PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Selama lebih dari satu dekade, Awal Bros Cardiac & Vascular Center membangun kapasitas penanganan serangan jantung terlengkap di Sumatera. Data clinical outcome RS Awal Bros Group mengungkap sesuatu yang lebih penting dari sekadar jumlah tindakan.
Ketika seseorang tiba di unit gawat darurat dengan serangan jantung akut, jarum jam bukan sekadar penanda Waktu, ia menentukan berapa banyak otot jantung yang masih bisa diselamatkan. Setiap 30 menit keterlambatan membuka pembuluh darah yang tersumbat setara dengan kehilangan permanen jutaan sel jantung.
Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes, lebih dari 651.000 orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahun.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Riau Dukung Penguatan Kapasitas Analis Kebijakan
Di Riau dan Kepulauan Riau, dengan pola makan tinggi lemak, angka diabetes yang tinggi, dan aksesibilitas layanan kesehatan tersier yang terbatas, beban penyakit jantung terasa lebih berat.
Selama bertahun-tahun, pilihan bagi warga yang membutuhkan tindakan jantung kompleks adalah menyeberang ke Singapura atau menempuh perjalanan panjang ke Jakarta.
Data yang dirilis Awal Bros Cardiac & Vascular Center untuk tahun 2025 menggambarkan realitas yang berbeda.
Baca Juga: Dukung Pelaksanaan MTQ Riau, PUPR Kuansing Perbaiki Beberapa Fasum
Dalam penanganan serangan jantung akut jenis STEMI, di mana pembuluh darah koroner tersumbat total, standar internasional menetapkan bahwa prosedur Primary PCI (pemasangan stent untuk membuka sumbatan pembuluh darah jantung) harus selesai dalam kurang dari 90 menit sejak pasien melewati pintu UGD. Ini yang disebut door-to-balloon time.
"Setiap 30 menit keterlambatan dalam membuka arteri yang tersumbat meningkatkan risiko kematian secara signifikan dan mengurangi fungsi jantung yang bisa dipulihkan," ujar Direktur RS Awal Bros Group, dr Widya Putri, MARS.
Sepanjang 2025, Awal Bros Cardiac & Vascular Center mencatat capaian lebih dari 80% tindakan Primary PCI diselesaikan di bawah batas 90 menit, dengan angka keberhasilan pemasangan stent jantung 93,5 persen.
Baca Juga: Golden Anniversary, RSUD Arifin Achmad Siap Jadi Benteng Utama Pelayanan Kesehatan di Riau
Dari 1.744 pasien STEMI yang ditangani pada 2024–2025, 1.631 di antaranya berhasil dipulangkan dalam kondisi hidup, dengan lebih dari 91,5 persen menyelesaikan masa rawat inap kurang dari lima hari.
Kecepatan penanganan dan lama rawat adalah dua indikator penilaian PERSI untuk kualitas layanan Jantung RS yang keduanya berhasil dipenuhi RS Awal Bros Group. Bukan sekadar angka administratif — keduanya berkorelasi langsung dengan pemulihan fungsi jantung dan risiko komplikasi jangka panjang.
Keandalan sebuah pusat jantung tidak hanya diukur dari angka keberhasilan satu prosedur, tetapi dari volume dan variasi tindakan yang dikerjakan secara konsisten selama bertahun-tahun. Volume yang tinggi berkorelasi dengan kurva pembelajaran tim, ketersediaan protokol baku, dan kesiapan alat.
Baca Juga: Buka Akses Jalan Warga, Lurah Maharatu Gelar Goro Bersama, Sebut Instruksi Langsung Wako Pekanbaru
Berikut volume kumulatif Awal Bros Cardiac & Vascular Center sepanjang 2015–2025 di antaranya, 20.000 lebih prosedur cathlab, 8.000 lebih coronary angiography, 6.230 tindakan PCI, 460 lebih open heart surgery, 1.000 lebih arterioplasty, lebih dari 750 kateterisasi jantung anak, 230 lebih pemasangan pacu jantung, dan 80 lebih bedah jantung minimal invasif.
Volume sebesar ini tidak terbentuk dalam semalam. Ini adalah akumulasi lebih dari satu dekade investasi di sumber daya manusia, teknologi, dan protokol klinis, sebuah infrastruktur yang membuat Awal Bros Group menjadi salah satu pusat jantung dengan kapasitas terlengkap di luar Jawa.
Salah satu layanan yang paling jarang diperbincangkan publik namun paling berdampak secara klinis adalah penanganan kelainan jantung bawaan pada anak-anak, khususnya lubang di sekat jantung (ASD, Atrial Septal Defect) dan saluran pembuluh yang tidak menutup sempurna setelah lahir (PDA, Patent Ductus Arteriosus).
Baca Juga: 349 Lokasi Salat Iduladha 1447 H Disiapkan di Pekanbaru
Selama bertahun-tahun, penanganan ini kerap mensyaratkan operasi besar dengan risiko tinggi. Prosedur penutupan transcatheter, menutup lubang menggunakan kateter tanpa membuka dada, mengubah itu.
Untuk kelainan jantung bawaan pada anak-anak, Awal Bros Cardiac & Vascular Center mencatat angka keberhasilan yang melampaui standar global. Prosedur penutupan lubang di serambi jantung (ASD) secara transcatheter, menutup kelainan tanpa harus membuka dada, berhasil diselesaikan dengan tingkat keberhasilan 98,7 persen.
Angka ini melampaui benchmark internasional sebesar 92,6 persen yang dipublikasikan Baruteau et al. dalam penelitian Transcatheter Closure of Large ASDs (2014).
Baca Juga: Sikapi Penurunan Harga TBS, Disbun Riau Surati PKS Beli Sawit Sesuai Aturan
Hasil serupa tercatat pada penanganan Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kondisi di mana saluran pembuluh darah yang seharusnya menutup setelah bayi lahir gagal menutup sempurna.
Prosedur transcatheter untuk PDA di Awal Bros mencapai tingkat keberhasilan 99,2 persen, melampaui benchmark global sebesar 96,1 persen yang dilaporkan Amelia et al. dalam studi The Outcomes of Transcatheter Closure in Patients with Patent Ductus Arteriosus (2021).
Kedua angka ini mengonfirmasi bahwa standar penanganan jantung bawaan anak di RS Awal Bros Group dapat menjadi pilihan masyarakat.
Baca Juga: Dua Dekade Berbagi Kehidupan, KDD Riau Komplek Catat 35.515 Kantong Darah hingga Donor ke-75
Bahwa angka-angka ini melampaui benchmark yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bukan berarti klaim superioritas, melainkan konfirmasi bahwa standar yang diterapkan sudah sejajar dengan standar global, dalam konteks pelayanan kepada anak-anak di Sumatera yang selama ini menjadi rujukan dari berbagai penjuru provinsi.
Seluruh capaian ini dikerjakan dari Pekanbaru dan Batam, bukan dari Jakarta, bukan dari luar negeri. Bagi jutaan warga Riau dan Kepulauan Riau yang selama ini merasa bahwa penyakit jantung kompleks selalu mensyaratkan perjalanan jauh, angka-angka ini mungkin layak dibaca ulang.
Editor : M. Erizal