MAKKAH (RIAUPOS.CO) – Puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah wukuf. Rukun utama ini akan dilaksanakan Kamis (5/6/2025) besok yang bertepatan dengan 9 Zulhijah. Di balik kemuliaan Arafah, terdapat tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Yakni suhu ekstrem dan kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia yang mayoritas lansia dan memiliki penyakit penyerta (komorbid).
Menyikapi hal itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang juga sebagai Anggota Amirul Hajj, Prof Taruna Ikrar menegaskan bahwa tingkat kematian tertinggi jemaah haji Indonesia terjadi di fase Arafah–Muzdalifah–Mina (Armuzna). Oleh sebab itu, ia mengimbau agar jemaah tidak memaksakan diri keluar tenda pada jam-jam rawan.
“Suhu di Padang Arafah bisa mendekati 50 derajat Celsius. Bahkan dengan durasi waktu tertentu bisa lebih panas lagi,” kata Taruna Ikrar dikutip dari Jawapos.com (Jawa Pos Group) saat ditemui di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Selasa (3/6/2025).
Ikrara Taruna mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem bisa memicu pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi), menguras cairan tubuh, mempercepat denyut jantung, hingga meningkatkan risiko pingsan, serangan jantung, dan kematian mendadak, terutama bagi jemaah dengan riwayat hipertensi, diabetes, jantung, stroke, atau penyakit ginjal.
“Jangan keluar dari tenda antara jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Cukup berdzikir, istighfar, dan mengaji. Pahalanya sama, bahkan lebih aman,” pesannya.
Dalam pandangan Taruna Ikrar, antara iman dan ikhtiar harus berjalan seimbang. Keinginan untuk beribadah di luar tenda tidak boleh mengabaikan ancaman kesehatan. Apalagi, lebih dari 50 persen jemaah haji Indonesia adalah lansia, banyak di antaranya berusia di atas 70 tahun dan memiliki penyakit penyerta.
“Kalau dalam kondisi ekstrem begini, kata tidak diperbolehkan itu bukan cuma imbauan, tapi menjadi bagian dari syariat. Artinya, justru bisa berdosa kalau memaksakan diri dan membahayakan jiwa,” ujar Taruna Ikrar.
Ia juga meminta jemaah dengan penyakit berat atau risiko tinggi agar tidak memaksakan diri mengikuti skema tanazul atau pergerakan berlebihan.
“Tingkat kematian paling tinggi terjadi di tiga tempat ini, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Hampir 80 persen. Jadi, jangan dipaksakan,” katanya.
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Data tahun-tahun sebelumnya mencatat lonjakan kematian jemaah terjadi saat wukuf di Arafah dan malam mabit di Muzdalifah dan Mina. Sebab itu, Tim Kesehatan Haji Indonesia sudah menyusun langkah antisipatif, termasuk menyarankan jemaah tetap berdiam di tenda yang dilengkapi air conditioner dan pelayanan medis.
“Tidak ada bedanya pahala antara di luar dan di dalam tenda. Dalam kondisi ekstrem, melindungi jiwa adalah bagian dari ibadah itu sendiri,” tegas Taruna.
Selain tidak keluar tenda, jemaah juga diminta minum cukup air putih, tidak menunggu haus, dan menjaga asupan elektrolit. “Karena kekurangan cairan bisa membuat tekanan darah drop, jantung bekerja lebih berat, dan ujung-ujungnya bisa fatal,” ujarnya.
Taruna Ikrar juga meminta jemaah lebih taat pada arahan petugas dan dokter.
“Kami dari tim kesehatan bekerja keras, turun langsung ke lapangan, bukan hanya menunggu di klinik. Tapi kerja keras ini juga harus didukung kedisiplinan jemaah dalam menjaga diri,” tambahnya.
Taruna Ikrar menyebut lima hari menuju puncak haji sebagai “fase kritis” yang membutuhkan kolaborasi spiritual dan medis secara maksimal.
“Kami ikhlas bekerja untuk jemaah. Kami hanya mohon satu hal: lindungi diri, karena nyawa tidak bisa diganti,” tutupnya.***
Editor : Edwar Yaman