PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Rehabilitasi pada cedera olahraga merupakan aspek penting dalam penyembuhan cedera ACL. Tujuan utama program rehabilitasi cedera olahraga adalah agar pasien dapatkembali berolahraga pada tingkat fisik dan emosional pra-cedera dan untuk mencegah cedera kembali.
Selain memberikan program rehabilitasi pasca cedera ACL, Dokter Sp KFR dan fisioterapi juga melakukan penilaian untukmenemukan faktor risiko dan mengidentifikasi mengapa cederaACL dapat terjadi sehinga risiko cedera ulang dapat dihindari.
Program rehabilitasi baik konservatif, sebelum dan sesudahoperasi, modifikasi aktifitas, penggunaan penyangga lutut, merupakan beberapa program rehabilitasi pasie yang akan berbeda masing-masing pasien tergantung dari usia pasien, level kompetisinya atau aktivitas sehari-hari dan tujuan berolahraganya.
Dukungan dari keluarga dan teman juga penting terutama pada atlit professional untuk membantu pasien mengatasi cederanya dan stress yang diakibatkan oleh tidakdapat berpartisipasi dalam kompetisi.
Rehabilitasi pada cedera ACL bisa dilakukan untuk programkonservatif (tanpa operasi) dan pada sebelum dan sesudahoperasi. Program rehabilitasi konservatif merupakan program komprehensif yang bertujuan untuk mengembalikan lingkup gerak sendi dan proprioseptif, mengurangi nyeri dan mengembalikan pola jalan normal.
Namun operasi ACL tetap direkomendasikan bila gejala tidak berkurang dengan proses rehabilitasi dan modifikasi aktifitas.
Baca Juga: Ketahui Lebih Jauh tentang Cedera ACL
Apabila pasien sudah memutuskan untuk melakukan operasi, program rehabilitasi akan dimulai untuk mempersiapkan lututsebelum operasi agar hasil setelah operasinya optimal. Lingkup gerak sendi, pola jalan dan tonus otot akan dilatih semaksimalmungkin agar pasien lebih cepat mendapatkan lingkup geraksendi normal dan kekuatan otot yang baik setelah operasi.
Program rehabilitasi sebelum operasi bisa beberapa hari hinggabeberapa minggu, selain melakukan fisioterapi di rumah sakit, dokter Sp KFR dan fisioterapi juga akan meresepkan latihanyang dapat dilakukan pasien di rumah. Ketaatan pasien dan dukungan keluarga penting pada saat latihan sendiri di rumah.
Penggunaan penyangga lutut dan modifikasi aktivitas juga turutmendukung program rehabilitasi. Rehabilitasi pada post operasi cedera ACL telah banyak mengalami perubahan, saat ini program rehabilitasi dimulai langsung setelah operasi dengan latihan lingkup gerak sendi bertahap dan latihan berjalan berdasarkan kondisi pasien.
Tujuan dari rehabilitasi pada post operasi ACL ialah mengembalikan lingkup gerak sendi, mengembalikan kekuatan otot danproprioseptif, mengembalikan stabilitas fungsional, beraktivitas sehari-hari bebas nyeri, mencegah terjadinya cedera kembali dandapat kembali beraktivitas atau berolahraga, dll.
Baca Juga: Selain Susu, 7 Buah Ini Banyak Mengandung Kalsium untuk Menjaga Kesehatan Tulang dan Gigi, Apa Saja?
Rehabilitasi pada post operasi ACL dibagi menjadi beberapa fase:
--Fase pertama segera setelah operasi: mengurangi bengkak, melatih lingkup gerak sendi bertahap dan latihan berjalan. Penyangga lutut dan tongkat digunakan pada fase ini. Diskusikan kepada dokter ataupun tim rehabilitasi anda apakah anda boleh menginjakkan kaki yang dioperasi.
--Fase kedua: mulai latihan untuk mengembalikan kekuatanotot dan kontrol neuromuskular. Program rehabilitasi rawatjalan minimal 3 kali seminggu dan pada beberapa pasien mulai latihan menginjak kaki yang dioperasi.
--Fase ketiga: latihan sudah lebih progresif, menggunakan beban dan melatih koordinasi serta agilitas pasien.
--Fase keempat: latihan progresif untuk mempersiapkankembali berolahraga
--Fase kelima atau fase kembali berolah raga : latihan sudah spesifik kepada olahraga yang sebelumnya ditekuni.
Dapat kita lihat dari fase di atas bahwa program rehabilitasicedera olahraga akan berfokus melatih kemampuan pasien atauatlit itu sendiri dan lebih banyak latihan, bukan hanya denganpenggunaan modalitas alat.
Sebelum pasien mulai berolahraga kembali, dokter Sp KFR bersama fisioterapi akan melakukan penilaian untuk kembali berolahraga yang terdiri dari penilaian endurans muskuloskeletal dan kardiorespirasi, kekuatan otot dan fleksibilitas, kemudian juga akan ada pendampingan pada saat mulai berolahraga untukmenghindari terjadinya cedera kembali.
Hingga saat ini sebenarnya belum ada waktu pasti kapan pasien tersebut dikatakan benar-benar siap untuk kembali beraktivitas atau berolahraga. Tingkat keparahan cedera dan kompleksitaspengobatan dan operasi yang dilakukan akan mempengaruhiwaktu penyembuhan dan rehabilitasi hingga pasien sembuh dari sisi medis dan siap secara psikis untuk kembali beraktivitas atau berolahraga.
Dengan penanganan optimal, dalam 3 bulan seringnya pasien sudah bisa kembali menjalani aktivitas ringan, namun untuk aktivitas berat atau untuk kembali berolahraga biasanya butuh waktu 4-6 bulan, bahkan juga bisa lebih.
Kerjasama antar dokter dan tim rehabilitasi medik penting agarprogram rehabilitasi pasien tersebut dapat berjalan baik dan suksesnya program rehabilitasi membutuhkan kepercayaan.
Pasien harus percaya bahwa dokter dan tim rehabilitasi medik yang ikut membantu dalam proses rehabilitasi akan mengutamakan kesehatan pasien dan pasien mau turutbekerjasama dalam proses rehabilitasinya.***
Editor : RP Bayu Saputra