Kabut Asap Akibat Karhutla di Musim Kemarau, Waspadai Penyakit yang Rentan Muncul 

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 08:03 WIB
Pengendara sepeda motor memakai masker ketika melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru  yang diselimuti kabut asap, Setelah lama tidak hujan, BMKG Pekanbaru memprediski sebagian besar wilayah Riau berpotensi hujan ringan hingga sedang. (MHD AKHWAN/RIAU POS )
Ilustrasi kabut asap. (MHD AKHWAN/RIAU POS )

RIAUPOS.CO - Musim kemarau yang belakangan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan mengakibatkan kabut asap dapat memberikan dampak secara langsung terhadap kesehatan.

Seperti rasa gatal di tenggorokan, hidung berair, batuk, pilek yang merupakan salah satu gejala dari ISPA.

Beberapa penyakit lain mungkin juga mengintai saat musim kemarau dan kabut asap akibat karhutla. Oleh karena itu, menjaga kebersihan juga menjadi hal penting untuk membantu menghindari risiko terkena penyakit selama musim kemarau.

Baca Juga: Hari Pelanggan Nasional, PLN UP3 Rengat Resmikan SPKLU di Bank Mandiri Rengat

Dilansir dari laman datascripmall dan medizen.co pada (28/08), berikut adalah penyakit yang rentan muncul selama musim kemarau panjang.  

1. ISPA

Musim kemarau dapat meningkatkan kasus ISPA. hal ini terjadi karena suhu meningkat secara drastis, sementara polusi udara  serta debu-debu bertebaran, sampai asap kering yang mempengaruhi saluran pernapasan. 

Baca Juga: Kunjungan Tim Inspeksi Kejagung ke Riau Ikut Terdampak Erupsi Anak Krakatau

Gejala ISPA yang muncul seperti demam, tenggorokan gatal, pilek, batuk, serta hidung tersumbat. Kondisi ini dapat anda antisipasi dengan menggunakan masker, mengepel lantai yang berdebu, menyiram jalanan yang kering, serta rutin membersihkan lingkungan rumah.  

2. Diare

Kondisi kelangkaan air di musim kemarau dapat meningkatkan kasus diare, sebab beberapa orang akan kesulitan menjaga kebersihan, terutama pada makanan. 

Baca Juga: Dosen FKIP Unri Edukasi Pentingnya Pendampingan Belajar Anak

Suhu yang terlalu panas juga dapat membuat makanan lebih cepat basi, sehingga meningkatkan kemungkinan diare jika makanan yang sudah basi tetap dikonsumsi.

3. DBD

Genangan air pada bak mandi dapat menjadi sarang nyamuk,. Musim kemarau membuat cuaca menjadi lebih panas, sehingga aktivitas serangga dalam mencari mangsa, termasuk nyamuk DBD dapat meningkat. Penyakit DBD lebih cepat menular terutama di lingkungan padat penduduk yang tidak bersih. 

Baca Juga: BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

4. Penyakit kulit

Cuaca panas dapat membuat kulit kering dan kehilangan kelembaban, bahkan bisa teriritasi saat beraktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, penting untuk memakai pelembab kulit serta moisturizer agar kulit tidak pecah-pecah dan tetap terjaga kelembabannya.

5. Mata iritasi 

Baca Juga: Terjebak di Pekanbaru Akibat Penerbangan Dibatalkan, Warga Jakarta Terpaksa Ambil Rute Jauh

Musim kemarau rentan membuat mata mudah iritasi. Gejala yang paling sering muncul adalah mata berair dan berwarna merah. Istirahatkan mata anda sejenak sehingga dapat membantu mengatasi kondisi iritasi mata ini.

6. Heatstroke 

Heatstroke bisa lebih mudah terjadi terutama disaat musim kemarau. Cuaca yang sangat panas berpotensi membuat tubuh rentan tumbang menghadapi teriknya matahari, terutama bagi yang beraktivitas outdoor. Gejala heatstroke yang muncul seperti pusing, mual, muntah, sampai pingsan. 

Editor : M. Erizal
Sumber : jawapos.com
ispa kabut Asap kemarau