TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Budidaya jagung pipil sebagai program ketahanan pangan masyarakat di desa, ternyata cukup potensial untuk menambah pendapatan ekonomi masyarakat.
Satu hektare lahan bisa menghasilkan 10 ton jagung pipil. Sementara harganya cukup lumayan tinggi, mencapai Rp6.500 per Kg dengan tingkat kekeringan jagung yang cukup baik. Sehingga bisa menjadi sumber pendapatan petani dan masyarakat di desa.
Contohnya saja, Kecamatan Singingi Hilir. Dari 12 desa yang ada, baru tiga desa yang sudah panen jagung pipil. Hasilnya lumayan baik, mencapai 10 ton per hektare. Dari tiga desa itu, yakni Desa Koto Baru dan Desa Simpang Raya, mampu menghasilkan 50 ton jagung pipil dengan luasan 5 hektare.
‘’Dan masih ada sembilan desa lagi yang akan segera panen. Diperkirakan lebih dari 100 ton,’’ ungkap Camat Singingi Hilir, Andhi Syamsul pada Riau Pos, Ahad (2/11).
Andhi Syamsul menjelaskan, untuk pemasaran jagung pipil ini, petani tidak perlu bingung. Karena Bulog bersedia menampung berapa pun hasil panen petani.
‘’Nah kemaren, hasil panen 50 ton jagung pipil tiga desa itu, kita kirim ke Bulog Pekanbaru langsung. Sebab harganya beda bila mereka yang jemput. Kalau kita antar itu Rp6.500 per Kg. Kalau mereka yang jemput, itu Rp5.000 per Kg,’’ kata Andhi Syamsul.
Tanaman jagung pipil, tidak perlu ditanam dalam lahan yang terlalu luas, tetapi hasilnya potensi menjadi tambahan ekonomi masyarakat. ‘’Karena itu, kalau masyarakat punya tanah satu hektare atau setengah hektare, lebih baik tanam lah jagung pipil. Hasilnya lebih dari cukup,’’ ujarnya.(dac)
Editor : Arif Oktafian