Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menuturkan, setelah panen raya, harga beras tetap harus dijaga. Jangan sampai harga jatuh sehingga merugikan petani. Karena itu, direncanakan ada HET beras baru setelah masa berlaku HET beras relaksasi berakhir pada 31 Mei. "Sekarang harga sudah kembali baik. Kami berupaya agar dari hulu hingga hilir seimbang," katanya kemarin (21/5).
Arief belum menyebutkan angka pasti HET beras yang baru. Namun, angka HET beras relaksasi Rp14.900 yang berlaku saat ini akan menjadi angka minimal. "Harga minimal Rp14.900 itu," ujarnya.
Bapanas membutuhkan waktu untuk menetapkan HET beras tersebut bersama kementerian dan lembaga terkait lainnya. Yang pasti, penentuan HET beras akan mempertimbangkan kondisi dan situasi petani sekaligus konsumen. Pertimbangan utama adalah petani dengan melihat cost production dan variable cost. "Baru kita lihat kondisi konsumen atau hilirnya," terang dia.
Arief mengatakan, saat ini sudah ada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang mendapat bantuan 10 kg beras setiap bulan. Bila dikalikan dengan setidaknya tiga anggota keluarga, berarti ada sekitar 66 juta warga yang terbantu. "Masyarakat bawah sudah terbantu," ujarnya. Lalu, ada program beras murah. Program itu bisa membantu masyarakat kalangan menengah.
Meski HET beras naik, lanjut dia, belum tentu bisa memuaskan semua pihak. Petani sebenarnya lebih terpengaruh dengan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah. Kenaikan HPP gabah dilakukan bertahap. "Dulu HPP gabah Rp4.200, lalu naik Rp5 ribu. Kini HPP gabah Rp6 ribu. Tapi, petani bisa jadi inginnya Rp7.200. Tapi, kita juga harus pertimbangkan konsumen atau masyarakat," jelasnya.
Di sisi lain, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi memproyeksikan harga beras dalam beberapa waktu ke depan sulit untuk turun. Menurut Bayu, jika ingin harga beras turun, harus ada gelontoran produksi beras dari dalam negeri yang bisa menyeimbangkan permintaan dan pasokan. "Biasanya sulit dikembalikan kalau sudah sempat naik. Kecuali ada keadaan yang sangat luar biasa di mana panennya luar biasa banyak, besar, maka supply demand-nya bisa terjaga atau seimbang," ujar Bayu.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), meski ada panen raya, produksi beras diproyeksikan turun pada Juni tahun ini. "Kalau dilihat data BPS, Juni saja sudah defisit lagi. Jadi, saya duga sulit untuk harga kembali (turun ke harga normal, Red)," tambah Bayu.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi