JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pada perdagangan Selasa (3/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di level 7.888,77 atau turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, sekitar setengah jam kemudian terjadi rebound. Hingga penutupan perdagangan kemarin, IHSG naik 2,52 persen di level 8.122,60.
Kenaikan ini dipicu aksi pembelian investor lokal senilai total Rp758,5 miliar. Empat saham yang paling banyak diborong adalah perusahaan-perusahaan pelat merah. Yakni BMRI atau Bank Mandiri sebesar Rp273,3 miliar, ANTM (PT Aneka Tambang) Rp198,9 miliar, BBRI (Bank BRI) Rp181,5 miliar dan TLKM (PT Telkom Indonesia) Rp130,5 miliar.
Sedangkan saham bank swasta yang paling banyak diborong investor lokal adalah BBCA (Bank BCA), yakni sebesar Rp256,5 miliar. Sehari sebelumnya, Senin (2/2), IHSG ditutup anjlok 406,88 poin atau 4,88 persen ke posisi 7.922,73.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menjelaskan, pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh aksi panik jual investor ritel, terutama pada saham-saham yang terdampak kebijakan MSCI serta langkah percepatan reformasi integritas yang dilakukan OJK dan Self Regulatory Organization (SRO). “Saham-saham dengan fundamental bagus justru banyak yang diakumulasi. Pelemahan terkonsentrasi pada saham yang terdampak kebijakan MSCI,” terangnya.
Selain faktor domestik, sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) oleh Presiden Amerika Seriat (AS) Donald Trump mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas, sehingga saham-saham sektor emas dan pertambangan ikut melemah. “Sentimen global mulai berkurang hari ini,” tambahnya.
Ke depan, Hans menilai hasil pertemuan OJK dan SRO dengan MSCI serta rencana reformasi integritas pasar akan menjadi sentimen positif bagi pasar domestik. “Seharusnya persoalan dengan MSCI bisa segera diselesaikan. Investor ritel sebaiknya tidak panik dan mulai melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat,” ujarnya.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama. Penunjukan tersebut ditetapkan melalui rapat direksi (radir) yang digelar Jumat (30/1) lalu, menyusul pengunduran diri Direktur Utama BEI sebelumnya, Iman Rachman.
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Sunandar mengatakan, penunjukan Jeffrey dilakukan untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan di tengah proses administrasi pengunduran diri dirut sebelumnya yang masih berjalan. “Sementara penggantinya itu Pak Jeffrey Hendrik,” kata Sunandar di Jakarta, kemarin (3/2).
Menurut Sunandar, secara mekanisme, pengunduran diri Iman Rachman masih harus melalui tahapan internal. Setelah proses tersebut rampung, pengalihan kepemimpinan secara resmi kepada Jeffrey akan diumumkan. “Pengunduran dirinya masih berproses. Nanti setelah selesai, baru pengalihan kepemimpinan diumumkan,” jelasnya.
Dia menambahkan, penetapan Jeffrey Hendrik sebagai Pjs Dirut BEI telah berlaku efektif sejak Jumat (30/1). Jeffrey akan menjabat hingga Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026. “Pergantiannya nanti di RUPST,” imbuh Sunandar.
Sosok Jeffrey Hendrik
Jeffrey Hendrik merupakan sosok berpengalaman di industri pasar modal nasional. Dia menjabat sebagai Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2022.
Jeffrey memulai karir pada 1994 di PT Zone Pratama. Dua tahun berselang, dia melanjutkan kiprahnya sebagai Corporate Finance PT Transpacific Securindo pada periode 1996-1999. Namanya semakin dikenal setelah dipercaya memimpin PT Phintraco Sekuritas sebagai Direktur Utama sejak 1999 hingga 2022.
Jeffrey juga aktif dalam berbagai organisasi dan forum strategis pasar modal. Dia pernah menjadi Anggota Komite Perdagangan dan Penyelesaian Transaksi Efek BEI pada 2019-2020. Jeffrey juga tercatat sebagai pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), khususnya di Departemen Perdagangan Efek pada 2020-2022. Dia juga Anggota Task Force Keuangan Berkelanjutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak tahun 2021. Dari sisi akademik, Jeffrey meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada 1995.
Sementara itu, pengamat pasar modal Hans Kwee menilai penunjukan Pjs Dirut BEI tersebut sebagai langkah yang tepat. Sebab, BEI membutuhkan figur pemimpin untuk memastikan koordinasi berjalan optimal di tengah berbagai tantangan pasar.
“Saya pikir ini bagus. BEI perlu Dirut untuk mengoordinasikan pekerjaan, terutama di tengah tantangan terkait MSCI dan agenda reformasi yang dicanangkan OJK,” ujarnya. Hans memprediksi, kehadiran Pjs Dirut tidak akan menimbulkan gejolak besar terhadap pasar saham. Justru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan pulih secara bertahap. “IHSG akan pulih perlahan,” katanya.
Penyidik Cari Bukti Baru
Polri menindaklanjuti arahan pemerintah untuk memproses hukum pelaku yang terlibat dalam praktik saham ’’gorengan’’. Kemarin Bareskrim Polri menggeledah kantor Sekuritas Shinhan (kode broker AH) di Gedung Equity Tower, Jakarta Selatan.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak menjelaskan, penggeledahan itu merupakan pengembangan dari kasus pidana saham gorengan yang telah diputus pengadilan.
’’Penggeledahan dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti,” ujarnya. Dia menerangkan, sekuritas AH merupakan penjamin emisi (underwriter) dari PT MML yang melantai di bursa pada 10 April 2023.
Ade Safri mengatakan, ada dua pelaku yang telah divonis. Yakni MBP (mantan pegawai BEI) dan J (Direktur PT MML). Menurut dia, J menyampaikan fakta material palsu sehingga memperdaya para investor untuk ikut membeli saham perusahaan tersebut.
Polisi lantas menetapkan tiga tersangka baru. Yakni, BH, DA, dan RE. “Penyidik menemukan fakta bahwa sebenarnya PT MML dengan kode saham PIPA tidak layak melantai di bursa karena valuasi aset perusahaan tidak memenuhi persyaratan,” jelasnya. Ade Safri mengungkapkan, akibat aksi manipulasi itu, PT MML mampu menarik dana sebesar Rp97 miliar dari investor.(idr/oni/jpg)
Editor : Arif Oktafian