Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sindroma Jepitan Bahu (Shoulder Impingement Syndrome) Memahami Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Redaksi • Minggu, 13 April 2025 | 15:30 WIB
DR JANSEN SP OT SUBSP OBS(K)  FICS AIFO-K
DR JANSEN SP OT SUBSP OBS(K) FICS AIFO-K

Apa itu sindroma jepitan bahu?

Bahu adalah salah satu sendi yang paling kompleks dan fleksibel dalam tubuh manusia yang memungkinkan berbagai macam gerakan, seperti mengangkat, memutar, dan menggerakkan lengan dalam berbagai arah guna menunjang aktivitas sehari-hari yang didukung oleh otot sendi bahu pada sendi glenohumeral (tendon rotator cuff). Namun, dengan fleksibilitas tersebut, bahu juga rentan terhadap cedera.

Sindroma jepitan bahu (shoulder impingement syndrome) adalah kumpulan tanda dan gejala yang disebabkan adanya tekanan berlebih pada bantalan otot bahu (bursa) atau otot bahu tersebut yang disebabkan oleh gesekan atau jepitan tulang belikat (akromion). Kondisi ini dapat menyebabkan sendi bahu meradang, bengkak, dan iritasi sehingga membuat penderitanya mengeluhkan nyeri bahu saat mengangkat lengan. kondisi ini sering ditemui pada mereka yang aktif bergerak, terutama bagi mereka yang terlibat dalam olahraga atau pekerjaan dengan gerakan berulang pada lengan.
Penyebab utama dari jepitan tersebut adalah peradangan atau robekan pada tendon rotator cuff, yang sering terjadi akibat penggunaan berlebihan atau gerakan berulang atau kerusakan tendon akibat pertambahan usia, misalnya saat mengangkat beban berat atau mengulangi gerakan overhead (ke atas kepala).
Baca Juga: 5 Buah dan Kacang-kacangan Ini Miliki Nutrisi yang Tak Rugi Bila Dikonsumsi Setiap Hari

Penyebab dan Faktor Risiko
Berikut beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya sindroma jepitan bahu:
1. Gerakan Berulang: Aktivitas yang melibatkan angkat tangan di atas kepala secara berulang seperti dalam olahraga renang, tenis, atau angkat beban dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada tendon rotator cuff.
2. Usia: Pada orang yang lebih tua, tendon rotator cuff cenderung mengalami penurunan elastisitas dan kekuatan, meningkatkan risiko cedera.
3. Kelemahan Otot: Kelemahan pada otot-otot sekitar bahu, seperti otot deltoid atau otot rotator cuff itu sendiri, dapat meningkatkan risiko terjadinya jepitan.
4. Struktur Tulang: Beberapa individu memiliki struktur tulang bahu yang lebih sempit, yang secara alami memperkecil ruang di sekitar tendon rotator cuff, meningkatkan kemungkinan terjadinya jepitan. Adapun munculnya tulang taji (bone spur) atau osteofit sekitar akromion sehingga dapat menimbulkan tekanan berlebih pada rotator cuff.
5. Peradangan Bursa (bursitis): bantalan otot diantara tulang belikat dan otot / tendon rotator cuff dapat mengalami peradangan dan terjepit saat melakukan gerakan.
Gejala Sindroma jepitan bahu
Gejala dari sindroma jepitan bahu bervariasi dari ringan hingga berat, dan bisa mencakup:
• Rasa Sakit: Rasa sakit yang tumpul atau tajam di area bahu, terutama saat mengangkat lengan ke atas (gerakan overhead). Nyeri kadang dirasakan pada depan bahu atau menjalar ke samping lengan. Nyeri bahu kadang dirasakan saat baring menyamping atau terasa nyeri pada saat tidur malam hari sehingga terbangun.
• Keterbatasan Gerak: Kesulitan untuk mengangkat lengan, terutama saat mencoba melakukan gerakan seperti menyikat rambut atau meraih sesuatu di rak tinggi.
• Kelemahan: Bahu terasa lemah atau tidak stabil saat melakukan aktivitas fisik, dan gerakan menjadi terbatas.
• Rasa Terjepit: Beberapa penderita mengeluhkan rasa seperti ada sesuatu yang terjepit dalam sendi bahu saat melakukan gerakan tertentu.

