RIAUPOS.CO - Radang usus buntu atau apendisitis bisa mendadak menyerang. Nyeri perut tiba-tiba, terutama di bagian kanan bawah jangan dianggap sepele, kondisi ini bisa menjadi tanda apendisitis yang membutuhkan penanganan medis segera.
Usus buntu merupakan organ kecil berbentuk seperti kantong yang menempel pada usus besar. Ketika terjadi penyumbatan pada rongga usus buntu, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat sehingga memicu peradangan, pembengkakan, bahkan terbentuknya nanah. Jika terlambat ditangani, usus buntu yang meradang berisiko pecah dan menyebabkan infeksi serius di rongga perut.
Melansir dari Alodokter dan Halodoc, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko radang usus buntu. Sebagian berkaitan dengan kondisi medis tertentu, sementara sebagian lainnya berasal dari kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele.
Selain memahami berbagai penyebabnya, masyarakat juga perlu mengenali gejala usus buntu, seperti nyeri perut yang berpindah ke bagian kanan bawah, mual, muntah, demam, kehilangan nafsu makan, hingga perut terasa kembung.
Jika mengalami keluhan tersebut, terutama nyeri perut yang semakin parah, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Beberapa penyebab usus buntu yang perlu diketahui seperti berikut ini:
Baca Juga: Jangan Konsumsi 3 Makanan Ini Setelah 48 Jam Disimpan di Lemari Es, Berbahaya bagi Kesehatan
1. Pembengkakan Jaringan Akibat Infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan maupun bagian tubuh lain ternyata dapat memicu radang usus buntu. Infeksi dapat menyebabkan penebalan atau pembengkakan jaringan pada dinding usus buntu.
Ketika jaringan tersebut membesar, rongga usus buntu dapat tersumbat sehingga memicu peradangan. Karena itu, infeksi yang tidak ditangani dengan baik sebaiknya tidak dianggap remeh.
2. Penumpukan Feses yang Mengeras
Salah satu penyebab utama radang usus buntu adalah adanya sumbatan pada pintu rongga usus buntu akibat tinja yang mengeras atau disebut fekalit. Penyumbatan ini membuat bakteri terperangkap di dalam usus buntu dan berkembang biak dengan cepat.
Akibatnya, usus buntu mengalami peradangan, pembengkakan, hingga infeksi. Kondisi ini menjadi alasan mengapa menjaga kesehatan saluran cerna dan mencegah sembelit sangat penting untuk dilakukan.
3. Cedera pada Bagian Perut
Meski tergolong jarang terjadi, cedera pada perut juga dapat menjadi faktor pemicu radang usus buntu. Benturan keras atau trauma pada area perut diduga dapat menyebabkan perubahan pada struktur jaringan sehingga memengaruhi kondisi usus buntu. Apabila mengalami nyeri perut setelah cedera, segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.
4. Infeksi Parasit dalam Saluran Cerna
Keberadaan parasit di saluran pencernaan, seperti cacing kremi atau ascariasis, juga diduga menjadi salah satu penyebab usus buntu. Parasit dapat menyumbat rongga usus buntu sehingga memicu pertumbuhan bakteri di dalamnya. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan makanan serta rutin mencuci tangan menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko infeksi cacing.
5. Kondisi Medis Tertentu
Beberapa penyakit dapat meningkatkan risiko terjadinya radang usus buntu. Misalnya, tumor di area perut atau penyakit radang usus (inflammatory bowel disease). Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyumbatan pada saluran usus buntu. Jika seseorang memiliki riwayat penyakit pencernaan tertentu, pemeriksaan Kesehatan secara berkala sangat dianjurkan.
6. Gemar Mengonsumsi Makanan yang Dibakar
Makanan yang dibakar hingga bagian permukaannya menghitam, seperti sate atau ikan bakar yang gosong, mengandung zat karsinogen. Meski hubungan langsung dengan radang usus buntu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, konsumsi makanan yang dibakar secara berlebihan sebaiknya tetap dibatasi demi menjaga kesehatan pencernaan.
7. Sering Menahan Kentut
Kebiasaan menahan kentut ternyata tidak baik bagi kesehatan pencernaan. Halodoc menyebutkan bahwa gas yang tertahan dalam saluran cerna dapat meningkatkan tekanan pada usus.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada usus buntu. Karena itu, jangan biasakan menahan keinginan untuk buang gas.
8. Terlalu Sering Makan Gorengan
Baca Juga: Warga Bangkinang Khawatir Kuota Pertalite Tak Cukup hingga Akhir Bulan
Gorengan memang sulit ditolak. Namun, konsumsi makanan tinggi lemak dan hasil proses penggorengan berulang kali dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Halodoc menyarankan untuk membatasi konsumsi gorengan dan memilih metode pengolahan yang lebih sehat, seperti dikukus atau direbus.
9. Jajan Sembarangan
Kebiasaan membeli makanan yang kebersihannya tidak terjamin juga perlu diwaspadai. Makanan yang terkontaminasi bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Dalam beberapa kasus, infeksi tersebut berpotensi memicu terjadinya radang usus buntu. Karena itu, pastikan makanan yang dikonsumsi bersih dan diolah dengan higienis.
Baca Juga: ZHM Blood Donation 2026 Berhasil Mengumpulkan Ratusan Kantong Darah di The Premiere Hotel Pekanbaru
10. Konsumsi Daging Olahan secara Berlebihan
Daging kalengan dan berbagai produk olahan instan sering kali mengandung bahan tambahan tertentu yang kurang baik jika dikonsumsi terus-menerus. Meskipun belum menjadi penyebab langsung, pola makan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk peradangan.
Editor : M. Erizal