Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dilirik Investor, Limbah Batok Kelapa di Pulau Bengkalis Menjadi Arang Bernilai Ekonomis

Abu Kasim • Senin, 6 Mei 2024 | 09:40 WIB

Dua pekerja wanita mengeluarkan arang batok kelapa yang baru selesai didinginkan untuk diayak kembali sebelum disimpan ke dalam gudang di Bengkalis, belum lama ini.
Dua pekerja wanita mengeluarkan arang batok kelapa yang baru selesai didinginkan untuk diayak kembali sebelum disimpan ke dalam gudang di Bengkalis, belum lama ini.


Melimpahnya hasil pertanian pohon kelapa di Pulau Bengkalis, tak hanya memberikan keuntungan tersendiri bagi para petani dan juga pedagang. Namun dibalik itu, limbah yang dihasilkan dari pohon kelapa tersebut, seperti sabut dan batok kelapa selalu mencemari lingkungan. Tapi lain halnya jika batok kelapa diubah menjadi barang yang bernilai ekonomis.

RIAUPOS.CO - SIANG itu, kepulan asap berwarna putih membumbung tinggi keudara. Namun asap itu bukan akibat kebakaran hutan dan lahan disaat musim kemarau. Namun asap itu dihasilkan dari pengolahan tempurung kelapa yang dibakar dengan menggunakan media drum, untuk diolah menjadi arang batok kelapa.

Usaha membuat arang batok kelapa yang digeluti pasangan suami istri Misran dan Sani, di bawah naungan Koperasi Bina Keluarga Insani miliknya beralamat di Jalan Sudirman, RT02/RW04, Dusun Grintang, Desa Bantan Timur, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Misran yang dijumpai sedang melakukan pembongkaran hasil pembakaran batok kelapa yang sudah menjadi arang mengaku, usaha yang digelutinya sudah berlangsung selama 15 tahun.

Selama 10 tahun berjalannya usaha itu, selalu mengalami pasang surat. Hal ini karena terbentur modal usaha, namun karena itu menjadi sumber ekonomi keluarganya dengan penuh kesabaran tetap dijalani.

“Ya, memang dalam membangun usaha ada risiko dan juga gagal. Namun ini tetap kita geluti dan Alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar. Hanya saja memang kita terkendala modal usaha dan juga kurangnya perhatian pemerintah terhadap usaha kecil seperti kita,” ucap Mirsan.

Sedangkan Sani, istrinya yang pernah menjabat sebagai kepala Desa Bantan Timur juga mengungkapkan awal dirinya menggeluti usaha pembuatan arang dari batok kepala, karena keresahan masyarakat, terutama petugas kebersihan di pasar-pasar tradisional di pulau Bengkalis.

“Ya, karena biasanya setelah masyarakat membeli kelapa untuk diambil santannya, setelah itu tempurungnya dibuang dimana-mana. Makanya keresahan itu saya ambil untuk menjadi peluang usaha,” ucap Sani.

Namun memang sejak lama dia dan suaminya adalah pedagang kelapa yang diantar ke pasar-pasar tradisional. Hingga akhirnya merubah pola pikir masyarakat dan pedagang untuk memanfaatkan limbah batok kelapa mejadi barang ekonomis.

Kondisi itu, membuat petugas kebersihan di pasar-pasar tradisonal mengeluhkan, selain jumlahnya banyak sehingga pembuangan batok kelapa di tempat sembarangan membuat lingkungan menjadi tercemar dan kotor.

Bahkan, pihak dinas pasar dan dinas lingkungan hidup Kabupaten Bengkalis kewalahan mengatasi persoalan limbah batok kelapa hasil pembuangan oleh pedagang yang hanya memanfaatkan isi kelapa untuk kebutuhan pembuatan santan kelapa.

Makanya timbul ide untuk membuka usaha kecil-kecilan membuat arang dari batok kelapa, yang biasanya arang di pulau Bengkalis ini terkenal oleh arang dari kayu bakau alias mangrove.

Meski demikian, arang batok kelapa ini kurang peminatnya untuk pasaran lokal, sehingga dirinya berpikir untuk mencari pembeli diluar dan dapatlah pasarnya di daerah Lampung dan Jogja dan mereka sanggup menampung berapapun arang batok kelapa untuk dijual disana.

Memang pembuatan arang ini dilakukan secara tradisonal, dengan membakarnya didalam drum ukuran besar dan menghasilkan asap pembakaran cukup banyak. Bahkan sempat ada teknologi yang dibuat oleh mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis, namanya kondensor penyaring asap yang diubah menjadi air.

“Ya, ada teknologinya. Tapi itu tak bertahan lama. Hingga akhirnya tak bisa digunakan lagi. Sedangkan hasil asap pembakaran arang ini diubah menjadi air dan dipergunakan sebagai pupuk tanaman,” ujar Sani.