Pengobatan Sindroma Jepitan Bahu
Untuk mengetahui penyebab yang mendasari sindroma jepitan bahu, dokter perlu mengetahui keluhan, rutinitas sehari-hari, hobi dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan juga dilakukan dengan cara mengangkat lengan pasien guna mengetahui kekuatan dan rentang gerak bahu pasien. Selain itu, sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh dokter untuk mengonfirmasi masalah tersebut dengan foto rontgen, ultrasonografi (USG) bahu dan magnetic resonance imaging (MRI), dan modalitas lainnya yang sesuai untuk menunjang penegakan diagnosis pasien.
Pengobatan sindroma jepitan bahu bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri serta mengembalikan fungsi normal bahu yang mana tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan durasi gejala yang dialami. Beberapa pilihan pengobatan meliputi:
1. Istirahat dan Modifikasi Aktivitas: Menghindari aktivitas yang memicu rasa sakit dan memberi waktu bagi bahu untuk pulih. Ini mungkin termasuk mengurangi gerakan yang melibatkan angkat lengan atau gerakan berulang.
2. Kompres Es: Penggunaan kompres es di area bahu yang terkena dapat membantu mengurangi peradangan dan nyeri.
3. Fisioterapi: Fisioterapi sangat penting untuk memperbaiki kekuatan otot-otot bahu dan meningkatkan fleksibilitas sendi. Latihan untuk memperkuat otot rotator cuff dan meningkatkan postur bahu sangat membantu dalam proses pemulihan.
4. Obat Antiradang (NSAID): Obat-obatan ini dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan.
5. Penyuntikan Obat Antiradang: Jika gejala tidak mereda dengan cara diatas, dokter mungkin menyarankan penyuntikan obat antiradang untuk mengurangi nyeri.
6. Operasi: Pada kasus tidak memberikan hasil dengan cara di atas, prosedur pembedahan bisa dipertimbangkan untuk memperbesar ruang di sekitar tendon atau memperbaiki kerusakan pada rotator cuff. Salah satu tindakan operasi yang umum dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah dekompresi subakromial yang dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif (arthroscopic shoulder decompression) dengan beberapa luka sayatan yang kecil (sekitar 1cm). Prosedur ini dilakukan dengan cara memperluas ruangan subakromion agar dapat memberikan ruang yang cukup untuk otot bahu bergerak.
Baca Juga: Inilah 7 Manfaat Tidak Terduga Berjalan Kaki Dibanding Berlari

Pencegahan Sindroma Jepitan Bahu
Mencegah sindroma jepitan bahu adalah langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menghindari cedera bahu. Beberapa tips pencegahan meliputi:
• Pemanasan yang Tepat: Sebelum berolahraga, lakukan pemanasan yang baik untuk otot-otot bahu.
• Latihan Penguatan: Menjaga kekuatan otot-otot rotator cuff dan stabilisator bahu lainnya akan membantu menjaga keseimbangan dan kekuatan bahu.
• Postur yang Baik: Menghindari postur tubuh yang buruk saat beraktivitas, baik di tempat kerja maupun saat berolahraga.
• Menghindari Gerakan Berulang: Jika memungkinkan, hindari gerakan berulang yang memberi beban pada bahu.

Kesimpulan
Sindroma jepitan bahu adalah kondisi yang cukup umum namun bisa menurunkan kualitas hidup penderita jika tidak ditangani dengan baik. Mengetahui penyebab, gejala, dan cara pengobatannya akan membantu mencegah kondisi ini berkembang lebih lanjut dan memungkinkan pemulihan yang optimal. Jika Anda merasakan gejala seperti nyeri bahu yang mengganggu, segera konsultasikan dengan dokter ahli bahu dan siku (shoulder and elbow surgeon) terdekat Anda untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan perhatian yang tepat pada tubuh dan pengelolaan yang baik, sindroma jepitan bahu dapat diatasi, dan mobilitas bahu dapat dipulihkan.***

Editor : Bayu Saputra
#shoulder #awal bros