Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

BGN Terjunkan Tim Investigasi Keracunan Menu MBG di Bandung-Tasikmalaya

Redaksi • Minggu, 4 Mei 2025 | 15:25 WIB
DADAN HINDAYANA Kepala Badan Gizi Nasional
DADAN HINDAYANA Kepala Badan Gizi Nasional

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Insiden keracunan dalam program makanan bergizi gratis (MBG) terus terulang. Setelah di Bandung akhir bulan lalu, keracunan menu MBG terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Tasikmalaya, Kamis (1/5).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana pun menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim investigasi gabungan ke lokasi

kejadian di Tasikmalaya dan Bandung. BGN juga tengah menanti hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga sebagai penyebab keracunan. Diperkirakan, hasil itu keluar dalam sepuluh hari mendatang.

’’Kami berkomitmen untuk mengusut secara tuntas penyebab insiden (keracunan) dan melakukan evaluasi menyeluruh agar tidak terulang,’’ tegas Dadan di Jakarta kemarin (3/5).

Sebagai langkah pencegahan, dia memastikan BGN bakal memperketat prosedur distribusi makanan. Mulai protokol pengantaran, penyimpanan di sekolah, serta uji organoleptik (rasa, aroma, tampilan, serta tekstur) sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Dadan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Mulai sekolah, penyedia bahan makanan, ahli gizi, hingga pengawas. ’’Namun, tetap diperlukan investigasi mendalam untuk memastikan titik kritis masalah,’’ ujarnya.

Kepala SPPG Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq Tasikmalaya Michael Julius Tobing menyampaikan, pihaknya telah mengikuti seluruh prosedur penanganan bahan pangan dengan teliti. Setiap komponen menu telah memenuhi kualitas secara menyeluruh sebelum diolah.

Kontaminasi

Epidemiolog dan pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman menilai, kasus keracunan massal semacam MBG sangat mungkin disebabkan terjadinya kontaminasi biologis, kimia, atau fisik sepanjang rantai pengolahan makanan.

’’Kontaminasi bisa terjadi mulai penyimpanan bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penyajian. Rantai itu harus ditelusuri secara menyeluruh,’’ ujar Dicky yang memiliki pengalaman panjang di bidang keamanan pangan dan pernah berdinas di wilayah Tasikmalaya.
Dia melanjutkan, dari sisi biologis, bakteri seperti Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan salmonella merupakan agen penyebab umum keracunan. Staphylococcus aureus biasanya berkembang pada makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang dan disentuh tangan yang tidak higienis. Sementara Bacillus cereus sering ditemukan pada nasi dan sayuran matang yang disimpan terlalu lama.
Adapun potensi kontaminasi kimia, dia mencontohkan adanya sisa pestisida pada sayuran yang tidak dicuci bersih, residu detergen, hingga logam berat dari peralatan dapur yang berkarat. Kontaminasi fisik seperti rambut, plastik, atau serangga juga bisa memicu gejala seperti mual dan muntah.
’’Masalah utama adalah lemahnya pengawasan higienitas. Apalagi jika volume masak terlalu besar dan waktu antara masak dan konsumsi terlalu panjang, bisa memicu multiplikasi bakteri,’’ tegas Dicky.(lyn/dri/jpg)

Editor : Bayu Saputra
#SPPG #makan gizi gratis #BGN