Banyak penulis kaligrafi dengan jam terbang tinggi, bahkan menjuarai Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) hingga level tertinggi. Akan tetapi, hanya sedikit di antara mereka yang menjadi seniman kaligrafi sesungguhnya dengan karya di masjid-masjid. Karya-karya itu tentu saja memperindah estetika masjid. Nyaris tak ada masjid besar yang tidak berhiaskan tulisan kaligrafi.
Laporan MUHAMMAD AMIN, Pekanbaru
DI antara sedikit kaligrafer di Riau yang banyak menggoreskan kuasnya di masjid-masjid adalah H Muktamar. Kiprahnya di dunia kaligrafi sudah dilakukan sejak era 1980-an akhir dan makin lama makin moncer. Di antara karyanya yang monumental adalah sebagai penulis kaligrafi Masjid Raya An-Nur Pekanbaru tahun 2003. Hingga saat ini, dia sudah mengkreasi karya di lebih dari 500 masjid di Riau dan di luar Riau, bahkan hingga ke luar negeri. Beberapa karyanya ada di Thailand, Serawak, Kelantan (Malaysia), Tanjungpinang, Jakarta, dan tentu saja di Riau.
Pada tahun 2003 itu, bahkan dia memborong beberapa masjid besar sekaligus, selain Masjid An-Nur. Di antaranya adalah Masjid Raya Bengkalis, dan Masjid Raya Selatpanjang. Nilai jasa pembuatan kaligrafi itu bahkan ada yang mencapai Rp1 miliar per masjid. Secara simultan, dia mengerjakan empat masjid sekaligus ketika itu. Selain tiga masjid besar itu, ada lagi satu masjid lagi di Pekanbaru.Baca Juga: Gudang Amunisi Yonarmed Meledak, Komisi I DPR Ingatkan TNI Soal Standar Perawatan Alutsista
“Masjid An-Nur itu saya kerjakan sekitar satu setengah tahun karena memang banyak sekali yang dikerjakan,” ujar Muktamar.
Muktamar sudah menekuni dunia kaligrafi sejak tahun 1988. Dia belajar secara otodidak, tidak memiliki guru yang khusus. Akan tetapi dia berkembang menjadi pendidik kaligrafi di zamannya hingga bisa menelurkan beberapa murid yang berprestasi Nasional. Di antaranya adalah Umi Kalsum, yang pernah menjuarai MTQ Nasional 1994 di Pekanbaru. Umi Kalsum berada di rangking pertama kategori perempuan, kategori pertama MTQ Nasional bidang kaligrafi di masa itu. Di waktu yang sama, Muktamar menempati peringkat ke-4 MTQ Nasional putra. Persaingan kategori putra memang lebih ketat. Dan ternyata itulah prestasi tertingginya di tingkat nasional. Selain itu, dia juga pernah mengikuti event internasional antara lain mendapatkan peringkat 4 saat MTQ Asean di Brunei Darussalam.
Beberapa anak didiknya hingga sekarang kerap kali menjuarai MTQ tingkat nasional dan internasional. Umi Kalsum sendiri adalah anak didiknya ketika dia mengajar kaligrafi di MTsN Pekanbaru. Sejak 1988 hingga 1992, Muktamar memang mengajar di banyak tempat. Misalnya di MTsN Pekanbaru, MTs Hasanah, MTs YKWI, Pesantren Babussalam, dan IAIN Susqa Riau. Umi Kalsum adalah salah satu anak didiknya ketika di MTsN Pekanbaru.
Kiprahnya sebagai pengajar kaligrafi mulai terhenti sejak 1993 hingga sekarang. Penyebabnya dia lebih banyak mengerjakan kaligrafi masjid di luar daerah sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk mengajar. Dia misalnya mulai menulis kaligrafi masjid di Thailand, Serawak, Kelantan, Tanjungpinang, Jakarta, dan beberapa tempat lainnya.Baca Juga: Bele Kampung di Desa Wisata Buluhcina Akan Tampilkan Berbagai Penampilan
“Jadi tidak cukup waktu lagi untuk mengajar. Makanya saya putuskan untuk berhenti mengajar dan fokus pada kaligrafi masjid,” ujar Muktamar.
