PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di Kota Pekanbaru saat ini mulai ramai generasi muda muncul dan menekuni seni grafiti atau bagi pelakunya dikenal dengan sebutan bomber atau graffiti writers. Buktinya, ada banyak bermunculan karya seni ini di sejumlah sudut di Kota Pekanbaru. Di mana ada tembok atau dinding kosong, maka di situ ada seni grafiti.
‘’Mungkin kini mulai banyaknya generasi yang muncul, bisa dibilang mungkin juga ini era grafiti di Pekanbaru. Artinya mulai bangkit kembali,’’ kata salah satu graffiti writers Pekanbaru Rads saat berbincang santai dengan Riau Pos.
Ada yang mengatakan, sejarah grafiti sebagai sarana ekspresi visual juga terdapat di peradaban Romawi yang bisa ditemukan di kawasan Pompeii. Ditambahkan Rads, ada juga menggambarkan kisah
perburuan, protes sosial, puisi. Dan dia menegaskan grafiti adalah gabungan antara seni literasi dan visual. Untuk dapat melakukannya dibutuhkan keahlian khusus agar bisa membuat suatu karya seni di media yang tidak biasa dan berukuran cukup besar.
Di Kota Pekanbaru, graffiti ini bisa dikatakan sudah ada sejak lama. Namun lebih kepada goresan cat semprot yang tanpa ada menonjolkan karya seni yang baik. Terdapat di dinding-dinding flyover, tembok, area publik yang dibuat warga dan juga tembok pemerintah, dan tempat lainnya. Sehingga banyak aksinya ditentang oleh sejumlah kalangan, bahkan kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP bila dalam tugas patroli maupun dengan warga setempat. Karena memang dari pelakunya dinilai hanya merusak dengan coretan yang tidak benar.
Sebagai bomber, sebutan lain para graffiti writers, Rads mencoba untuk mengubah kesan yang kurang baik dari apa yang disangkakan banyak kalangan sejak dulu. Kini karya grafiti lebih menarik lewat goresan cat semprot.
‘’Jika sebagian kalangan ada yang mengatakan grafiti itu vandalisme atau perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lain, menurut saya, semua itu tergantung dari sudut pandang masing masing. Bagi saya, hobi ini juga bisa menghasilkan cuan bila ada yang order untuk spot-spot perbengkelan, coffee shop, bahkan sekolahan,’’ tegasnya.
Dia juga mengatakan, grafiti itu adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan warna, garis,bentuk dan volume untuk menuliskan kata atau kalimat di berbagai media jalanan.
‘’Banyak aspek yang membuat grafiti itu menjadi indah. Salah satu contoh itu perpaduan warna yang pas,’’ tambahnya lagi.
Dikatakannya lagi, grafiti telah menjadi bagian sejarah manusia selama ribuan tahun. Namun dalam konteks modern, grafiti sebagai bentuk seni jalanan sudah ada sejak 1960-an di kota-kota besar seperti New York. ‘’Sedangkan di Indonesia sendiri, grafiti pertama kali muncul pada tahun 1990-an,’’ ujarnya.
Sebagai pelaku bomber, media untuk membuat grafiti menurutnya, dinding, panel kayu atau besi, kanvas, kereta api, dan media lainnya yang masih terjangkau dengan spray paint atau cat semprot.
Memang, disampaikan Rads, graffiti ini lebih condong digunakan sebagai media kritik. Makanya ada banyak tembok jalanan dipenuhi dengan goresan-goresan cat semprot. Namun ada juga goresan cat semprot itu dijadikan media propaganda.
Langkah untuk Bomber Pemula
Berdasarkan pengalamannya, Rads mengatakan untuk menjadi bomber itu sangat mudah dan tidak ribet, hanya diperlukan konsisten. Hal pertama yang harus dilakukan itu ialah sketch. Mulailah dulu membuat sketsa di kertas, lalu aplikasikan sketsa yang sudah dibuat di kertas ke tembok.
‘’Awal-awal mungkin masih bingung, tapi seiring berjalannya waktu pasti bisa, intinya harus konsisten dan terus belajar,” sarannya.
Saat ditanya, ada yang mengatakan untuk menjadi bomber itu harus merogoh kocek dalam-dalam, karena materialnya adalah cat semprot. Jika dirupiahkan bisa mencapai Rp40-50 ribu satu kaleng. Dan untuk membuat grafiti itu tidak cukup 5-10 kaleng, melainkan puluhan kaleng.
Apalagi bila bidang tembok dinding yang menjadi target itu ukurannya besar, tentu bisa mencapai ratusan kaleng cat semprot.
‘’Haha, menurut saya kalau untuk sebuah hobi, itu tidak mahal. Untuk menciptakan sebuah grafiti yang berkualitas tentu ada bahan dan alat yang berkualitas,’’ sebut Rads.
Namun begitu, dari keahlian graffiti ini, Rads sering juga mendapat tawaran untuk membuat grafiti sesuai permintaan. ‘’Sering juga kami mendapat orderan untuk grafiti ini. Dan hasilnya untuk modal grafiti yang lain,’’ tuturnya.
Saat ini, Rads mengharapkan dukungan dari pemerintah untuk dapat menyediakan tembok khusus bagi para pelaku grafiti. Karena memang untuk memulai itu hal pertama nya ialah berburu tembok. ‘’Lebih prepare itu ketika dapat heaven spot (spot surga). Salah satu contoh billboard,’’ tuturnya.
‘’Dan harapan kecil kami, untuk pemerintah menyediakan tembok legal untuk para pelaku-pelaku grafiti, dan nantinya tidak hanya graffiti, mural juga dan lainnya bisa berkarya di tembok yang sudah di sediakan, “ ujarnya.
Menurut Rads lagi, dari sejarahnya, grafiti sebagai bentuk ekspresi artistik, sering dikaitkan dengan subkultur sebagai pemberontakan melawan otoritas.
Grafiti pada awalnya digunakan untuk menampilkan ekspresi artistik di depan umum. Karena graffiti dalam banyak kasus ilegal, bentuk seni ini berkembang pesat di bawah tanah, hanya membutuhkan sedikit uang dan memberikan kesempatan untuk menyuarakan apa yang sering kali dikecualikan dari sejarah dan media yang dominan. Saat ini, graffiti umumnya diakui sebagai bentuk seni publik, dianut oleh museum, kritikus seni, dan lembaga seni.***
Editor : RP Bayu Saputra