PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tragedi di SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak, Rabu (8/4) pukul 09.30 WIB membuat dunia pendidikan berduka. Banyak pertanyaan muncul di publik tentang bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Sebagian juga menyayangkan mengingat hal tersebut terjadi di sekolah.
Dari sisi psikologi, kejadian tersebut dinilai sebagai sebuah tragedi yang sangat serius dan menjadi refleksi bersama. Hal itu dikatakan Psikolog Sekolah Kak Seto Pekanbaru yang juga merupakan Dosen Prodi Psikologi Islam IAI Diniyyah Lailatul Izzah MPsi Psikolog.
Ia mengatakan, refleksi yang dimaksud ialah bukan hanya bagi sekolah, tapi juga orang tua dan masyarakat, tentang bagaimana anak berinteraksi dengan informasi dan keterampilan yang mereka peroleh dari lingkungan, terutama dari internet.
“Peristiwa ini menunjukkan bahwa anak-anak saat ini memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi, termasuk hal-hal yang bersifat teknis dan berisiko tinggi, sperti merakit alat berbahaya,” ujarnya.
Baca Juga: Warung Sate Hancur Diterjang Puting Beliung
Dijelaskannya, dalam psikologi, anak usia SMP itu ada pada fase eksplorasi dan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka cenderung mencoba, bereksperimen, dan membuktikan kemampuan diri mereka, tapi belum sepenuhnya matang dalam menilai risiko. “Nah, karena itu pendampingan menjadi kunci utama,” lanjutnya.
Lantas pendampingan seperti apa yang harus dilakukan orang tua dan orang dewasa terhadap anak-anak? Pertama, orang tua dan guru perlu menerapkan literasi digital yang aktif. “Bukan sekadar membatasi ya. Tapi anak perlu diajak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat di internet. Apakah itu aman, apa risikonya, dan apa konsekuensinya. Bukan hanya “boleh atau tidak”, tetapi “mengapa”,” jelasnya.
Kedua, pendampingan harus bersifat kolaboratif, bukan pengawasan sepihak. “Anak perlu merasa aman untuk bercerita tentang ide atau eksperimen yang ingin mereka lakukan. Jika komunikasi terbuka, maka potensi bahaya bisa dicegah lebih awal,” sambungnya.
Baca Juga: TKA Hari Kedua Lancar
Ketiga, sekolah harus memiliki batasan yang jelas terkait aktivitas praktik. “Kreativitas memang penting, tetapi harus berada dalam koridor keamanan. Kegiatan praktik yang sekiranya berpotensi membahayakan seharusnya melalui proses seleksi terlebih dahulu, supervisi ketat, dan standar keselamatan yang jelas ya,” paparnya lagi.
Keempat, dalam konteks lingkungan sosial, perlu dibangun budaya keselamatan (safety culture). Anak-anak perlu dibekali pemahaman bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan itu aman untuk dicoba, meskipun terlihat berhasil di tempat lain.
“Peristiwa ini juga jadi pengingat buat kita bahwa pengembangan kreativitas anak harus selalu diimbangi dengan pendidikan tentang tanggung jawab dan keselamatan. Anak-anak bukan tidak cerdas, justru karena mereka cerdas dan kreatif, maka mereka membutuhkan arahan yang tepat agar potensi yang mereka miliki tidak berujung pada risiko yang fatal,” tuturnya.(azr)
Editor : Arif Oktafian