TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Pemerintah lewat PT Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi. Yakni Pertamax Turbo dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Harga ini pun sudah diberlakukan di semua SPBU. Di SPBU Sungai Jering Kecamatan Kuantan Tengah yang merupakan SPBU dalam kota Telukkuantan, Senin(19/4/2026) pagi hingga siang masih terlihat antre kendaraan. Baik kendaraan berbahan bakar solar, maupun Pertalite yang mengular lumayan panjang di pinggiran ruas jalan lintas itu. Bahkan hingga 500 meter.
Sementara untuk Pertamax Turbo dan Pertamax 92 stok kosong. Stasiun pengisian Dexlite yang satu unit dengan bio solar nampak sepi dari antrean kendaraan. Kendaraan berbahan diesel yang ada nampak lebih memilih bio solar yang harganya tetap dan tidak mengalami kenaikan.
Baca Juga: Mengubah Laptop Telantar Jadi Penunjang Belajar
Pengendara terpaksa harus antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
"Yang buat kami bertanya-tanya lagi kok hanya bisa mengisi BBM 50 liter per hari," kata Ronaldo salah seorang warga Telukkuantan yang ikut antre.
Menurut petugas di SPBU Sungai Jering, Masran, Pertamax 92 dan Pertamax Turbo pasokannya tidak masuk.
"Katanya kosong di depot," kata Masran.
Sebagai pengelola SPBU, kata Masran, mereka tentu ikut dengan kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM itu. Hanya saja BBM yang disuplai tidak rutin masuk setiap hari, hanya dua kali sehari. Sehingga itu juga mempengaruhi antrean kendaraan saat BBM masuk.
Baca Juga: Pegadaian Kembali Gelar Kegiatan “Mengetuk Pintu Langit”
Padahal, pasokan BBM di Sungai Jering untuk semua jenis 16 KL Mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa karena menjadi kebijakan Pertamina.
Selain itu, pemerintah perlu memikirkan solusi bagaimana masyarakat di perdesaan atau kampung bisa mengambil BBM di SPBU. Sebab keluhan itu sering disampaikan pada mereka dan pengelola SPBU lainnya.
Secara nyata pemanfaat BBM bersubsidi pertalite berada di daerah pedesaan yang notabennya jarak antara penyalur (SPBU) sangat jauh berkisar 30-50 Kilometer.
Yang menjadi dilemah adalah bagaimana mungkin masyarakat yang memiliki sepeda motor di pedesaan mengisi minyak ke SPBU hanya 1,5-3 liter dengan jarak tempuh 30-50 Kilometer itu. Sebab saat kembali pulang ke rumah, sudah pasti minyak yang diisi tadi sudah habis lagi.
Baca Juga: Jadi Penggerak Ekonomi Umat, MAIC Rohul Gandeng PT ANS
Solusinya tentu harus dengan menggunakan jasa angkut dari SPBU kepedesaan dengan menggunakan wadah jerigen sehingga memudahkan bagi rakyat kecil di desa untuk mendapatkannya.
Saat ini yang terjadi masyarakat kecil di pedesaan menjerit tidak mendapatkan BBM subsidi untuk sepeda motor butut ke kebun, mengantar anak sekolah dan lainnya. Karena aturanya tidak boleh mengambil BBM subsidi dengan menggunakan wadah Jerigen. "Dan kami pengelola SPBU tentu ikut dengan aturan pemerintah ini," kata Masran.
Menyikapi terjadinya kenaikan BBM nonsubsidi ini, Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana SH SIK MH yang dikonfirmasi mengatakan, dia sudah menginstruksikan pada seluruh jajaran dan polsek untuk rutin melakukan patroli, melakukan pengecekan BBM di SPBU-SPBU yang ada.
Dimana sejak diumumkannya kenaikan harga, sampai hari ini di semua SPBU di Kuansing terjadi antrean panjang kendaraan. Kondisi itu di khawatirkan terjadinya pelansiran BBM, penimbunan.
"Dan kami mengingatkan, jangan melakukan penimbunan. Petugas SPBU diminta mengecek kendaraan yang antre BBM berulang-ulang. Dan ini langkah kita untuk mencegah terjadinya penimbunan BBM," ungkap Hidayat Perdana.
Baca Juga: Bupati Ajak HKR Pekanbaru Aktif Bangun Rohul
Apalagi, dari Januari 2026 hingga April 2026, Polres Kuansing sudah mengungkapkan tiga kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi. Ia mengimbau semua masyarakat Kuansing bisa memahami dan mengikuti kebijakan yang diambil pemerintah. Sebab, kebijakan menaikan harga BBM nonsubsidi harus dilakukan di tengah kondisi sekarang ini.(dac)
Editor : Edwar Yaman