Saat ini dia memang masih mengajar kaligrafi, tapi hanya saat pelatihan jelang MTQ saja. Dalam beberapa tahun belakangan, Muktamar memang dipercaya menjadi juri MTQ bidang kaligrafi, baik tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Untuk ke MTQ Nasional, dia kerap kali menjadi official.
Belajar kepada Tukang
Seperti halnya seni kaligrafi, menuliskan di dinding masjid juga dilakukan Muktamar dengan belajar secara otodidak. Bisa dia katakan, dia adalah pionir dalam melukis kaligrafi masjid di zamannya. Ketika itu memang sudah mulai banyak para seniman kaligrafi karena sudah mulai bermunculan juara-juara MTQ bidang kaligrafi. Akan tetapi menulis kaligrafi di masjid tidak sama dengan menulis kaligrafi saat MTQ, termasuk yang menggunakan kanvas.
Ada seni yang berbeda yang memerlukan ketelatenan, ketekunan, dan kemauan untuk berinovasi. Hal itulah yang tidak dimiliki kebanyakan para kaligrafer dan membuat Muktamar unggul dibanding yang lainnya.
“Saya belajar dengan para tukang, termasuk ahli GRC, untuk bisa penulis kaligrafi di masjid,” ujar Muktamar.
Tentu saja diperlukan ketekunan, dan belajar sungguh-sungguh agar kemampuan memadukan material bangunan, membuat huruf timbul menggunakan semen hingga spons itu bisa dipadupadankan dengan kemampuan menulis kaligrafi. Sebab menulis kaligrafi di masjid memiliki tingkat kerumitan dan kesulitan tersendiri. Apalagi masjid yang dilukis itu bukan hanya di dindingnya saja, akan tetapi kadang di plafon hingga kubah masjid bagian dalam. Tentu sulit sekali. Kaligrafer harus memiliki teknik khusus agar itu bisa dilakukan.
Makanya Muktamar dengan serius belajar kepada beberapa tukang yang dihubunginya dan mereka bersedia berbagi ilmu dan wawasan sehingga dia memiliki teknik tersendiri dan akhirnya bisa memaksimalkan kemampuan menulis kaligrafinya di masjid.
Tingkat kesulitan lainnya ada pada ketinggian masjid yang harus dimaksimalkan dengan peralatan khusus. Muktamar misalnya pernah menulis kaligrafi di kubah setinggi 15 meter.
“Waktu itu di masjid Kemendagri di Jakarta. Tinggi kubahnya sekitar 15 meter dan saya diminta untuk menulis kaligrafi di kubah yang melengkung itu,” ujar Muktamar.
Tentu ada teknik khusus yang digunakan pada bidang melengkung di atas kepala itu. Apalagi semuanya dilakukan dengan manual. Misalnya kuas harus dilapisi dengan kain terlebih dahulu. Selanjutnya catnya tidak boleh banyak, agar tidak menetes atau meleleh ke tangan, serta ada beberapa teknik lainnya. Begitu juga menulis kaligrafi dengan huruf timbul menggunakan semen atau spons. Itu juga ada teknis khusus yang tidak dipelajari pada kelas ilmu kaligrafi biasa. Sebab jika salah menggunakan formulanya, maka semen yang ditempelkan sebagai huruf kaligrafi pada dinding masjid atau bahkan di kubah itu akan mudah tanggal dalam beberapa hari. Paling tidak huruf-huruf yang timbul itu akan mudah retak.
Selain huruf timbul menggunakan semen dan spons, kadang ada juga permintaan lainnya yakni kaligrafi dari Kuningan. Misalnya permintaan dari pengelola Masjid An-Nur Pekanbaru yang ada bahan kaligrafi dari kuningan.
