JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nama-nama menteri yang akan masuk dalam kabinet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mulai diperlihatkan ke publik. Kemarin (14/10) hingga malam, Presiden terpilih Prabowo Subianto memanggil satu per satu calon pembantunya ke kediamannya di Rumah Kertanegara, Jakarta.
Dalam memperkenalkan calon pembantunya, Prabowo menggunakan cara yang mirip dengan Jokowi 2019 lalu. Yakni dengan memintanya berjalan layaknya catwalk di hadapan media. Mereka berjalan dari bekas kantor Tim Kampanye Nasional (TKN) di Jalan Sriwijaya I ke rumah Prabowo yang berjarak sekitar 100 meter.
Masing-masing calon menteri, masuk ke dalam rumah Prabowo dan keluar sekitar 30 menit kemudian. Mayoritas dari mereka kompak untuk tidak membeberkan posisinya meski sebagian mau membocorkan bidangnya.
Dari kandidat menteri yang dipanggil, ada banyak nama lama. Termasuk menteri di era Jokowi kembali. Di antaranya ada juga Pratikno yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Jokowi.
Nama lain orang dekat Jokowi adalah Tito Karnavian yang akan kembali menjadi Menteri Dalam Negeri. Sinyal itu menguat setelah Tito diminta melanjutkan agenda pengendalian inflasi daerah yang selama ini memang menjadi prioritas Tito.
“Dan saya sampaikan akan tetap saya laksanakan tiap minggu sampai ada perintah untuk diberhentikan,” kata Tito. Mantan Kapolri itu menegaskan, di manapun dia mendapat kepercayaan, Tito siap melaksanakan. “Untuk dukung bantu rakyat indonesia dimanapun kita siap,” kata dia.
Kemudian ada Bahlil Lahadalia yang bakal melanjutkan posisinya di Menteri ESDM. Bahlil mengaku ditugasi mengelola sumber daya alam. Lalu Saifullah Yusuf dari PBNU, berpeluang melanjutkan posisinya di Menteri Sosial. Meski tidak menegaskan, Gus Ipul mengaku ditugasi untuk memastikan program sosial bisa tepat sasaran.
“Tidak salah sasaran, maka konsolidasi data itu amat sangat diperlukan,” ujarnya. Untuk detailnya, pihaknya masih akan menunggu arahan setelah dilantik nanti.
Nama-nama lama yang kembali menjabat antara lain Agus Harimurti Yudhoyono, Zulkifli Hasan, Wahyu Sakti Trenggono, Raja Juli, Agus Gumiwang, Erick Thohir, Dito Aritedjo, Budi Gunadi Sadikin. Kemudian Airlangga Hartarto, Sri Mulyani.
Sementara itu, posisi menteri pendidikan berpotensi besar kembali ke Muhammadiyah. Sekretaris Umum Abdul Muti dalam pembicaraannya dengan Prabowo mengaku diminta untuk memimpin kementerian terkait pendidikan dasar dan menengah.
“Kami juga menyampaikan, in sya Allah bisa melaksanakan,” ujarnya. Pihaknya siap untuk menjadikan pendidikan sebagai gerakan untuk mencerdaskan Indonesia raya yang berkemajuan.
Dengan dibatasinya kewenangan pada pendidikan dasar dan menengah, Kemendikbud berpeluang dipecah tiga. Dengan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pendidikan Tinggi dipisahkan. Namun Muti mengaku belum diberi penjelasan detail.
“Dasar dan menegah itu nomenklaturnya mencakup prasekolah, SD, kemudian SMP kemudian informal dan nonformal,” tegasnya.
Sementara itu, Bahlil mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya urusan posisi menteri kepada Prabowo selaku pemilik hak prerogatif. Menurutnya, Golkar akan menghormati dan menjalankan semua keputusan Prabowo. Soal kepastian jumlah dan detail posisi menteri, Bahlil enggan membocorkan. ”Kami serahkan kepada Pak Presiden terpilih,” ujar Ketum Golkar tersebut.
Selain Bahlil, politisi Golkar lain yang datang ke rumah Prabowo antara lain Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian), Agus Gumiwang Kartasasmita (Menperin), Nusron Wahid (anggota DPR RI), Maman Abdurrahman (anggota DPR RI), Meutya Hafid dan Ario Bimo Nandito Ariotedjo (Menpora). Di antara nama-nama tersebut, Nusron dan Maman akan menjadi wajah baru di kabinet.
Usai menghadap Prabowo, Maman memberikan sinyal bahwa dirinya akan ditugaskan sebagai Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dia menyebut Prabowo meminta dirinya agar sektor UMKM dilibatkan dalam industri besar. ”Pak Prabowo ingin sektor UMKM difokuskan dan diperbesar skalanya,” paparnya.
Maman juga menegaskan bahwa nomenklatur UMKM akan dipisah dengan nomenklatur koperasi. Saat ini, Kementerian Koperasi dan UKM berada dalam satu nomenklatur. Maman menyebut, pemisahan itu merupakan bentuk kepedulan Prabowo dalam mendongkrak kenaikan kelas UMKM. ”Dan kesejahteraan ekonomi masyarakat bawah,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga menyerahkan sepenuhnya urusan kabinet kepada Prabowo. Muhaimin enggan menyebut posisi menteri apa saja yang akan diberikan kepada kader-kader PKB. Muhaimin hanya menegaskan PKB siap menugaskan kader terbaik untuk membantu Prabowo. ”Kader PKB siap dimanapun diperintah untuk menyukseskan pemerintahan,” ujarnya.
Selain wajah lama, ada pula wajah baru yang datang ke rumah Prabowo. Salah satunya Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dan Veronica Tan (mantan istri Ahok). Nasaruddin mengaku kaget ketika mendapat panggilan dari Prabowo yang disampaikan melalui ajudan pribadinya, Mayor Teddy Indra Wijaya. ”Saya nggak pernah membayangkan,” tuturnya.
