Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Tumpukan Limbah ke Peluang Ekonomi, Jalan Panjang Agung Nugroho Mendorong Gerakan “Sampah Jadi Emas”

Afiat Ananda • Minggu, 15 Februari 2026 | 13:00 WIB
TINJAU PROSES: Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, saat meninjau proses pengolahan sampah, baru-baru ini.
TINJAU PROSES: Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, saat meninjau proses pengolahan sampah, baru-baru ini.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pagi itu, suara mesin pencacah kompos berdengung pelan di sudut permukiman warga. Di sebuah bak penampungan, sisa sayuran dan makanan rumah tangga perlahan berubah menjadi bahan pupuk. Tak jauh dari sana, ember-ember berisi maggot bergerak aktif mengurai limbah organik.

Pemandangan ini menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap sampah di Kota Pekanbaru, dari sekadar limbah menjadi sumber nilai ekonomi.

Program “sampah jadi emas” yang didorong Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho lahir dari kesadaran bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa diselesaikan dengan pola lama: kumpul, angkut, buang. Kota yang terus tumbuh membutuhkan pendekatan baru yang lebih berkelanjutan.

Persoalan yang dihadapi Pekanbaru sebenarnya adalah gambaran kecil dari tantangan besar secara nasional.

Walikota Pekanbaru Agung Nugroho menuturkan, data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan total timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 56,63 juta ton per tahun, dengan sekitar 61 persen belum terkelola dengan baik.

“Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) juga mencatat puluhan juta ton sampah dihasilkan setiap tahun, sementara sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan terbuka atau tidak tertangani optimal,” ucapnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga persoalan tata kelola dan perilaku masyarakat. Sebagai kota yang terus berkembang, Pekanbaru menghadapi tekanan produksi sampah yang signifikan.

“Berbagai data menunjukkan produksi sampah kota ini mencapai sekitar 800 hingga 1.000 ton per hari, dengan total sekitar 369 ribu ton per tahun pada 2024,” sambungnya.

Data lain, sambung Wako, bahkan menyebut rata-rata sampah yang masuk ke TPA bisa mencapai sekitar 750 ton per hari, menunjukkan besarnya beban pengelolaan yang harus ditanggung pemerintah kota.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan fasilitas pengolahan dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Melihat tantangan tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru mencoba menggeser paradigma sampah tidak lagi dilihat sebagai masalah, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan,” paparnya.

Program rumah kompos dan budidaya maggot menjadi langkah nyata untuk mengurangi sampah organik yang selama ini mendominasi timbulan limbah rumah tangga.

Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Pendekatan berbasis komunitas seperti ini sangat penting karena solusi sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” ujarnya.

Jika dijalankan konsisten, program ini berpotensi memberikan dampak ganda.

Dari sisi lingkungan, volume sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang signifikan. Dari sisi ekonomi, masyarakat memperoleh tambahan penghasilan dari hasil olahan sampah seperti kompos, maggot, dan produk daur ulang.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kota yang lebih bersih dan berkelanjutan di tengah pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat.

Meski demikian, perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan masyarakat agar mau memilah dan mengolah sampah dari rumah.

Pemerintah kota terus melakukan edukasi dan sosialisasi agar gerakan ini menjadi budaya baru, bukan sekadar program sesaat.

Agung menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.

“Kalau semua bergerak bersama, kita tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga menciptakan peluang ekonomi,” ujarnya.

Di tengah tantangan urbanisasi dan peningkatan volume sampah, Pekanbaru mencoba membuktikan bahwa solusi lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dari ember kompos sederhana hingga budidaya maggot di tingkat warga, perubahan perlahan mulai terlihat.

Gerakan “sampah jadi emas” bukan sekadar slogan, tetapi upaya membangun masa depan kota yang lebih bersih, sehat, dan produktif.

“Dari tumpukan limbah, lahir harapan baru — bahwa sampah bukan akhir dari siklus konsumsi, melainkan awal dari nilai baru bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(hbk)

Editor : Bayu Saputra
#lingkungan #wako agung #sampah pekanbaru