JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah Indonesia berupaya meminta tambahan kuota petugas haji ke Arab Saudi. Permintaan itu diajukan setelah Saudi memangkas kuota petugas haji Indonesia hingga 50 persen.
Persoalan pemotongan kuota petugas haji itu menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dengan Menteri Haji dan Umrah Saudi Tawfiq F Al Rabiah di Masjidilharam, Makkah, Ahad (24/11) malam waktu \ setempat. Total ada tujuh poin terkait haji 2025 yang dibahas dalam pertemuan itu. Di antaranya, kuota petugas haji.
Nasaruddin mengatakan, penambahan kuota petugas haji sangat penting. Sebab, banyak jemaah Indonesia kategori lansia dan risiko tinggi (risti). Dengan jumlah petugas haji yang memadai, terutama dari unsur tenaga medis, jemaah bisa tetap mendapatkan layanan prima.
’’Jadi, kami mohon petugas haji ditambah, minimal dipertahankan seperti haji tahun ini,’’ ujar Nasaruddin. Imam besar Masjid Istiqlal itu menambahkan, menteri haji dan umrah Saudi bakal mempertimbangkan permintaan Indonesia tersebut.
Seperti diketahui, jumlah petugas haji tahun ini mencapai 4.500 orang. Jika dikurangi 50 persen, kuota petugas haji tahun depan hanya 2.250 orang. Mereka harus melayani 221 ribu jemaah haji Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Nasaruddin juga meminta jemaah Indonesia tidak menempati kawasan Mina Jadid saat proses melontar jumrah. Sebab, lokasinya terlalu jauh dari jamarat, tempat melempar jumrah.
Jarak Mina Jadid dari jamarat sekitar 7 km. Jadi, sekali melontar jumrah, jemaah harus berjalan kaki pergi-pulang sejauh 14 km. Nasaruddin mengatakan, pihak Saudi juga merespons baik usulan tersebut.
Sementara itu, Menteri Tawfiq mengimbau pemerintah Indonesia segera meneken kontrak layanan hotel untuk jemaah haji. Sebab, jika ingin mendapat lokasi lebih dekat, khususnya ke Masjid Nabawi di Madinah, harus booking sejak awal. ’’Perlu lebih cepat karena pendekatannya adalah first come first served. Siapa cepat akan dapat layanan lebih awal,’’ kata dia.
Skema murur juga dibahas dalam pertemuan itu. Dengan skema murur, jemaah hanya lewat saat proses mabit di Muzdalifah. Dengan begitu, kondisi di padang Muzdalifah tidak terlalu sesak. Penyembelihan hewan dam haji di tanah air juga dibahas.
Tawfiq mengatakan, Turki pernah menerapkan kebijakan seperti itu. Yaitu, hewan dam jemaah haji disembelih di negaranya sendiri. Saudi justru tidak berkeberatan selama didukung fatwa ulama dari Indonesia. Penyembelihan hewan dam di dalam negeri juga mengurangi beban kebersihan dan sanitasi di Makkah.(wan/c7/oni/jpg)
Editor : Rindra Yasin