Karena alat kondensornya rusak dan tak tahan lama, akhirnya dia bersama suaminya berfikir melakukan pembakaran arang batok kelapa dengan menggunakan sistem tungku, seperti pembakaran batu batu. Namun sistem tungku yang dibuat ini berbeda dengan batu bata, yang masih ada rongga keluarnya api.

Namun tungku pembakar arang kelapa ini adalah tungku kedap udara, sehingga setelah bahan baku batok kelapa dimasukan kedalam tungku yang berkapasitas 5 ton dilakukan pembakaran selama dua hari dan setelah batoknya terbakar, tungku akan ditutup rapat, sehingga udara pun tak bisa masuk ke dalam.

Ini gunanya agar proses pembakaran batok kelapa menjadi sempurna dan setelah dua hari dilakukan proses pendinginan selama tiga hari. Tentu dengan kondisi tungku masih tertutup rapat dan barulah pada hari ke lima tungku dibuka dan dikeluarkan isi arang batok kelapa untuk diproses pemisahan debu dan arang batok dengan cara diayak menggunakan mesin pengayak.

Jadi dari 5 ton bahan baku tempurung kelapa yang dibakar akan menghasilkan arang sebanyak 2,5 ton, dengan kualitas arang batok kelapa yang sangat bagus. Jika dibandingkan dengan pembakaran menggunakan drum, hasil pembakarannya sangat buruk.

Tapi setelah dilakukan pembakaran menggunakan sistem tungku, hasil pembakaran arang cukup baik dan penyusutannya juga sangat sedikit. Juga batok yang sudah mejadi arang ini pun masih tebal, tak seperti dibakar menggunakan drum besi.

Sani mengaku, dalam memanfaatkan tempurung kelapa dirinya tidak mengambil satu persatu limbah yang berserakan. Namun dirinya sebagai pemasok kelapa bulat ke pedagang, agar batok yang sudah diambil isinya untuk dikumpulkan dalam sebuah karung.
“Ya, kalau dia mau bekerjasama, maka kita akan antarkan kelapa kita ke pedagang. Kalau tak mau kita tak akan antar. Akhirnya sepakat, antar saya dan pedagang sama-sama untung. Saya jual kelapa perbutirnya Rp3500 dan batok kelapa yang mereka kumpulkan kita beli seharga Rp500-800 per kilogram,” jelasnya.

Akhirnya, batok kelapa yang biasanya menjadi limbah dan merusak lingkungan, kini batok kelapa memiliki peluang ekonomi yang sangat tinggi. Karena saat ini penampung hasil produksi arang batok kelapa sudah ada dan berapapun jumlahnya akan diambil.

Biasanya kata Sani, produksi arang batok kelapanya dijual ke daerah Lampung dan Jogja. Bahkan juga dijual ke Malaysia, namun karena harganya murah, maka tetap memilih dijual di dalam negeri. Selain harganya kompetitif, juga tidak banyak mengeluarkan biaya.

 “Dulu sebelum ada pasar dalam negeri dan kita memanfaatkan jalur dagang lintas batas. Maka kita membawa ke Malaysia rata-rata 30 ton per bulannya, dengan harga lebih kurang di Malaysia Rp5200. Tapi sekarang pasaran dalam negeri sudah mencapai Rp5600-Rp6500 per kg dan pernah mencapai harga tertinggi Rp8000 ribu,” jelasnya.

Ia mengaku, untuk bahan baku saat ini sangat melimpah dan bahkan di gudang produknya tak pernah putus bahan baku tempurung kelapa. Karena kita juga ada perjanjian dengan pedagang kelapa agar tempurung kelapa tidak dibuang, karena selain mrncemari lingkungan, juga berbahaya bagi manusia.

Karena kalau dibuang sembarang, bisa membuat para pejalan kaki yang tak menggunakan alas kaki bisa terluka. Karena tempurung kelapa ini tak mudah diolah kalau dibuang sembarang.

Dilirik Investor  Asing dari Timur Tengah
Ternya usaha yang dirintis Misran dan Sani sejak belasan tahun, bakal membuahkan hasil yang menggembirakan. Karena sudah ada investor asing dari Timur Tengah yang ingin bekerjasama untuk memproduksi arang batok kelapa.

“Ya, sudah satu tahun yang lalu investor asing dari Timur Tengah yang mengunjungi ke tempat produksi arang kelapa kami. Mereka sangat serius, karena melihat kualitas produksi arang batok kelapa kami bagus maka mereka ingin bekerjasa,” ucap Sani yang juga Ketua Koperasi Bina Keluarga Insani.

Ia menjelasakan, pada Mei 2023 lalu dua orang investor dari Timur Tengah berjanji akan mengambil semua hasil produksi arang kelapanya. Kedepan mereka berencana akan membangun pabrik briket arang tempurung kelapa di Jogja.

