SENTAJO (RIAUPOS.CO) - Suasana di komplek rumah godang Kenegerian Sentajo yang berada di Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Selasa (1/4/2025) pagi terlihat ramai dikunjungi orang.
Di sini, ada 27 rumah godang dari empat suku di Kenegerian Sentajo. Suku Paliang, Suku Malayu, Suku Patopang dan Suku Caniago.
Memang setiap hari raya kedua Idulfitri, rumah-rumah godang dari empat suku itu penuh terisi oleh ninik mamak dan cucu kemenakan. Tradisi ini dikenal dengan 'Barayo ka Rumah Godang'.
Dalam tardisi ini, yang berperan adalah penghulu. Tradisi turun temurun ini sudah berlangsung lama. Konon, usianya sudah lebih dari 100 tahun.
Meski sudah berlangsung ratusan tahun, tradisi ka rumah godang (Rumah Adat) untuk bersilaturahmi antara ninik mamak dengan para cucu kemenakan dari masing-masing suku Kenegerian Sentajo hingga kini masih dilaksanakan.
Menti Sakato Suku Patopang Madiyusman, Rabu siang (2/4/2025) menuturkan, tradisi ka rumah godang Kenegerian Sentajo dilaksanakan setiap tahun pada hari raya ke II Idulfitri.
Dikatakannya, tradisi ini menjadi ajang bersilaturahmi ninik mamak dengan para cucu kemenakan. Tradisi ini sangat penting di hadiri. Dimana di rumah godang inilah, para cucu kemenakan tahu bahwa mereka serumpun (se suku).
"Apalagi yang dari perantauan pulang kampung. Menjadi tahu mana datuk penghulu, ninik mamak maupun cucu kemenakannya," papar Madiyusman.
Saat acara silaturahmi, para petinggi adat masing-masing rumah godang suku memberikan pituah kepada para cucu kemenakan terutama masalah adat istiadat serta larangan dan pantangan dalam adat.
Selain itu, biasanya para Penghulu, Menti, Dubalang, imam/ kotik serta para tuo Kampuang dan Tangganai serta para perangkat adat menanyakan kepada cucu kemenakan jika ada permasahan (silang - Sangketo). Jika ada maka diselesaikan di rumah godang tersebut.
'' Alhamdulillah, tahun ini acara ka rumah godang sangat ramai. Mudah-mudahan tradisi rayo ka rumah godang Kenegerian Sentajo Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi akan tetap langgeng," ujar Menti Sakato Madiyusman. (dac)
Editor : M. Erizal