancaran acara, pemerintah juga telah menetapkan titik parkir di kawasan Jalan Teuku Umar menuju Gereja HKBP serta halaman belakang Kantor Satpol PP dan Damkar.

Dalam surat edaran yang diterbitkan, ditegaskan, kendaraan yang diperbolehkan mengikuti permainan perang air hanya becak motor yang layak pakai. Kendaraan roda dua, becak barang seperti Bajaj Pulsar dan sejenisnya, serta kendaraan roda empat tidak diperkenankan ikut dalam rute permainan. Setiap becak motor maksimal mengangkut empat orang dewasa dengan tarif sewa tertinggi Rp100.000 untuk sekali putaran.

Selain itu, alat yang digunakan hanya diperbolehkan berupa pistol air, senapan air, selang air, dan gayung air yang tidak membahayakan.

Air yang digunakan wajib air bersih dan dilarang memakai air kemasan, air laut, air es, air parit, maupun air berwarna. Penggunaan mesin pompa air berdaya dorong tinggi juga tidak diperbolehkan karena berpotensi mencederai peserta lain. Syaiful Bahri menambahkan, pihaknya bersama instansi terkait akan melakukan pengawasan langsung di lapangan. Peserta yang melanggar ketentuan, terutama terkait jenis kendaraan dan kapasitas penumpang, akan dikeluarkan dari rute permainan.

“Kami berharap Festival Perang Air tahun ini berjalan lebih tertib, aman, dan nyaman bagi semua. Partisipasi dan dukungan masyarakat untuk mematuhi aturan sangat menentukan kesuksesan event ini,” pungkasnya.

Festival Perang Air merupakan tradisi khas masyarakat Meranti yang telah turun-temurun dilaksanakan sebagai bentuk kegembiraan, kebersamaan, sekaligus sarana mempererat silaturahmi. Dalam pelaksanaannya, festival ini dikemas lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal. Panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan pendukung untuk memeriahkan suasana Selatpanjang selama festival berlangsung. Salah satu agenda yang turut menyedot perhatian adalah Perang Air Night Carnival yang akan dilaksanakan pada 20–22 Februari 2026 mulai pukul 21.30 WIB hingga selesai, menampilkan pawai malam dan hiburan rakyat dengan nuansa khas Meranti. Kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi wisatawan luar daerah.

Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan bazar kuliner yang berlangsung sepanjang 17–22 Februari 2026, menyuguhkan beragam kuliner khas Kepulauan Meranti. Sementara bagi pecinta kopi, agenda Seribu Cangkir Kopi akan digelar pada 21 Februari 2026 mulai pukul 22.00 WIB hingga selesai. Untuk mendukung promosi pariwisata, panitia juga mengadakan Photography Contest yang berlangsung pada 17–20 Februari 2026, mengajak fotografer lokal maupun luar daerah untuk mengabadikan momen-momen terbaik selama festival.

Pemkab Kepulauan Meranti berharap Festival Perang Air tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan serta menggerakkan perekonomian lokal, khususnya pelaku UMKM di Selatpanjang. Panitia mengingatkan bahwa jadwal kegiatan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi resmi dan terbaru akan diumumkan melalui akun media sosial serta laman resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Meranti. Dengan rangkaian kegiatan yang beragam, Festival Perang Air 2026 diharapkan kembali menjadi magnet budaya dan pariwisata yang memperkuat identitas Kepulauan Meranti di tingkat regional maupun nasional.

 

Masuk KEN 2026


Seperti diketahui, Festival Perang Air ini telah resmi masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata Nomor SK/2/HK.01.02/MP/2026 yang ditetapkan pada 12 Januari 2026. Dengan demikian, helat akbar ini tidak lagi sekadar agenda lokal, melainkan menjadi bagian dari kalender promosi pariwisata nasional yang akan dipublikasikan oleh Kementerian Pariwisata kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Dalam keputusan tersebut, Kementerian Pariwisata menetapkan sebanyak 125 iven dari seluruh Indonesia sebagai KEN 2026, terdiri atas 10 Top KEN dan 115 KEN reguler. Festival Perang Air Kepulauan Meranti menjadi salah satu yang dinilai layak karena memiliki kekuatan tradisi, partisipasi masyarakat yang tinggi, serta dampak ekonomi yang nyata. Syaiful Bahri juga menyebut penetapan ini sebagai peluang besar untuk memperluas jangkauan promosi budaya Meranti.

“Festival Perang Air ini bukan hanya hiburan, tetapi sudah menjadi identitas budaya masyarakat Selatpanjang. Masuk KEN berarti tradisi kita dinilai memiliki daya tarik nasional,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).

Menurut Syaiful, pemerintah daerah saat ini mulai menyiapkan sejumlah langkah teknis, mulai dari pembentukan panitia lokal, koordinasi lintas instansi, hingga peningkatan kesiapan pelaku usaha pariwisata. Fokus utama, katanya, adalah memastikan festival berjalan aman, bersih, dan ramah lingkungan. “Kami ingin wisatawan datang bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga merasa nyaman dan ingin kembali lagi,” katanya.

Selain promosi nasional, iven yang masuk KEN juga mendapat pendampingan teknis dari Kementerian Pariwisata, baik dalam tata kelola acara, publikasi, maupun penguatan dampak ekonomi masyarakat. Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharuddin, menyampaikan apresiasi atas penetapan tersebut. Ia berharap Festival Perang Air terus berkembang dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berterima kasih atas pengakuan ini. Harapan kami, festival ini bukan hanya mengangkat nama daerah, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat dan memberi kesan baik bagi wisatawan,” ujarnya. (adv)

Editor : Bayu Saputra
#KEN 2026 #cian cui #KEN #perang air