“Waktu itu, karena material kita tidak ada, saya memesan ke Yogyakarta. Jadi saya membuat rancangannya, lalu rancangan itu dibuat plat kuningannya di Yogyakarta,” ujar Muktamar.
Untuk mengerjakan satu masjid, biasanya dia memerlukan waktu antara sebulan hingga satu setengah tahun. Tergantung banyaknya permintaan dari masjid yang bersangkutan, kerumitannya, hingga bahan-bahan yang diperlukan. Jika hanya menggunakan cat, maka bisa relatif cepat. Akan tetapi jika menggunakan huruf timbul dari semen atau spons, maka relatif lebih lama dibanding hanya menggunakan cat.
Untuk mengerjakan berbagai kaligrafi di masjid ini, biasanya Muktamar membentuk tim. Sudah ada beberapa anggota yang siap membantunya dalam menulis kaligrafi di masjid ini.
“Biasanya saya konsep, lalu saya arahkan empat orang anggota dan bisa saya tinggalkan karena mereka yang mengerjakan rinciannya. Nanti setelah hampir jadi, saya lihat dan saya awasi untuk kemudian difinalisasi lagi,” ujar Muktamar.
Hal ini dilakukannya ketika mengerjakan banyak masjid di satu waktu. Misalnya ketika dia mengerjakan Masjid An-Nur Pekanbaru tahun 2003, di saat yang sama, dia juga harus mengerjakan Masjid Raya Bengkalis dan Masjid Raya Selatpanjang. Maka dia membagi waktu dan anggota di tiga masjid itu plus satu masjid lagi di Pekanbaru.
“Karena permintaannya bersamaan, maka harus saya kerjakan bersamaan dan saya memiliki anggota yang sudah bisa mengerjakan apa yang saya minta,” ujar Muktamar.
Tak tak hanya anggota, bahkan Muktamar juga mengerahkan anak-anaknya untuk ikut serta dalam memotong atau mengerjakan bahan-bahan yang akan dipakai untuk kaligrafi masjid. Sejak usia anak-anak hingga remaja, anak-anak Muktamar sudah diaktifkan dalam kegiatan kaligrafi ini. Ketiga anaknya sudah bisa mengikuti cara kerjanya bahkan juga ikut dalam beberapa event MTQ di tingkat lokal hingga nasional.
“Tentu saya kasih gaji juga mereka. Bahkan gaji mereka bisa lebih tinggi daripada anggota yang lain,” ujar Muktamar seraya tersenyum.
Tak Cukup Hanya MTQ
Sebagai guru, Muktamar sudah banyak mendidik para murid di bidang kaligrafi hingga menjadi juara Nasional bahkan internasional. Akan tetapi, banyak juara-juara MTQ bidang kaligrafi ini yang tidak meneruskan karyanya sebagai penulis kaligrafi masjid.
“Tentu sesuai dengan bakat dan ketekunan masing-masing dalam berkarya. Termasuk juga harus mampu mengkreasi untuk tantangan-tantangan baru,” ujarnya.
Provinsi Riau sendiri terus melahirkan para kaligrafer baru yang bertaraf Nasional dan internasional. Terbaru misalnya pada MTQ Nasional tahun 2018, ada tiga peserta MTQ yang meraih juara 1 dan juara 2 Nasional. Misalnya Ivo, juara 1 putri bidang naskah dan Ridwan juara 2 putra bidang dekorasi dan Solehah, juara 2 putri bidang dekorasi. Mereka juga mengikuti MTQ internasional misalnya di Sabah, Malaysia dan Turki. Hasilnya juga cukup memuaskan. Para kontingen Riau ini juga sering kali diikutsertakan dalam pelatihan kaligrafi di Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Sukabumi, Jawa Barat, yang diasuh oleh Sirajuddin AR. Sirajuddin AR adalah seorang maestro kaligrafi Nasional yang banyak mencetak para kaligrafer unggul dan anak didiknya selalu memenangkan MTQ Nasional. Anak-anak Riau banyak yang “nyantri” kaligrafi di Lemka Sukabumi selama beberapa bulan. Bahkan, terdapat bakat-bakat khusus dari Riau yang sudah dipercaya mengajar.
