JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Lama tidak terdengar, Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya melakukan revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA). Khususnya KUA menjadi tempat pencatatan pernikahan semua agama. Namun saat ini pembahasannya dilakukan secara lebih hati-hati dan cermat.
Perkembangan revitalisasi KUA itu disampaikan langsung Wamenag Saiful Rahmat Dasuki dalam pidatonya di Sannipata Nusantara Waisak 2024 di Serpong pada Sabtu (6/7) sore. Dia mengatakan revitalisasi KUA merupakan salah satu program prioritas Menag Yaqut Cholil Qoumas.
Dia menegaskan revitalisasi KUA bertujuan untuk menjadikannya sebagai tempat layanan agama. "Khususnya pencatatan perkawinan," katanya.
Seperti diketahui selama ini KUA hanya melayani keperluan umat Islam. Seperti urusan pendidikan, perkawinan, haji, zakat, dan lainnya. KUA melayani umat Islam, karena secara struktur berada di bawah Ditjen Bimas Islam Kemenag.
Lebih lanjut Saiful mengatakan kajian untuk menjadikan KUA sebagai tempat pencatatan nikah semua agama masih dilakukan. "Dilaksanakan hati-hati dan cermat," katanya.
Ini agar tetap bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan tugas dan fungsi. Saiful juga menegaskan ketika KUA menjadi tempat pencatatan pernikahan semua agama, tidak mengurangi peran lembaga agama-agama yang ada di Indonesia.
Pada kesempatan itu Saiful juga menyampaikan bahwa di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, upaya memajukan Indonesia tidak hanya di bidang fisik seperti infrastruktur jalan tol dan lainnya. Tetapi juga pada urusan mental serta spiritual.
Diantaranya adalah salah satunya menjadikan kawasan Candi Borobudur sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas. Dia mengatakan Kemenag sudah menyiapkan grand design pengembangan Borobudur. Termasuk dengan fungsinya sebagai lokasi kunjungan ziarah. "Tujuannya membangkitkan kembali aura Candi Borobudur jadi pusat spiritual," jelasnya.
Selain itu menjadi pusat pendidikan, penelitian, pariwisata, dan budaya. Salah satu agenda besarnya adalah pemasangan Chatra di stupa utama Candi Borobudur. Pemasangan ini diharapkan bisa menambah kesakralan Candi Borobudur.
Dalam kesempatan yang sama Dirjen Bimas Buddha Supriyadi mengatakan, Sannipata dapat dimaknai sebagai pertemuan akbar atas kesadaran dari berbagai kondisi. Umat Buddha bertemu untuk mendengarkan pesan-pesan kebenaran atau pembangunan. Sannitapa dilaksanakan di dalam bulan Waisak. "Kami mengambil tema kesadaran keberagaman jalan hidup luhur, harmonis, dan bahagia," tegasnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi