Perawatan Ortodonti merupakan salah satu jenis perawatan gigi yang banyak dibutuhkan masyarakat di era modern ini. Ortodonti merupakan semua hal yang berkaitan dengan pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi seluruh kompleks orofasial yang melibatkan seluruh elemen rongga mulut dan wajah. Jika posisi dan susunan antara gigi dan rahang tidak normal, terjadi hal yang disebut maloklusi. Tujuan perawatan ortodonti adalah untuk memperbaiki posisi gigi dan rahang yang tidak normal sehingga didapatkan fungsi dan estetik geligi yang baik terhadap wajah yang menyenangkan dan dengan hasil ini tentunya akan meningkatkan kesehatan psikososial seseorang. Hasil perawatan ortodonti yang kurang baik akan berakibat sebaliknya. Untuk itu perlunya melakukan perawatan ortodonti pada ahlinya, yaitu dokter gigi spesialis ortodonti atau lebih umum disebut Orthodontist.
Masa perawatan ortodonti dapat dimulai sejak bayi sampai dewasa pada kasus-kasus tertentu, seperti pada pasien celah bibir dan langit-langit (cleft lip and palate). Namun kebanyakan pasien ortodonti membutuhkan perawatan sejak empat gigi insisivus (gigi seri) rahang atas dan bawah telah erupsi (tumbuh) sehingga dapat dilihat ada maloklusi atau tidak. Dalam merencanakan perawatan ortodonti untuk pasien, sangat penting untuk memanfaatkan fase percepatan pertumbuhan (growth spurt). Biasanya ini akan terjadi pasa usia prepubertal sehingga perawatan ortodonti akan sangat terbantu dengan adanya percepatan pertumbuhan ini. Perawatan ortodonti tidak hanya terbatas sampai pasien dewasa tetapi pasien tua pun dapat memperoleh manfaat dari perawatan ortodonti, misalnya pada pasien yang kehilangan gigi molar pertama permanen (gigi geraham pertama) dalam waktu yang lama sehingga gigi lawannya akan turun dan gigi-gigi disampingnya akan miring. Untuk pemasangan gigi tiruannya dibutuhkan perawatan ortodonti sebagian untuk mengkoreksi gigi yang turun dan miring tadi, sehingga gigi tiruan dapat dipasang pada posisi yang benar.
Maloklusi merupakan penyimpangan dari pertumbuhkembangan yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Maloklusi secara garis besar dapat digolongkan pada dua kelompok, kelompok pertama yaitu yang menyangkut kelainan gigi saja tidak melibatkan skeletal (rahang). Kelompok ini melibatkan letak, ukuran, bentuk, dan jumlah gigi. Kelompok kedua adalah maloklusi yang berkenaan dengan kelainan relasi (hubungan) skeletal yang disertai dengan kelainan gigi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya maloklusi yang dibagi menjadi maloklusi kelas I, II, dan III.
Sedangkan untuk etiologi (penyebab) maloklusi dibagi menjadi faktor herediter (genetik), faktor lokal dan gabungan berbagai faktor (multifaktorial). Beberapa contoh kelainan yang disebabkan oleh faktor herediter adalah kelainan bentuk gigi dan rahang seperti mandibula (rahang bawah) yang lebih maju daripada maksila (rahang atas) yang biasanya disebut cakil. Contoh lain yang dipengaruhi faktor herediter adalah kekurangan jumlah gigi (hipodontia), kelebihan jumlah gigi (hiperdontia), misalnya adanya mesiodens, kaninus (gigi taring) yang impaksi di palatal (langit-langit), kelainan jumlah dan ukuran gigi, dan sebagainya. Penyebutan untuk gigi sulung adalah gigi susu atau gigi anak-anak. Sedangkan gigi dewasa adalah gigi tetap atau gigi permanen. Adapun contoh untuk faktor lokal adalah gigi sulung yang tanggal prematur (lebih awal), persistensi gigi sulung (justru lama tanggalnya), trauma yang mengenai gigi sulung dapat menggeser benih gigi permanen, pengaruh jaringan lunak berupa tekanan dari otot bibir, pipi, dan lidah turut memberi pengaruh besar terhadap letak gigi.
Kebiasaan buruk seperti mengisap ibu jari, mengisap bibir bawah, mendorong lidah ke depan, menggigit kuku dan pensil turut member andil untuk menyebabkan maloklusi. Faktor lokal lainnya adalah faktor iatrogenik yang juga dapat menyebabkan maloklusi. Faktor lokal dapat menyebabkan berbagai maloklusi tergantung penyebabnya. Kebanyakan maloklusi merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor.
Sebelum melakukan perawatan ortodonti, pasien akan menjalani sesi konsultasi dengan orthodontist untuk mengetahui informasi mengenai lamanya perawatan, prosedur perawatan yang akan dilalui, apakah akan ada gigi yang perlu dicabut atau tidak, pantangan yang perlu dilakukan pasien selama pemakaian kawat gigi, termasuk biaya yang perlu dipersiapkan. Untuk dapat melakuan perawatan ortodonti yang benar, dokter gigi spesialis orto akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan detail pada pasien meliputi anamnesa, pemeriksaan intra oral, ekstra oral, pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan rontgenograf (Panoramic dan Cephalometri), pencetakan gigi pasien dan menetapkan diagnosis. Berikutnya pasien akan menjalani perawatan pendahuluan seperti pembersihan karang gigi (scalling), penambalan gigi jika ada gigi yang berlubang. Adapun untuk perawatan yang membutuhkan pencabutan akan dilakukan sebelum atau setelah alat dipasang sesuai kebutuhan.
Setelah itu barulah maloklusi tersebut dapat dilakukan pemasangan peranti (alat) ortodonti. Peranti (alat) ortodonti yang digunakan pada pasien dapat berupa peranti lepasan, fungsional, maupun cekat tergantung tingkat kebutuhan kasus pasien. Pada pasien yang dipasangkan alat ortodonti cekat (fixed appliance), akan menjalani perawatan beberapa tahun sesuai dengan tingkat keparahan kasus. Perawatan ortodonti cekat disebut juga dengan perawatan orto/perawatan merapikan gigi/perawatan kawat gigi/pemakaian bracket dan masyarakat awam menyebut dengan istilah pemakaian ‘behel’. Setelah pemasangan alat ortodonti, mulailah pasien melakukan kontrol rutin ke orthodontist dengan durasi tertentu tergantung jenis bracket yang digunakan. Untuk jenis bracket terbagi dalam bracket yang menggunakan sistem konvensional (metal, clear bracket termasuk shappire, ceramic dll), dan system self ligating.
Biasanya untuk penggunaan bracket dengan sistem konvensional akan dilakukan kontrol 1x sebulan, sedangkan pasien yang menggunakan bracket dengan sistem self ligating biasanya akan menjalani kontrol per 2 bulan. Masing-masing jenis bracket memiliki spesifikasi tersendiri. Setelah perawatan ortodonti dinyatakan selesai, pasien akan dilanjutkan dengan pemakaian retainer yang merupakan perawatan ortodonti pasif, yang berfungsi untuk meminimalisir terjadinya perubahan pasca perawatan ortodonti.
***