Stunting masih menjadi salah satu masalah gizi kronis yang membayangi tumbuh kembang anak di Indonesia, tak terkecuali di Riau. RS Awal Bros mengajak para orang tua untuk lebih memahami kondisi ini agar dapat melakukan pencegahan sejak tahap paling awal, yaitu sejak bayi masih berada dalam kandungan.
Menurut dr. Mislina Munir, M.Ked(Ped).Sp.A, Subsp.NPM(K), Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, stunting berasal dari kata stunted yang berarti perawakan pendek, yaitu kondisi ketika tinggi badan anak berdasarkan usianya berada di bawah minus dua standar deviasi kurva pertumbuhan WHO. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronik dan perlu dibedakan dengan perawakan pendek akibat faktor keturunan, yang dapat dilihat dari potensi genetik kedua orang tuanya.
Dokter Mislina mengingatkan bahwa keaktifan seorang anak tidak serta-merta menjamin anak tersebut terbebas dari stunting. Menurutnya, aktif saja tidak cukup, karena berat badan, tinggi badan, dan tahapan perkembangan anak juga harus sesuai dengan usianya, sejalan dengan definisi sehat yang mengacu pada standar Kesehatan Ibu dan Anak.
Baca Juga: 5 Makanan yang Sering Memiliki Reputasi Buruk, Tidak Baik untuk Kesehatan, Bagaiamana Sebenarnya?
Stunting bahkan dapat mulai terjadi sejak bayi masih berada dalam kandungan apabila asupan nutrisi ibu selama kehamilan tidak cukup sehat dan seimbang. dr. Mislina menjelaskan bahwa bayi yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah memiliki potensi mengalami stunting hingga sekitar 12 persen.
Ia juga meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa tinggi badan anak akan mengejar ketertinggalannya seiring bertambahnya usia, terutama saat memasuki masa pubertas. Menurut dr. Mislina, anggapan tersebut adalah mitos, sebab pada anak yang mengalami stunting, kondisi ini sudah dapat terjadi sejak dalam kandungan. Perkembangan otak anak yang mencapai sekitar 85 persen hingga usia dua tahun berlangsung sangat pesat pada periode ini, sehingga pemantauan kenaikan berat badan dan tinggi badan anak setiap bulan menjadi penting agar intervensi dapat dilakukan secepat mungkin.
Tanda awal stunting biasanya ditunjukkan dengan berat badan anak yang tidak naik atau kenaikannya tidak adekuat, serta anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya. Kondisi ini kerap disertai munculnya penyakit yang diikuti penurunan atau stagnasi berat badan.
Baca Juga: 10 Makanan Ini Mengandung Protein Tinggi, Bermanfaat Membantu Pembentukan dan Perbaikan Massa Otot
dr. Mislina menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan. Dampak jangka panjangnya dapat berupa penurunan IQ anak sebesar 15 hingga 20 poin, serta meningkatkan risiko penyakit degeneratif di kemudian hari, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi. Stunting juga berdampak pada konsentrasi dan kemampuan kognitif anak, sehingga di usia sekolah, anak yang mengalami stunting cenderung lebih sulit bersaing dan mengikuti pelajaran dibandingkan teman seusianya.
Dalam pemaparannya, dr. Mislina menekankan pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu periode emas yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode inilah perkembangan otak, motorik, penglihatan, pendengaran, bahasa, dan sosial anak berlangsung sangat pesat. Ketika asupan gizi ibu hamil kurang, nutrisi bagi janin pun akan ikut berkurang, yang berisiko menyebabkan anak lahir dengan kekurangan gizi, berat badan rendah, atau bahkan prematur, sehingga risiko stunting pun meningkat.
Salah satu penyebab utama stunting adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat, yang antara lain dipengaruhi oleh keterbatasan daya beli maupun kondisi kemiskinan. Namun, dr. Mislina mengingatkan bahwa stunting juga dapat terjadi pada keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan makanan bergizi apabila anak memiliki penyakit yang mendasari atau mengalami gangguan penyerapan nutrisi.
Ia turut menyoroti konsumsi makanan ultra proses yang umumnya mengandung kadar gula dan garam tinggi. Orang tua diimbau untuk selalu memeriksa kandungan gizi pada label kemasan makanan dan menyesuaikannya dengan angka kecukupan gizi anak sesuai usia. Untuk anak di bawah usia satu tahun, kandungan garam disarankan tidak melebihi satu gram per hari, sementara asupan gula sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari total kalori harian.
Tidur yang cukup turut menjadi bagian penting dari terapi nutrisi anak. dr. Mislina menyarankan agar anak sudah tertidur sejak pukul 20.00, karena hormon pertumbuhan bekerja optimal pada rentang waktu pukul 23.00 hingga 03.00 saat anak berada dalam tidur yang lelap.
Air susu ibu (ASI) disebutkan sebagai nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada usia nol hingga enam bulan, dan dianjurkan untuk dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan pemberian makanan pendamping ASI atau MPASI yang dimulai sejak usia enam bulan. Menurut dr. Mislina, ASI mengandung makronutrien, antibodi, hormon, zat antialergi, antivirus, dan enzim pencernaan yang tidak dimiliki oleh susu formula, sehingga menjadikannya salah satu asupan terpenting dalam upaya pencegahan stunting.
dr. Mislina juga mengingatkan sejumlah kesalahan yang kerap terjadi dalam pemberian MPASI, seperti pemberian menu tunggal yang tidak mengandung kombinasi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral secara lengkap, serta frekuensi dan jumlah pemberian yang belum sesuai kebutuhan. Pengenalan tekstur makanan pun perlu diperhatikan secara bertahap, mulai dari nasi tim halus pada usia enam hingga sembilan bulan, nasi tim kasar pada usia sembilan hingga dua belas bulan, hingga makanan keluarga saat anak berusia satu tahun ke atas. Variasi rasa dan bentuk makanan juga diperlukan agar anak tidak bosan, tanpa perlu menambahkan gula maupun garam secara berlebihan.
Penyakit yang mendasari, seperti diare, demam, dan infeksi berulang, turut dapat memicu terjadinya stunting di kemudian hari. Oleh karena itu, dr. Mislina menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap berbagai penyakit tersebut agar kondisi stunting dapat dicegah.***
Oleh : Dokter Spesialis Anak, Konsultan Nutrisi, dan Penyakit Metabolik RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru., dr. Mislina Munir, M.Ked(Ped).Sp.A, Subsp.NPM(K)
Editor : Bayu Saputra