Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

IHSG Terus Menguat

Redaksi • Sabtu, 13 September 2025 | 11:38 WIB
Seorang pengunjung memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini. IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (12/9/2025).
Seorang pengunjung memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini. IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (12/9/2025).

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka di posisi 7.819 pada Jumat (12/9) pukul 09.00 WIB. Hingga pukul 10.24 WIB terus menguat 1,24 persen ke level 7.843,736. Melanjutkan tren penguatan setelah berhasil menguat 48,90 poin atau 0,64 persen ke level 7.747,90 pada penutupan perdagangan, Kamis (11/9) lalu.

Ketidakpastian politik yang sempat memicu aksi jual investor asing mulai mereda. Investor kembali masuk pasar dan melakukan akumulasi beli secara bertahap. Dari sisi eksternal, sentimen positif datang dari rencana The Federal Reserve (The Fed) yang akan memangkas suku bunga acuan untuk kali pertama tahun ini.

Keputusan itu dijadwalkan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), 18 September mendatang. “Fokus pasar saat ini tertuju ke arah pemangkasan suku bunga The Fed. Ini bisa menjadi katalis positif bagi IHSG,” ujar Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas Reyhan Pratama.

Menurut dia, langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) itu berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya lagi. Meski, masih akan bergantung pada kondisi inflasi dalam negeri dan stabilitas nilai tukar rupiah.

iPhone 17 Dorong Sentimen Positif

Selain faktor global, katalis sektoral juga turut menyemarakkan bursa. Salah satunya dari peluncuran produk terbaru Apple di AS pada 9 September 2025. Perusahaan gadget yang bermarkas di California itu resmi memperkenalkan iPhone 17 Series. Termasuk varian ultra-tipis iPhone 17 Air dan iPhone 17 Pro yang dibekali kamera canggih, layar ProMotion 120 Hz, serta chip terbaru A19 Pro.

Peluncuran ini menguntungkan emiten distributor gadget seperti PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Yang merupakan mitra resmi Apple di Indonesia. Apple juga meluncurkan AirPods Pro generasi terbaru. Aksesori ini diyakini akan menarik minat konsumen. “Peluncuran iPhone 17 bisa menjadi katalis positif. Karena permintaan konsumen untuk produk premium tetap terjaga,” ungkap Reyhan.

Baca Juga: iPhone 17 Resmi Diluncurkan, Ini Spesifikasi Lengkap dengan Kecanggihan Upgrade Fitur Terbaik Berkamera Depan 18 MP dan Kamera Belakang 48 MP
Sepanjang semester I 2025, kontribusi segmen aksesori dan lainnya terhadap penjualan ERAA naik dari 11,7 persen menjadi 14,6 persen. Tren tersebut diyakini masih akan terus tumbuh. Sehingga, tidak hanya mengandalkan penjualan smartphone.

Sucor Sekuritas dalam laporan terbarunya merekomendasi buy untuk saham ERAA. Dengan target harga Rp700. Yang dinilai memiliki posisi kuat di pasar gadget dan menunjukkan pertumbuhan yang sehat di segmen lain. Termasuk kendaraan listrik dan produk gaya hidup. Dari sisi valuasi, harga saham ERAA saat masih memiliki ruang untuk tumbuh. Sehingga memberikan entry point yang menarik bagi investor.

“Ini menunjukkan diversifikasi ERAA mulai berhasil, dengan proyeksi revenue yang memperlihatkan kontribusi aksesori makin besar hingga 2027. Hal ini positif karena pertumbuhan ERAA menjadi lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada penjualan handphone. Apalagi, biasanya konsumen membeli iPhone sekaligus dengan aksesori pendukungnya,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pasar saham AS, Kamis waktu setempat (11/09) ditutup menguat. Indeks Dow Jones ditutup naik 1,36 persen ke level 46.108. Begitu pula, S&P 500 menguat 0,85 persen ke 6.587,47.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun 2,48 basis poin (bps) ke level 4,02 persen. Yang mana sudah turun 54,8 bps secara year-to-date (YtD). Indeks dolar AS (USD) terhadap mata uang negara maju (DXY) melemah ke sekitar level 97,8 setelah rilis data inflasi AS sesuai ekspektasi pasar.
Inflasi AS naik 0,4 persen secara bulanan pada Agustus 2025. Meningkat dari kenaikan 0,2 persen month-to-month (MtM) di Juli. Realisasi itu melebihi ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen. “Ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2025, memicu kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump turut menambah tekanan biaya bagi rumah tangga,” kata Asmo.

Kenaikan inflasi, lanjut dia, didorong harga sewa tempat tinggal, makanan, dan energi. Harga sewa naik 0,4 persen. Sedangkan harga makanan meningkat 0,5 persen dipicu oleh kenaikan 0,6 persen pada indeks makanan di rumah dan 0,3 persen untuk makanan di luar rumah.

Sedangkan, harga energi AS melonjak 0,7 persen. Sejalan dengan lonjakan harga bensin sebesar 1,9 persen. “Tekanan tambahan juga datang dari tarif penerbangan, mobil bekas dan truk, pakaian, serta kendaraan baru. Sementara itu, penurunan terjadi pada layanan kesehatan, hiburan, dan komunikasi,” terangnya.

Meski demikian, inflasi inti AS Agustus 2025 tetap terkendali. Naik 0,3 persen MtM dan 3,1 persen secara tahunan. Sehingga memberi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan. “Pasar uang kini hampir sepenuhnya memperkirakan tiga kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, dimulai pada September 2025,” ungkap Asmo.(han/das)

Editor : Bayu Saputra
#ihsg #saham #bursa efek #investasi #pasar modal #investasi saham