Tapi untuk menulis kaligrafi di masjid, sama sekali berbeda dengan belajar kaligrafi untuk MTQ. Bahkan sang maestro Sirajuddin sendiri hampir tidak memiliki karya di masjid.
Sebab memiliki karya di masjid tidak hanya cukup kemampuan dalam menuliskan atau menghasilkan karya-karya di atas kertas atau kanvas, tapi lebih dari itu memerlukan kreativitas dan kemampuan untuk berkreasi, berinovasi, dan mengorganisasi sebuah proyek.
Dalam MTQ sendiri ada empat kategori musabaqah, yakni naskah, mushaf, dekorasi, dan kontemporer. Pada tahun 2024 ini ada kategori baru yakni kaligrafi digital yang menggunakan komputer.
Untuk di daerah misalnya sudah mulai akan diperkenalkan kategori digital ini pada MTQ tingkat Provinsi Riau 4 April 2024 mendatang di Dumai. Di tingkat Nasional baru berupa eksebisi dan baru akan diresmikan perlombaannya pada MTQ 2026 mendatang.
“MTQ kategori digital ini tidak hanya klasik dan kontemporer, bahkan juga ada yang animasi bergerak ke depannya,” ujar Muktamar.
Saat ini, selain Muktamar, memang sudah banyak para penulis kaligrafi yang juga mampu menyesuaikan diri, sehingga bisa menghasilkan karya di masjid. Hanya saja, anehnya menurut Muktamar, kebanyakan mereka yang bisa menulis kaligrafi di masjid bukanlah yang tampil sebagai pemenang MTQ, baik daerah maupun Nasional. Kebanyakan yang menulis kaligrafi untuk masjid adalah mereka yang prestasi MTQ-nya tidak terlalu mentereng. Bahkan para pemenang MTQ justru akan mengalami kesulitan ketika berkarya di masjid karena ada beberapa teknik yang harus disesuaikan dengan ilmu pertukangan. Dan itu menjadi kendala tersendiri bagi mereka.
“Kita lihat mereka yang memiliki lembaga pelatihan, juara-juara MTQ Nasional, ketika mencoba menulis kaligrafi untuk masjid justru hasilnya tidak maksimal,” ujar Muktamar.
Lelang Karya Bersama UAS
Memiliki karya di banyak masjid membuat nama Muktamar banyak direkomendasikan sebagai penulis kaligrafi untuk masjid lainnya. Dari satu masjid, ia bergerak ke masjid lainnya untuk menulis kaligrafi. Tak hanya masjid, dia juga menulis kaligrafi di kanvas yang bisa dijual atau dilelang untuk acara amal.
Misalnya dia pernah diundang bersama dai Ustadz Abdul Somad (UAS) di IBS (Al-Ihsan Boarding School). Ketika itu, ada 6 karya kaligrafi hiasan mushaf dibingkai karyanya yang kemudian dilelang. Hasil lelang itu disumbangkan seluruhnya untuk pendidikan di pesantren IBS. Seluruh karya itu terjual seharga Rp200 juta. Ada yang bernilai Rp50 juta, Rp30 juta rupiah, Rp15 juta rupiah, dan lainnya.
Selain di IBS, pernah juga 12 karyanya ditampilkan dalam lelang bersama UAS di Jawa Barat. Hanya saja dia tak tahu persis berapa semua nilai rupiah yang dihasilkan dari karya-karya itu. Pernah juga dia melelang karyanya senilai Rp25 juta di sebuah mushola di Jakarta. Tujuannya sama untuk donasi bagi mushola itu.***
Editor : RP Edwar Yaman