JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kejaksaan Agung (Kejagung) RI memperlihatkan uang tunai sitaan dari hasil korupsi kasus ekspor CPO dan minyak goreng dari lima perusahaan di bawah bendera Wilmar Group, pada ekspos 17 Juni 2025 lalu. Tak tanggung-tanggung, Rp11,8 triliun disita negara dari Wilmar Group. Lantas, siapa pemilik Wilmar Group? Salah satunya adalah Martua Sitorus. Yuk kenali profil sang taipan.
Kabar pengembalian uang sebesar Rp11,8 triliun oleh Wilmar Group membuat publik terkejut. Pengembalian uang sebesar Rp11,8 triliun muncul dalam kasus ekspor minyak sawit.
Pengembalian uang tersebut menjadi bagian dari penyelesaian kerugian negara yang ditangani Kejaksaan Agung sejak 2022 lalu. Kasusnya belum inkrah.
Di balik nama besar Wilmar Group, ada dua sosok penting yang mendirikan dan membesarkan perusahaan ini sejak puluhan tahun lalu.
Mereka adalah Martua Sitorus dari Indonesia dan Kuok Khoon Hong dari Malaysia, dua nama yang kini masuk dalam jajaran elite pengusaha Asia.
Siapa Pemilik Wilmar Group?
Wilmar Group didirikan tahun 1991 oleh Martua Sitorus dan Kuok Khoon Hong.
Mereka memulai usaha dari nol. Nama Wilmar sendiri adalah gabungan dari "William" (nama lain Kuok Khoon Hong) dan "Martua".
Nama itu mewakili pendiri utama. Kini Wilmar Group menjadi perusahaan raksasa di sektor perkebunan dan pengolahan minyak sawit mentah (CPO) di berbagai negara.
Martua Sitorus menjadi Chief Operating Officer, sementara Kuok Khoon Hong lebih banyak berperan sebagai pimpinan strategis perusahaan.
Keduanya dikenal memiliki jaringan bisnis luas, termasuk di sektor makanan, agribisnis, dan logistik.
Wilmar Group beroperasi di lebih dari 50 negara. Martua, yang berasal dari Pematang Siantar, Sumatra Utara, dikenal sebagai pengusaha tangguh dan pekerja keras sejak masa remaja.
Sementara Kuok Khoon Hong berasal dari keluarga pengusaha Malaysia, yang kemudian berpindah kewarganegaraan menjadi warga Singapura.
Kasus Pengembalian Uang Rp11,8 Triliun Wilmar Group
Kejaksaan Agung mengumumkan bahwa lima anak perusahaan Wilmar Group telah mengembalikan kerugian negara senilai Rp11,8 triliun.
Kelima anak perusahaan itu adalah PT Multimas Nabati Asahan, PT Wilmar Nabati Indonesia, dan tiga lainnya dalam grup yang
Penghitungan kerugian dilakukan oleh BPKP dan tim Fakultas Ekonomi UGM sebelum nominalnya ditetapkan secara resmi.
Uang tersebut saat ini disimpan dalam rekening penampungan khusus milik Kejaksaan Agung sebagai bagian dari proses hukum.
Meskipun uang telah dikembalikan, proses hukum masih berjalan di Mahkamah Agung dan belum berkekuatan hukum tetap (inkrah).
Kejaksaan menilai langkah Wilmar Group menunjukkan itikad baik, meski belum bisa dieksekusi sampai ada putusan final.
Dua grup korporasi lain juga terlibat dalam kasus ini, yakni Permata Hijau Group dan Musim Mas Group, yang tengah mengembalikan dana.
Profil Pemilik Wilmar Group Martua Sitorus
Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara tahun 1966, Martua Sitorus berasal dari keluarga pedagang udang dan ikan yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sejak usia muda, ia diketahui sudah terbiasa membantu keluarganya dengan berjualan udang dan menjadi loper koran.
Pengalaman hidup sederhana ini membentuk karakternya yang tangguh dan pekerja keras.
Martua Sitorus menempuh pendidikan di SMA Budi Mulia Pematang Siantar dan melanjutkan studi di Universitas HKBP Nomensen, Medan, dengan jurusan ekonomi.
Setelah menamatkan kuliah, Martua Sitorus memulai usaha kecil-kecilan di bidang minyak kelapa sawit di Medan.
Meskipun dimulai dari skala kecil, usaha ini menjadi pijakan awal yang mengantarkan perjalanan karier dirinya pada kesuksesan lebih besar.
Pada tahun 1980, perjalanan karier Martua mengalami titik balik penting saat bertemu dengan Kuok Khoon Hong, seorang pengusaha asal Malaysia yang kemudian menjadi mitra bisnisnya.
Bersama-sama, mereka mendirikan Wilmar International, yang awalnya berfokus pada perdagangan kelapa sawit.
Pada tahun 1991, Wilmar International membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertama mereka dan mengakuisisi perkebunan kelapa sawit di Sumatera.
Seiring dengan ekspansi bisnis yang agresif, perusahaan yang didirikan oleh Martua Sitorus, menjalin kerjasama strategis dengan Grup Adani dari India, membentuk Adani Wilmar yang berfokus pada distribusi produk pangan.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2000 Martua Sitorus memperkenalkan produk minyak goreng kemasan untuk pasar Indonesia dan internasional dengan merek seperti Sania, Fortune, Jubille, dan Aadhar.
Selain itu, melalui perusahaannya, Martua Sitorus juga terus memperluas bisnisnya ke sektor pangan lainnya, hingga menjadikan Wilmar sebagai salah satu grup bisnis paling dominan di Asia dan dunia.
Martua Sitorus juga dikenal atas keberhasilannya dalam berbagai sektor bisnis.
Di sektor properti, ia dan saudaranya, Ganda Sitorus, mengelola Gamaland, yang telah mencatatkan prestasi besar dengan pembangunan proyek-proyek seperti Gama Tower di Jakarta dan proyek apartemen besar di Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Selain itu, Gamaland mengembangkan proyek apartemen Arandra Residence di Cempaka Putih, Jakarta Timur, serta proyek mall berkonsep hi-tech di Bandung yang berfokus pada bisnis startup.
Tidak hanya bergerak di properti, Martua Sitorus juga memulai bisnis di sektor infrastruktur dengan rencana pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta bersama PT Adhi Karya.
rporation berfokus pada berbagai sektor, termasuk kelapa sawit, properti, manufaktur semen, dan kesehatan.
Salah satu pencapaian besar KPN adalah perusahaan semen Cemindo Gemilang yang tercatat di bursa pada tahun 2021, serta penawaran umum perdana rumah sakit Murni Sadar pada tahun 2002.
Sumber: Radarsolo.jawapos.com
Editor : Eka G Putra