Setelah pabrik mereka jadi, maka kerjasama akan dilanjutkan. Makanya melalui peluang ini Sani mengajak seluruh masyarakat Riau memanfaatkan peluang usaha ini, karena tidak mungkin koperasinya menyiapkan seluruh kebutuhan arang, yang nantinya akan dijadikan briket dan di ekspor ke luar negeri.

“Ini beluang besar dan kita akan bekerjasama dengan petani kelapa se Riau. Tentu sistemnya nantik akan kita bicarakan. Karena yang kita produksi ini tidak lagi dalam bentuk arang, melainkan tepung arang yang akan diproduksi menjadi briket,” ujarnya.

Untuk menyakinkan dirinya, Sani bersama suaminya diajak oleh dua investor Timur Tengah itu berkumjung ke negaranya, yang diawali dengan berkunjung ke lokasi pembuatan pabrik di Jogja.
Karena kata Sani, untuk produksi saat ini masih dijual ke pihak lain. Tapi setelah pabrik mereka jadi, maka seluruh produksi arang batok kelapanya akan ditampung oleh investor Timur Tengah.

Makanya Sani mengajak masyarakat, khususnya petani kelapa untuk terus membudidayakan kelapa untuk ditanah dilahan yang sangat cocok di Riau, khususnya di wilayah-wilayah pesisir Riau.

“Kita mengharapkan terus budidayakan kepala, karena sangat banyak nilai eknomis dari tempurung kelapa,” harapnya.

Gunakan Dua Tungku Raksasa Olah Batok Kelapa
Untuk membuat arang batok kelapa berkualitas, maka cara pengolahannya juga harus dilakukan dengan baik dan benar. Karena kalau salah pengolahan, maka batok kelapa yang sudah menjadi arang, malah akan berubah menjadi debu dan hanya bisa dijadikan pupuk organik

Makanya dengan pengolahan melalu sistem open didalam tungku berukuran besar, dapat mengasilkan arang batok kelapa yang berkualitas tinggi. Karena proses pembakaran memakan waktu cukup lama, yakni selama lima hari dan baru bisa dibuka tungku tersebut.

“Kalau dengan sistem tungku ini, hasil produksinya cukup baik. Penyusutannya juga tak banyak jika dibandingkan dengan cara dibakar menggunakan drum,” ujar Misran, yang saat itu sedang membuka tutup bagian atas tungku yang baru saja siap memproses pembakaran dan pendinginan.

Proses pembuatan arang batok kelapa ini, awalnya dimasukkan dalam tungku, baru dibakar dan tutup rapat alias kedap angin. Proses pembakarannya selama 2 hari  dan kemudian pendinginanya selama 3 hari, jadi memakan waktu 5 hari setelah itu dibongkar.

“Dalam satu tungku ukuran 5 ton bahan baku, akan menghasilkan arang  batok kelapa sebanyak 2,5 ton dan ditungku sebelahnya dengan kapasitas 6 ton akan menghasilkan arang sebanya 3 ton atau penyusutan setengah dari bahan baku,” jelas Misran.(gus)

Setelah dikeluarkan dari tungku prosesnya selanjutnya, batok kelapa yang sudah menjadi arang akan diayak dengan menggunakan ayak dari anyaman besi dan menggunakan mesin untuk membuang. Ini gunanya untuk memisahkan antara debu arang dengan arang yang sudah jadi.

 “Sehingga tersisa tempurung arang yang sudah bersih dan kemudian dimasukkan kedalam karung kemasan 100 kg. Setelah terkumpul banyak dalam gudang barulah kita akan bawa ke Lampung menggunakan jalur transportasi darat menggunakan mobil truk dengan muatan 8 ton,” ucapnya.

Terkadang produksi arang batok kelapanya akan dibawa ke Jogja sesuai permintaan pasar. Biasanya, arang tempurung ini akan diolah kembali menjadi briket dan diekspor keluar negeri, baik di Asea, Eropa sampai ke timur tengah.

Sedangkan keuntungan dari mulai produksi sampai dijual kepada pembelinya hanya mencapai 15 persen bersih, setelah dipotong modal dan biaya produksi.

Di sisi lain kata Misran, usaha pembuatan arang batok kelapa ini, tidak hanya dilakukan dirinya bersama istrinya, namun mempekerjakan warga setempat, khususnya dari warga suku asli yang tidak punya pekerjaan.

Sehingga usahanya ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dan juga lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang mau jadi pengepul batok kelapa.

“Ya, dengan usaha ini kami dapat mempekerjakan warga setempat dan sekarang ada 10 orang karyawan, yang ikut membantu mengolah tempurung jadi arang,” ujarnya.(gus)

Laporan Abu Kasim, Bengkalis

Editor : Rindra Yasin
#investor asing #limbah batok kelapa #arang