JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Viral di media sosial penggalan video kekerasan terhadap seorang pria dari Papua dianiaya secara tak manusiawi yang diduga dilakukan oknum anggota TNI di Puncak, Papua. Amnesty International Indonesia menyebut korban merupakan Orang Asli Papua (OAP).
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, penyiksaan terhadap OAP itu mesti disikapi secara serius oleh pemerintah. Pasalnya, kelakuan para pelaku yang diduga oknum TNI itu tak berprikemanusiaan.
"Kejadian ini adalah penyiksaan kejam yang sungguh merusak naluri keadilan. Menginjak-injak perikemanusiaan yang adil dan beradab. Kepada keluarga korban, kami menyatakan duka mendalam," ujarnya kepada wartawan, Ahad (24/3).
Baca Juga: Turuti Permintaan Anak-anaknya, Habib Rizieq Nikah Lagi, Jodohnya Ponakan Mendiang Istri
"Tidak seorangpun di dunia ini, termasuk di Papua, boleh diperlakukan tidak manusiawi dan merendahkan martabat, apalagi sampai menimbulkan hilangnya nyawa," sambung Usman.
Dengan kejadian penyiksaan brutal ini, ia menilai bahwa tindakan para pejabat pemerintahan di Indonesia untuk melakukan pendekatan terhadap warga Papua yang bergejolak hanya omong kosong
“Pernyataan-pernyataan petinggi TNI dan pejabat pemerintah lainnya soal pendekatan kemanusiaan maupun kesejahteraan menjadi tidak ada artinya sama sekali. Diabaikan oleh aparat di lapangan," tegasnya.
Baca Juga: Jerman yang Tak Diunggulkan Tumbangkan Prancis 2-0 lewat Gol Florian Wirtz dan dan Kai Havertz
"Tindakan itu bisa terulang karena selama ini tidak ada penghukuman atas anggota yang terbukti melakukan kejahatan penculikan, penyiksaan, hingga penghilangan nyawa," tandas Usman.
Untuk diketahui, dalam video yang beredar, Amnesty International Indonesia memastikan bahwa ada seorang OAP sedang mengalami penyiksaan. Dalam keadaan kedua tangan diikat dari belakang, pria itu dimasukkan ke dalam drum warna biru berisi air yang memerah karena darah.
Kepala korban berulang kali dipukuli dan ditendangi secara kejam oleh para pelaku yang bertubuh tegap, berkaos dan berambut cepak, dan salah satunya memakai kaos hijau bertuliskan angka 300.
Baca Juga: Serangan Teror Terburuk di Rusia dalam Beberapa Tahun Terakhir, 60 Orang Tewas, 145 Luka-Luka
Para penyiksa yang memukuli dan menendangi korban secara bergantian juga terdengar mengatakan ujaran kasar seperti, “Angkat muka, angkat muka, angkat muka, anjing, bangsat!” Kemudian seorang lagi berkata kepada rekannya yang sedang memukul korban, "Gantian, gantian, sabar dulu.” Ada juga yang berkata, "Jangan main tangan."
Video penyiksaan berdurasi 16 detik tersebut disebar tanpa mengungkapkan identitas korban dan tidak dicantumkan waktu dan lokasi kejadian. Amnesty Internasional Indonesia beranj memastikan bahwa korban adalah OAP.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Edwir Sulaiman