TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) -- Kabupaten Kuansing di tahun 2025 ini mendapatkan bantuan program cetak sawah baru seluas 211 hektare dari Kementerian Pertanian RI.
Penambahan cetak sawah baru seluas itu, diharapkan bisa memperkecil kekurangan produksi beras di Kuansing. Bahkan Bupati Kuansing, Dr H Suhardiman Amby MM berharap di tahun 2029 Kabupaten Kuansing bisa swasembada pangan (beras) .
"Kita berharap, 2029 dengan tambahan cetak sawah baru ini, kita bisa swasembada beras," ungkap Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby MM menjawab Riaupos.co usai pertemuan dengan sejumlah kepala desa dan BPD di Kecamatan Inuman, Rabu (24/12/2025).
Suhardiman Amby mengatakan, dari data Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Ketahanan Pangan Kuansing, kebutuhan beras Kuansing mencapai 31.000 ton per tahun. Tetapi produksi beras petani di Kuansing baru bisa mencapai 16.000 ton per tahun. Dengan begitu masih kekurangan 15.000 ton per tahun.
Karena itu, ia menginstruksikan agar penyuluh pertanian, dan kelompok tani berkoordinasi dengan Kades, untuk membentuk kelompok tani milenial ada tiap desa.
Ia berharap generasi muda tidak ragu terjun ke sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi modern. Petani milenial harus mampu mengubah pola lama menjadi pertanian yang berbasis teknologi, mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga pasca panen.
"Jika mereka tekun dan melaksanakan pola pertanian modern, maka hasilnya akan lebih menjanjikan dari berkebun sawit," ujarnya.
Dengan penerapan teknologi di dalam pertanian, ia yakin Kuansing bisa jadi daerah yang swasembada beras. Ditambah pola tanam yang satu kali atau dua kali tanam, di rubah menjadi tiga kali tanam per tahun. "Kalau nasional kan tahun 2029, saya minta ke pak kadus 2027 usahakan," ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Kuansing Deflides Gusni, menjelaskan total luasan rencana cetak sawah baru dan cetak sawah rakyat (CSR) di Kecamatan Inuman mencapai 211 hektare.
Deflides yang juga mantan Kadis DLH Kuansing itu menyebutkan, program ini diharapkan dapat menambah luas baru sawah sekaligus meningkatkan produksi padi daerah. "Luasan tersebut tersebar di beberapa lokasi yang telah diusulkan dan sedang dalam proses tahapan administrasi serta teknis," jelas Deflides.
Deflides memaparkan alur pelaksanaan kegiatan dimulai dari calon petani calon lokasi (CPCL), yang bertujuan memastikan kesiapan petani dan lahan. Selanjutnya dilakukan survey investigasi desain (SID) untuk menilai kelayakan teknis dan perencanaan konstruksi.
Setelah tahapan konstruksi selesai, barulah lahan tersebut ditetapkan dan difungsikan sebagai cetak sawah rakyat (CSR), yang siap dimanfaatkan petani untuk mendukung peningkatan produksi padi di Kuantan Singingi. Pihaknya optimistis, swasembada pangan di Kuansing bisa tercapai pada 2029 mendatang.
Editor : Rinaldi