Pesanan SPPG MBG Melonjak, Harga Ayam di Meranti Tembus Rp45 Ribu

Wira Saputra • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:27 WIB
Ayam potong di salah satu lapak pasar Kepulauan Meranti belum lama ini. (Istimewa)
Ayam potong di salah satu lapak pasar Kepulauan Meranti belum lama ini. (Istimewa)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Harga ayam ras karkas di Kabupaten Kepulauan Meranti kembali melonjak. Tingginya kebutuhan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan permintaan ayam di pasaran.

Harga ayam ras karkas yang sebelumnya berada di kisaran Rp38.400 per kilogram kini naik menjadi Rp45.000 per kilogram. Sementara harga ayam potong bahkan mencapai Rp55.000 per kilogram.

Kenaikan tersebut membuat ayam menjadi salah satu komoditas bahan pangan yang mengalami tekanan harga cukup tinggi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan aktivitas program MBG.

Baca Juga: Cara PT BSP Perkuat Transformasi, Keandalan Operasi dan Ketahanan Bisnis melalui BCMS

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kepulauan Meranti Marwan mengatakan, tingginya pesanan dari SPPG turut meningkatkan kebutuhan ayam dalam jumlah besar. Kondisi tersebut berdampak terhadap keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan pasokan di daerah.

“Untuk daging ayam ras karkas memang terjadi kenaikan harga. Salah satu faktornya karena permintaan meningkat, termasuk adanya kebutuhan dari SPPG untuk program MBG,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, kebutuhan SPPG menjadi tambahan permintaan di luar kebutuhan rumah tangga dan pelaku usaha. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan belum bertambah secara seimbang, harga di tingkat pasar ikut terdorong naik.

Baca Juga: Asbanda dan Bank Bengkulu Bahas Penguatan Likuiditas BPD 

Selain faktor permintaan, kondisi distribusi juga masih menjadi perhatian. Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Meranti masih bergantung pada pasokan ayam dari luar daerah, termasuk dari Pekanbaru.

“Permintaan meningkat, sementara pasokan yang tersedia masih terbatas. Ini yang kemudian memberikan tekanan terhadap harga,” jelas Marwan.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga ayam tidak hanya dirasakan masyarakat sebagai konsumen rumah tangga. Pelaku usaha kuliner maupun pihak yang membutuhkan ayam dalam jumlah besar juga ikut menghadapi kenaikan biaya.

Baca Juga: Pemkab Bersama Bulog Bengkalis Luncurkan Penyaluran Bantuan Pangan

Disperindag terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan ketersediaan ayam di pasar. Pemerintah daerah juga akan melihat pola pasokan dan distribusi untuk memastikan kenaikan harga tidak berlangsung terlalu lama.

Marwan mengatakan, meningkatnya kebutuhan untuk MBG perlu diimbangi dengan kepastian pasokan agar program tersebut tidak ikut memberikan tekanan berlebihan terhadap harga ayam di pasar.

“Kami akan terus melakukan monitoring harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar. Untuk komoditas yang mengalami kenaikan, kami akan melihat perkembangan pasokan dan distribusinya,” katanya.

Baca Juga: Wako Agung Gandeng PKK, Bayar Pajak Kini Bisa Lewat Kader di Lingkungan Warga

Di tengah kenaikan harga ayam, sejumlah bahan pokok lainnya masih relatif stabil. Pemerintah daerah tetap melakukan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi perubahan harga dan ketersediaan komoditas strategis lainnya.

Menurut Disperindag, kelancaran distribusi menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas harga di Meranti. Koordinasi dengan distributor dan pihak terkait akan terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami terus berupaya menjaga agar pasokan tersedia dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Kami akan melakukan pemantauan secara berkala dan mengambil langkah yang diperlukan apabila terdapat indikasi kenaikan harga yang cukup signifikan,” tutupnya. (wir)

Editor : M. Erizal
SPPG kepulauan meranti Mbg harga ayam naik