TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Kasra Naji, reporter BBC di Tel Aviv, menggambarkan bagaimana ibu kota Israel itu seperti kota mati pada Selasa (10/3) malam lalu. Jalanan sepi, toko-toko tutup, dan warga berdesakan di bunker. “Warga kian tak tahan dengan situasi ini,” kata Naji.
Jurnalis lain dari sebuah televisi Spanyol yang juga berada di bunker menyebut, yang paling membuat warga cemas adalah adanya dua ledakan besar pada Selasa malam itu, tetapi sirine tanda bahaya tak berbunyi. Itu artinya sistem perlindungan Negeri Yahudi tersebut tak berfungsi.
Hal itu tak lepas dari hujan drone dan misil yang ditembakkan Iran dan Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Dua ledakan besar tadi berasal dari misil Hizbullah.
“Bahkan juru bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) Brigjen Effie Devrin juga ikut bersembunyi di bunker,” kata jurnalis televisi tersebut, seperti diunggah akun X Furkan Gozukara.
Iran juga meningkatkan efektivitas serangan rudal ke wilayah Israel dengan menggunakan cluster munitions atau bom tandan. Pengakuan itu disampaikan oleh IDF Home Front Command, seperti dilansir dari The Jerusalem Post. Penggunaan bom tandan ini menandai perubahan strategi Iran dibandingkan Perang 12 Hari pada Juni 2025.
Biasanya, rudal balistik Iran membawa 500 hingga 1.000 kilogram bahan peledak yang menghantam satu target utama dan menimbulkan kerusakan besar. Namun, dalam versi bom tandan, satu rudal dapat membawa puluhan bom kecil seberat sekitar delapan kilogram yang menyebar setelah rudal pecah di udara.
Sebaran bom tersebut bisa menjangkau area luas hingga 10 kilometer persegi. Setiap bom memang memiliki daya hancur lebih kecil dibanding satu hulu ledak besar. Namun, efeknya tetap mematikan karena serpihan bom dapat menghantam banyak titik sekaligus.
Martin Simpson, mantan penasihat pertahanan Inggris dan analis militer Timur Tengah, malah menyebut, Iran masih menyimpan persenjataan ampuh lainnya. Senjata-senjata yang dimaksud antara lain rudal jelajah, perang siber, dan ranjau.
“Iran berpotensi memiliki kemampuan untuk meningkatkan eskalasi secara jauh lebih luas dengan cadangan yang dimilikinya saat ini,” kata Simpson kepada Wall Street Journal. Editor : Arif Oktafian