PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Lebih dari satu pekan sejak kemunculannya di Dumai dan Indrgiri Hilir, harimau Sumatera di dua lokasi itu belum terdeteksi. Kamera jebak yang dipasang pada masing-masing lokasi belum merekam gerak-gerik atau kedatangan satwa buas dilindungi tersebut.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Ujang Holisudin menjelaskan, dirinya telah mendapat laporan dari masing-masing tim yang ditugaskan di dua lokasi itu. Hasilnya identifikasi masih nihil.
‘’Untuk Dumai, laporan kemarin (Selasa, red) tim baru balik dari lokasi di Dumai sudah lakukan pengecekan, belum ada tanda-tanda,’’ ucapnya Rabu (7/5).
Demikian juga lokasi kemunculan harimau Sumatera di Desa Rotan Semelur, Pelangiran, Inhil. BBKSDA Riau baru memasang kamera jebak di lokasi ini pada Ahad (27/4), namun juga belum menangkap gambar apa-apa.
‘’Untuk Pelangiran, tim baru pulang dari lokasi. Hasil pengecekan kamera jebak yang kita pasang, juga belum ada tanda-tanda juga,’’ ujar Ujang.
Kendati belum membuah hasil, namun BBKSDA Riau menurut Ujang belum menghentikan upaya mitigasi. Proses indentifikasi dan pelacakan individu harimau masih tetap dilakukan. ‘’Belum. Tim tetap siaga, secara berkala akan tetap turun. Siaga kapan-kapan ada laporan dari masyarakat, tim langsung terjun ke lokasi,’’ kata Ujang.
Seperti diketahui, peristiwa kemunculan harimau di Dumai terjadi di Medang Kampai, dekat pabrik Wilmar pada Sabtu (26/4) lalu. Individu harimau terekam kamera yang kemudian viral di media sosial. Sementara di Inhil, jejak kaki harimau Sumatera terlihat di beberapa lokasi di Desa Rotan Semelur, Kecamatan Pelangiran pada hari yang sama.
Terkait langkah apa yang akan diambil, Ujang menyebutkan pihaknya akan lebih dulu fokus untuk proses indentifikasi dan pelacakan individu harimau. Sebelum itu BBKSDA Riau terus melakukan sosialisasi mitigasi konflik sampai harimau dianggap benar-benar sudah menjauh dari lokasi kemunculannya.(end)
Editor : Arif Oktafian