RIAUPOS.CO - Viral program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi perbincangan publik dan viral di media sosial
Kali ini, paket makanan yang dibagikan kepada siswa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, viral di media sosial setelah guru mengunggah isi menu yang diterima pada hari pertama sekolah di bulan Ramadan.
Sang guru mempertanyakan isi paket MBG yang diterima sekolahnya SDN 6 Kayumalue Ngapa, Kota Palu. Ia menilai menu yang diterima tidak sebanding dengan anggaran Rp15 ribu per anak per hari.
Paket MBG yang diterima diperuntukkan untuk dua hari sekaligus, yakni Senin (23/2/2026) dan Selasa (24/2/2026).
Untuk menu Senin, isi menu adalah: susu kotak, dua buah pisang, roti kemasan harga sekitar Rp1.000-an dan 4 butir telur puyuh.
Sedangkan untuk menu Selasa yang dikirim bersamaan, paket berisi: roti kemasan, tiga butir kurma dan satu bungkus kacang kemasan kecil.
“Ini yang dimaksud anggaran lima belas ribu per hari?” ujarnya dalam video tersebut.
Ia mengaku prihatin melihat isi paket makanan tersebut dan berharap ada perhatian dari pemerintah daerah hingga pusat.
Unggahan itu langsung dipenuhi komentar dukungan. Banyak warganet menilai guru tersebut berani menyuarakan kondisi yang terjadi di lapangan.
Kondisi ini memicu pertanyaan dari orang tua murid dan guru terkait kelayakan gizi serta kesesuaian dengan anggaran. Sang guru bahkan menyebut nilai riil makanan tersebut diduga tidak sampai Rp5.000 per porsi jika dihitung secara kasar berdasarkan harga pasar.
Sejumlah warganet mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran serta pengawasan distribusi program MBG di daerah.
Apalagi, program tersebut bertujuan untuk mendukung pemenuhan gizi siswa, khususnya di bulan Ramadan.
Program MBG sendiri dirancang untuk memastikan siswa mendapatkan asupan makanan bergizi demi menunjang konsentrasi belajar dan kesehatan.
Namun, viralnya paket menu di Palu justru menimbulkan kekhawatiran tentang standar kualitas dan pengawasan pelaksanaannya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengelola dapur MBG maupun pemerintah daerah setempat terkait isi paket yang viral tersebut. Publik kini menunggu penjelasan menyeluruh agar polemik tidak semakin meluas.
Editor : M. Erizal