Sementara Veronica meminta publik untuk menunggu pengumuman nama kabinet. Saat ditanya soal posisi menteri, Veronica mengaku dirinya diminta Prabowo untuk membantu melayani masyarakat. Khususnya anak dan ibu. ”Semoga saya bisa melayani masyarakat untuk ke depannya. Saya masih menunggu Pak Presiden yang mengumumkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut nama-nama yang dipanggil hingga tadi malam belum semuanya pasti menjadi menteri. Namun, dia mengisyaratkan bahwa kepastian menteri telah dituntaskan tadi malam. ”Kalau yang keluar (dari rumah Prabowo, red) mukanya cerah, itu sudah pasti,” ujar Dasco lantas tertawa.
Setelah dipanggil tadi malam, Dasco menyebut nama-nama yang sudah pasti menjadi menteri akan mengikuti pembekalan di Hambalang hari ini. Soal kader PDI Perjuangan (PDIP) yang tidak nampak di Kertanegara tadi malam, Dasco tidak banyak komentar. ”Nanti lihat saja,” ujarnya. Yang jelas, kata Dasco, semua menteri diminta untuk menandatangani pakta integritas.
Soal tidak adanya nama Gibran, Dasco menyebut putra Jokowi itu akan hadir dalam pembekalan di Hambalang hari ini. Sementara itu, hingga berita ditulis pukul 21.00 WIB, pemanggilan masih berlangsung. Total, sudah ada 49 nama calon menteri dan kepala badan yang dipanggil. Sejauh ini, belum ada kader PKS, Nasdem dan PDIP yang datang.
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani yang ditemui di Kompleks Istana Negara kemarin mengamini tidak ada menteri dari Nasdem. “Nasdem tidak mengajukan daftar untuk duduk di kementerian. Tapi Nasdem mengatakan bagian dari koalisi,” katanya.
Dia cukup percaya diri dapat dukungan penuh dari Nasdem. Menurut Muzani, tidak masuknya Nasdem tidak berarti tidak menjadi bagian pemerintah.”Dia (Nasdem) siap mengamankan untuk pemerintahan Prabowo-Gibran,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Muzani juga menampik jika ada menteri titipan istana dalam kabinet Prabowo. “Itu hak prerogatif presiden,” ujar Ketua MPR RI itu. Dalam hal ini adalah hak Prabowo.
Pemanggilan para tokoh ke Kertanegara ini diyakini bakal berlanjut ke pelantikan menteri pada 21 Oktober mendatang. Pengamat Politik Ujang Komarudin bahkan menggaransi 99 persen hal itu akan terealisasi. “Kan sudah ada yang memberitahukan, meski ada juga yang tidak mem-publish posisinya di mana,” ungkapnya.
Lalu, apakah nama-nama tersebut menjanjikan atau mumpuni memegang pos kementerian yang ditugasi? Ujang mengatakan terlalu dini untuk menilai kinerja mereka. Menurutnya, minimal harus dilihat setelah 100 hari pertama atau sekitar 3-4 bulan masa kerja.
“Kalau sekarang sangat subjektif kita menilai mereka karena mereka belum bekerja. Karenanya ukuran menjanjikan atau tidak batasnya 100 hari kerja,” ujarnya.
Meski begitu, dia menilai, jika idealnya calon menteri yang akan memimpin suatu pos kementerian hendaknya memiliki keahlian yang relevan sesuai dengan posisi mereka. Sayangnya, karena lagi-lagi, posisi menteri maupun wakil menteri adalah jabatan politik maka akan cukup sulit mencari yang benar-benar berasal dari professional. Kalaupun ada profesional yang masuk pasti sedikit banyak ada “kedekatan” khusus dengan politik atau politisinya.
“Pasti ada pos-pos yang diisi politisi yang tidak sesuai keahliannya. Karena ya itu jabatan politik, bisa diisi oleh siapapun, yang bahkan tidak berbackground sekalipun. Dan ini dalam politik sah-sah saja,” paparnya.
Sementara itu, mengenai orang-orang lama yang ikut dipanggil semalam, seperti Bahlil, Pratikno, Tito, hingga Sri Mulyani, Ujang tak menutup kemungkinan jika itu memang titipan. Kendati begitu, dia tak sepakat apabila tindakan tersebut sebagai upaya Jokowi untuk cawe-cawe dalam kabinet baru nanti. Sebab, pemilihan menteri ini sepenuhnya hak prerogatif presiden.
“Saya sih melihatnya ya, ini Prabowo suka tidak suka, seneng tidak seneng, harus mengakomodasi titipan Jokowi. Dalam politik hal yang tidak aneh. Apalagi Jokowi orang berjasa bagi Prabowo. Orang yang tidak berjasa aja nitip, apalagi yang berjasa,” tuturnya.
Dari nama-nama yang dipanggil dan bocoran jabatan yang akan diemban, besar kemungkinan akan banyak kementerian/lembaga baru di era kepemimpinan Prabowo. Bagi Ujang, itu akan jadi tantangan tersendiri bagi Prabowo-Gibran untuk menjawab pembengkakan birokrasi ini hanya sekadar bagi-bagi jabatan atau lainnya.
Termasuk gesit tidaknya birokrasi ke depan mengingat dalam beberapa waktu terakhir pemerintah terus menggemborkan reformasi birokrasi secara besar-besaran. Di mana, beberapa kementerian/lembaga dilebur jadi satu, pengalihan status ASN ke jabatan fungsional, hingga perampingan aplikasi di setiap pemerintahan.(far/lyn/tyo/mia/das)
Editor : Rindra Yasin